Pada masa Dinasti Ming seorang pria bernama Zhang Weiyan dari Jiangyin Provinsi Jiangsu adalah seorang penulis yang handal. Dia cukup terkenal. Pada tahun Jiawu, ia mengambil ujian pengadilan tetapi gagal. Melihat hasil ujian yang diterimanya, dia mengumpat para hakim yang memberikan nilai ujiannya. Dia merasa mereka tidak dapat mengenali orang-orang yang memiliki pengetahuan sejati.
Pada saat itu seorang Taoist (penganut Tao) lewat dan mendengarnya. Pria itu tersenyum dan berkata, “Saya bisa mengatakan bahwa tulisan anda sangat buruk!” Zhang lalu melampiaskan kemarahannya pada laki-laki itu, “Kenapa anda menertawakan saya? Anda belum membaca artikel saya, bagaimana anda tahu tulisan-tulisan saya buruk?” Sang Taoist berkata kepadanya, “Saya mendengar kunci untuk menulis adalah bahwa seseorang perlu dalam keadaan damai dan memelihara hati yang tenang. Anda sekarang mencaci para hakim itu. Anda pasti sangat marah. Bagaimana anda bisa menulis artikel yang baik jika karakter anda seperti ini?” Dia berpikir apa yang dikatakan orang itu sangat rasional, sehingga Zhang meminta bantuannya.
Sang Taoist berkata, “Anda menulis tentunya perlu menjadi baik, tetapi jika anda ditakdirkan gagal, bahkan keterampilan menulis yang baik pun tidak akan membantu. Solusi yang mendasar adalah mengubah sikap anda.” Zhang bertanya kepadanya, “Bagaimana saya bisa mengubah sikap saya?” Sang Taoist menjawab, “Jika anda dapat mengikuti kata-kata langit dan melakukan perbuatan baik, apa yang tidak bisa anda dapatkan?”
Zhang Weiyan mendesah, “Saya hanya seorang sarjana miskin. Dari mana saya dapat cukup uang untuk melakukan perbuatan baik?” Sang Taoist berkata, “Jadilah penuh kasih sayang dan kultivasikan kebajikan anda, yang paling penting adalah hati anda. Hal ini mengharuskan kita membawa kebaikan dalam hati kita setiap saat. Kita perlu lebih rendah hati dan siap untuk menolong orang lain. Motivasi untuk membantu orang lain harus murni. Ikuti prinsip surgawi. Seseorang tidak perlu uang untuk menjadi rendah hati. Anda dapat melakukan hal ini tanpa harus menjadi kaya. Kenapa anda tidak memeriksa diri sendiri, malah memaki-maki para hakim itu?” Zhang Weiyan tersentuh. Dia mengucapkan terima kasih kepada sang Taoist itu.
Sejak saat itu Zhang Weiyan sangat baik kepada orang lain dan ketat dengan dirinya sendiri. Dia mengkultivasikan kebajikannya dan menjadi orang dengan moralitas yang tinggi. Ia mendirikan sekolah dan mendidik rakyat jelata. Ia mengajarkan orang-orang untuk menghindari kesalahan dan melakukan perbuatan baik seminim apapun situasinya. Dia mendorong orang-orang untuk bersikap baik satu sama lain. Ia sangat dipuji oleh semua orang.
Suatu hari tiga tahun kemudian, Zhang Weiyan bermimpi. Dia bermimpi bahwa ia memasuki sebuah rumah besar. Ada sebuah buku dengan nama-nama yang tercantum di dalamnya, tetapi ada banyak baris kosong juga. Dia menanyai seseorang yang berdiri di dekatnya tentang ruang kosong itu. Orang itu berkata kepadanya, “Ini adalah daftar nama-nama yang akan diterima pada musim gugur ini. Jika sebuah nama muncul di sini dan orang itu tidak melakukan kesalahan apapun, namanya akan disimpan. Ruang kosong itu adalah mereka yang akan diterima, tapi karena mereka melakukan kesalahan, nama mereka telah dihapus. Selama tiga tahun terakhir, anda telah baik pada orang lain. Nama anda telah ditambahkan.
Zhang Weiyan lulus ujian pengadilan tahun itu. Kemudian ia melakukan banyak perbuatan baik bagi rakyatnya.
Sumber : Secret China
Sabtu, 28 Agustus 2010
Rabu, 25 Agustus 2010
Mengutuk dan Mendoakan Kebaikan
Kejengkelan memenuhi dada. Hambatan datang dari hati sendiri. Dengan mengutuk akan menderita kerugian. Dengan memberi restu segala sesuatu akan jadi lancar. Saat mengemudikan mobil, kebanyakan orang Barat sangat taat pada peraturan, juga sangat sopan, karena itu bila mengetahui ada seorang pengemudi hendak berpindah jalur, acapkali pengemudi lain otomatis akan mengalah dan memberikan jalan. Oleh karenanya jika saat sedang mengemudikan mobil mereka menjumpai pengemudi yang mengemudikan mobil dengan kasar (tidak tahu adat), mereka merasa sangat tidak nyaman, bahkan bisa menjadi emosional.
Suatu hari ketika David sedang mengemudikan mobil ke kantor, sepanjang perjalanan menemui kemacetan, kecepatan mobil tidak bisa tinggi, saat itu tiba-tiba datang sebuah mobil secara kasar memotong jalannya dan memaksa masuk di depan mobilnya.
David yang saat itu sudah agak resah tak kuasa menahan mulutnya telah mencetuskan makian “sialan!”. Dalam hatinya segera mengutuk, “Kurang ajar, semoga perjalananmu menjumpai kemacetan besar, biar saja dan rasain terlambat masuk kantor.”
Ternyata sebagaimana harapan David, sepanjang perjalanan mengalami kemacetan besar, mobil yang berada tepat di depan mobil David benar-benar hanya bisa berjalan pelahan-lahan, kelihatannya pengemudinya harus terlambat sampai di kantor, David yang membuntut di belakang mobil itu tertawa dalam hati, dia sangat gembira bahwa kutukannya itu menjadi kenyataan.
Pada akhirnya, orang yang dikutuk David itu benar-benar terlambat atau tidak David tidak tahu pasti. Tetapi ketika David tiba di kantor, dia sendiri sudah terlambat hampir setengah jam lamanya.
Ketika David sedang mencetak kartu absennya, tiba-tiba dia mendapatkan bahwa dirinya sangat menggelikan, bagaimana dia sampai bisa mengutuk mobil yang berada tepat di depannya dan yang berada tepat satu jalur dengannya supaya menemui kemacetan? Bukankah ini sama saja dengan mengutuk diri sendiri?
David berpikir lagi, jika sampai kutukannya itu cukup serius, membuat orang yang berada di depan mobilnya itu mengalami kecelakaan, maka kemungkinan besar dirinya juga akan terlibat dalam tabrakan itu, ikut tertimpa kesialan, walaupun mungkin saja tidak ikut tertabrak, tetapi mungkin akibat dari kejadian ini menjadikan perjalannya tertunda lebih lama lagi, mungkin keterlambatan yang terjadi bukan hanya setengah jam saja.
Maka David lalu berpikir seharusnya dia memberi restu orang yang berada di depannya, mengharapkan dia selamat sepanjang perjalanan, bisa melaju dengan lancar, dengan demikian dia yang berada di belakang mobil itu, juga bisa seperti orang yang berada di depannya melaju dengan cepat tanpa hambatan, dan dapat tiba di kantor tepat pada waktunya.
Setelah pikirannya terbuka, David berjanji kepada dirinya sendiri, lain waktu jika menjumpai keadaan semacam ini, sekalipun merasa sangat jengkel juga harus merestui, merestui orang yang berada di depannya agar bisa lancar sepanjang perjalanan, jika orang lain lancar dia sendiri juga lancar, orang lain selamat dia sendiri juga akan selamat.
Lagi pula dengan berbuat demikian, paling tidak, tidak akan bisa membuat diri sendiri jadi kesal, dan bisa mempertahankan perasaan riang bergembira ketika sampai di tempat kerja.
Seringkali saat berada di puncak kemarahannya, seseorang bisa kehilangan nalarnya, dia menjadi tidak jelas dengan keadaan dia yang sebenarnya, sering-sering tidak sadar dengan tindakan yang telah dilakukan, kemungkinan besar akan bisa merugikan bukan hanya diri sendiri tetapi juga pihak lain, karena jika kita bersama-sama berada di atas satu perahu, jika perahu ini karam, maka secara otomatis kita akan bersama-sama tenggelam ke dalam air.
Oleh sebab itu, mengapa tidak bermurah hati? Daripada mengutuk, lebih baik kita mendoakan hal yang baik bagi orang lain. Dengan demikian bukan saja dalam hati kita tidak akan terpendam hawa amarah, tetapi ketika kita hati kita tidak jadi marah, kita juga akan merasakan betapa anggun sikap kita ini.
Selain itu ketika kita bisa dengan berkepala dingin menghadapi suatu masalah, seringkali masalah itu bisa berubah dengan sendirinya menjadi lancar, mungkin itulah yang dikatakan dengan “sesuatu dapat berubah menjadi keberuntungan adalah seiring dengan adanya perubahan hati!”
Sumber : The Epoch Times/lin
Suatu hari ketika David sedang mengemudikan mobil ke kantor, sepanjang perjalanan menemui kemacetan, kecepatan mobil tidak bisa tinggi, saat itu tiba-tiba datang sebuah mobil secara kasar memotong jalannya dan memaksa masuk di depan mobilnya.
David yang saat itu sudah agak resah tak kuasa menahan mulutnya telah mencetuskan makian “sialan!”. Dalam hatinya segera mengutuk, “Kurang ajar, semoga perjalananmu menjumpai kemacetan besar, biar saja dan rasain terlambat masuk kantor.”
Ternyata sebagaimana harapan David, sepanjang perjalanan mengalami kemacetan besar, mobil yang berada tepat di depan mobil David benar-benar hanya bisa berjalan pelahan-lahan, kelihatannya pengemudinya harus terlambat sampai di kantor, David yang membuntut di belakang mobil itu tertawa dalam hati, dia sangat gembira bahwa kutukannya itu menjadi kenyataan.
Pada akhirnya, orang yang dikutuk David itu benar-benar terlambat atau tidak David tidak tahu pasti. Tetapi ketika David tiba di kantor, dia sendiri sudah terlambat hampir setengah jam lamanya.
Ketika David sedang mencetak kartu absennya, tiba-tiba dia mendapatkan bahwa dirinya sangat menggelikan, bagaimana dia sampai bisa mengutuk mobil yang berada tepat di depannya dan yang berada tepat satu jalur dengannya supaya menemui kemacetan? Bukankah ini sama saja dengan mengutuk diri sendiri?
David berpikir lagi, jika sampai kutukannya itu cukup serius, membuat orang yang berada di depan mobilnya itu mengalami kecelakaan, maka kemungkinan besar dirinya juga akan terlibat dalam tabrakan itu, ikut tertimpa kesialan, walaupun mungkin saja tidak ikut tertabrak, tetapi mungkin akibat dari kejadian ini menjadikan perjalannya tertunda lebih lama lagi, mungkin keterlambatan yang terjadi bukan hanya setengah jam saja.
Maka David lalu berpikir seharusnya dia memberi restu orang yang berada di depannya, mengharapkan dia selamat sepanjang perjalanan, bisa melaju dengan lancar, dengan demikian dia yang berada di belakang mobil itu, juga bisa seperti orang yang berada di depannya melaju dengan cepat tanpa hambatan, dan dapat tiba di kantor tepat pada waktunya.
Setelah pikirannya terbuka, David berjanji kepada dirinya sendiri, lain waktu jika menjumpai keadaan semacam ini, sekalipun merasa sangat jengkel juga harus merestui, merestui orang yang berada di depannya agar bisa lancar sepanjang perjalanan, jika orang lain lancar dia sendiri juga lancar, orang lain selamat dia sendiri juga akan selamat.
Lagi pula dengan berbuat demikian, paling tidak, tidak akan bisa membuat diri sendiri jadi kesal, dan bisa mempertahankan perasaan riang bergembira ketika sampai di tempat kerja.
Seringkali saat berada di puncak kemarahannya, seseorang bisa kehilangan nalarnya, dia menjadi tidak jelas dengan keadaan dia yang sebenarnya, sering-sering tidak sadar dengan tindakan yang telah dilakukan, kemungkinan besar akan bisa merugikan bukan hanya diri sendiri tetapi juga pihak lain, karena jika kita bersama-sama berada di atas satu perahu, jika perahu ini karam, maka secara otomatis kita akan bersama-sama tenggelam ke dalam air.
Oleh sebab itu, mengapa tidak bermurah hati? Daripada mengutuk, lebih baik kita mendoakan hal yang baik bagi orang lain. Dengan demikian bukan saja dalam hati kita tidak akan terpendam hawa amarah, tetapi ketika kita hati kita tidak jadi marah, kita juga akan merasakan betapa anggun sikap kita ini.
Selain itu ketika kita bisa dengan berkepala dingin menghadapi suatu masalah, seringkali masalah itu bisa berubah dengan sendirinya menjadi lancar, mungkin itulah yang dikatakan dengan “sesuatu dapat berubah menjadi keberuntungan adalah seiring dengan adanya perubahan hati!”
Sumber : The Epoch Times/lin
Senin, 23 Agustus 2010
Kesuksesan Selalu Dimulai Dari Tindakan
Harga kesuksesan ditentukan tiga faktor utama yakni, keberanian bermimpi, merencanakan apa yang kita impikan, serta kesungguhan dan kegigihan dalam bertindak (ACTION).
Namun dalam pilihan ACTION, jalan yang kita lewati tak semulus jalan tol. Kerap ada hambatan, rintangan, dari yang sekecil kerikil sampai (mungkin) sebesar batu karang. Tapi apakah hanya karena itu kita akan berhenti dan menyerah untuk tak lagi bertindak (ACTION?)
“No pain, no gain.” Tak ada sukses tanpa perjuangan. Sukses tak akan turun dari langit begitu saja. Namun sukses merupakan hasil dari proses panjang yang berbuah manis pada akhirnya.
Saat rintangan itu datang, di sanalah komitmen dan keteguhan anda diuji. Memilih untuk STOP dan NO ACTION, atau memilih melanjutkan perjuangan untuk mewujudkan cita-cita anda.
Ya, anda diukur bukan dari berapa kali terjatuh, namun berapa kali anda bangun dan bangkit kembali. Dalam hidup, rintangan dan masalah pastilah selalu ada. Tapi itu akan menempa anda menjadi orang yang kuat dan memang pantas untuk mendapatkan apa yang memang ingin anda capai.
Dan bila kita yakin dengan tujuan dan jalan yang kita tempuh, tinggal ketekunan yang berbicara. Ketekunan untuk bertahan dan terus ACTION.
Mungkin saja kita mudah terpesona dengan kisah sukses seseorang. Namun tak banyak orang yang (mau) tahu bagaimana dia mencapainya. Bagaimana dia melewati lika-liku kesulitan di awalnya. Bagaimana dia bertahan dan mengatasi segala kesulitan yang menerpa. Bahkan sampai penuh peluh dan ‘berdarah-darah’. Saya jadi ingat kisah inspiratif tentang anak raja dan sang jendral di sini.
Bayangan kenyamanan karena kesuksesan memang mudah membuat terlena. Namun ketika kita fokus pada ACTION, rasanya tak akan ada waktu lagi untuk berleha-leha. Energi dan waktu yang tersedia pastinya akan kita curahkan untuknya.
Diawali dari tindakan kecil, yang terus dilakukan secara berkelanjutan, dari sana, apa yang anda ingin capai ditentukan. Tak ada pencapaian besar tanpa diawali dari yang kecil. Seperti pendaki gunung, mereka menitinya dari bawah, dan terus mendaki, sampai akhirnya mencapai puncak.
Dan pada akhirnya apapun ACTION anda, lakukanlah dengan bermartabat. Bukan karena kecongkakan atau kesombongan anda. Sebab tindakan kita adalah cermin diri kita sendiri. Bila kita suka berkata kasar dan menyakitkan, maka seperti itu juga watak asli kita sendiri.
Pilihan ACTION itu seperti bumerang. Yang bila kita lemparkan dengan baik, maka akan kembali dengan baik. Sebaliknya bila melempar dengan cara yang salah, bisa jadi malah melukai diri sendiri.
Dari pada kita memaki kegelapan, lebih baik segera mengambil dan menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan.
Namun dalam pilihan ACTION, jalan yang kita lewati tak semulus jalan tol. Kerap ada hambatan, rintangan, dari yang sekecil kerikil sampai (mungkin) sebesar batu karang. Tapi apakah hanya karena itu kita akan berhenti dan menyerah untuk tak lagi bertindak (ACTION?)
“No pain, no gain.” Tak ada sukses tanpa perjuangan. Sukses tak akan turun dari langit begitu saja. Namun sukses merupakan hasil dari proses panjang yang berbuah manis pada akhirnya.
Saat rintangan itu datang, di sanalah komitmen dan keteguhan anda diuji. Memilih untuk STOP dan NO ACTION, atau memilih melanjutkan perjuangan untuk mewujudkan cita-cita anda.
Ya, anda diukur bukan dari berapa kali terjatuh, namun berapa kali anda bangun dan bangkit kembali. Dalam hidup, rintangan dan masalah pastilah selalu ada. Tapi itu akan menempa anda menjadi orang yang kuat dan memang pantas untuk mendapatkan apa yang memang ingin anda capai.
Dan bila kita yakin dengan tujuan dan jalan yang kita tempuh, tinggal ketekunan yang berbicara. Ketekunan untuk bertahan dan terus ACTION.
Mungkin saja kita mudah terpesona dengan kisah sukses seseorang. Namun tak banyak orang yang (mau) tahu bagaimana dia mencapainya. Bagaimana dia melewati lika-liku kesulitan di awalnya. Bagaimana dia bertahan dan mengatasi segala kesulitan yang menerpa. Bahkan sampai penuh peluh dan ‘berdarah-darah’. Saya jadi ingat kisah inspiratif tentang anak raja dan sang jendral di sini.
Bayangan kenyamanan karena kesuksesan memang mudah membuat terlena. Namun ketika kita fokus pada ACTION, rasanya tak akan ada waktu lagi untuk berleha-leha. Energi dan waktu yang tersedia pastinya akan kita curahkan untuknya.
Diawali dari tindakan kecil, yang terus dilakukan secara berkelanjutan, dari sana, apa yang anda ingin capai ditentukan. Tak ada pencapaian besar tanpa diawali dari yang kecil. Seperti pendaki gunung, mereka menitinya dari bawah, dan terus mendaki, sampai akhirnya mencapai puncak.
Dan pada akhirnya apapun ACTION anda, lakukanlah dengan bermartabat. Bukan karena kecongkakan atau kesombongan anda. Sebab tindakan kita adalah cermin diri kita sendiri. Bila kita suka berkata kasar dan menyakitkan, maka seperti itu juga watak asli kita sendiri.
Pilihan ACTION itu seperti bumerang. Yang bila kita lemparkan dengan baik, maka akan kembali dengan baik. Sebaliknya bila melempar dengan cara yang salah, bisa jadi malah melukai diri sendiri.
Dari pada kita memaki kegelapan, lebih baik segera mengambil dan menyalakan lilin untuk menerangi kegelapan.
Tips Meminimalkan Kesalahan Kerja
Kesalahan seperti lupa meletakkan dokumen penting, menghilangkan file di komputer, salah menghubungi klien, salah kirim email, merupakan beberapa kesalahan yang terjadi akibat kecerobohan. Selebihnya, kesalahan yang kerap terjadi di kantor disebabkan karena sistem kerja Anda tidak sempurna dan kurangnya koordinasi. Tidak atau belum menguasai pekerjaan dengan baik juga bisa menjadi pemicu terjadinya pelbagai kesalahan di kantor. Selain itu, konsentrasi yang terpecah-pecah juga bisa menimbulkan kesalahan.Untuk meminimalkan kesalahan yang akan terjadi, coba simak kiatnya berikut ini:
1. Sempurnakan Sistem Kerja
Sistem kerja yang lebih teratur akan menghindarkan Anda dari kesalahan-kesalahan. Jadi, perbaiki sistem kerja Anda. Buatlah urutan kerja yang jelas, saat Anda baru tiba di kantor sampai Anda beranjak pulang. Hal ini akan meminimalkan kesalahan yang akan terjadi.
2. Lakukan Koordinasi
Koordinasikan pekerjaan Anda dengan atasan dan rekan. Apalagi jika Anda berada dalam satu tim. Koordinasi ini mutlak Anda lakukan. Sehingga semua mengetahui dan memahami tugas masing-masing dan tidak terjadi kesalahpahaman.
3. Asah Keterampilan dan Kemampuan Kerja
Dengan kemampuan dan keterampilan yang maksimal, Anda akan lebih menguasai pekerjaan. Sehingga, pelbagai kesalahan yang mungkin terjadi dapat diantisipasi.
4. Tingkatkan Konsentrasi
Konsentrasi yang terpecah belah bisa dipastikan sangat mengganggu kinerja Anda. Tanpa konsentrasi, Anda akan lebih mudah melakukan kesalahan. Maka, saat jam kerja fokuskan pikiran Anda hanya pada kerjaan. Enyahkan pikiran-DBU2013pikiran lain yang mengganggu.
5. Hindari Stres
Bekerja dalam keadaan stres merupakan penyebab utama terjadinya kesalahan. Maka, jika Anda stres karena dililit pelbagai masalah, selesaikan dahulu masalah Anda. Hati dan pikiran yang tenang akan memudahkan Anda dalam menyelesaikan pekerjaan.Sumber: Diksi, Bekerja itu Bahagia, hal 81-83
Minggu, 22 Agustus 2010
Ayo Jadi Entrepeneur!
UNTUK menjadi seorang entrepreneur yang andal, sungguh tidaklah mudah. Hanya orang yang mampu mengubah dirinya untuk berpikir kreatif, kritis dan inovatif yang akan berhasil dan dapat meraih sukses.Beberapa tahun terakhir ini banyak bermunculan usahawan-usahawan baru yang dibangun oleh para pemula yang usianya masih terbilang muda. Kondisi ini merupakan satu fenomena yang menggembirakan buat pertumbuhan ekonomi bangsa kita. Di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan saat ini, justru telah membangkitkan semangat kaum muda untuk menjadi seorang entrepreneur atau wirausahawan.
Sayangnya, para entrepreneur muda tersebut dalam memulai usahanya hanya dilandasi oleh kemampuan modal dan hardskill tanpa adanya perubahan pola pikir. Sehingga sebagian besar para entrepreneur muda tersebut sering menemui kegagalan yang mengakibatkan usahanya menjadi bangkrut.
Oleh karena itu, sebelum melakukan usaha seorang entrepreneur sebaiknya telah melakukan transformasi diri untuk berpikir kreatif dan jeli melihat peluang usaha. Taufik Bahaudin, staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) mengakui, fenomena bangkitnya semangat kewirausahawan atau entrepreneurship di kalangan generasi muda Indonesia saat ini sangat membanggakan.
Namun banyak entrepreneur muda yang gagal dalam berusaha bukan karena tidak menguasai produk atau jasa yang dihasilkannya. Kegagalan itu terjadi karena para usahawan muda tersebut belum mengubah mindset-nya.
“Kegagalan itu terjadi karena para entrepreneur muda tersebut belum mengubah pola pikirnya (mindset). Jadi untuk menjadi seorang entrepreneur, ia harus mempunyai kekuatan berpikir sebagai entrepreneurship. Orang yang belum mengubah pola pikirnya sebagai entrepreneurship, ia hanya mampu menguasai konsep dan teori saja. Hal itulah yang menyebabkan usahanya gagal,” jelas Taufik Bahaudin.
Mengubah Mindset
Memang untuk menjadi wirausahawan atau entrepreneur, tentunya kita harus punya keberanian. Tak hanya berani bermimpi, tapi juga berani mencoba, berani gagal, dan berani sukses. Hal ini penting dan harus kita miliki. Selain itu, kita juga harus optimis dalam menghadapi masa depan, yakin pada kemampuan, dan juga menghentikan alur pemikiran yang negatif.
Hal yang selalu menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengubah pola pikir menjadi seorang entrepreneur? Banyak orang belum menyadari bahwa membangun entrepreneurship itu dibangun dari soft competesis-nya.
“Untuk menjadi entrepreneur, seseorang tak bisa hanya berpijak pada kompetensi hard skill, tapi juga pada kemampuan soft skill dan attitude yang baik. Karena yang membedakan entrepreneur dengan yang bukan entrepreneur adalah prilakunya dalam merespons lingkungan di sekitarnya,” pungkas Taufik. Untuk mengubah pola pikir atau mindset, orang tersebut harus mempunyai keinginan dan kemampuan untuk menjadi seorang entrepreneur sesuai kebutuhannya.
Kebanyakan orang tidak pernah berpikir untuk mandiri, kreatif, kritis dan inovatif. Taufik pun mengungkapkan banyak contoh yang menunjukkan bahwa entrepreneurship berawal dari mindset bukan dari modal yang besar. Masih ingat dengan perjuangan Bob Sadino mendirikan Kemfood dan Kemchick? Atau bagaimana Larry Page dan Sergey Brin mendirikan Google, serta perjuangan Bill Gates mendirikan Microsoft.
Faktor uang bukan yang paling utama, tetapi sikap mental dan berpikir kreatif menjadi sangat penting. ?Oleh sebab itu,konsep entrepreneur jangan semata-mata dihubungkan dengan pedagang. Wirausaha harus diartikan sebagai sikap mental yang mampu membaca peluang dan bisa memanfaatkan peluang itu sehingga bernilai bisnis. Ini juga bisa dibangun dalam sebuah perusahaan,?imbuh Taufik.
Faktor Keturunan dan Lingkungan
Taufik pun menambahkan kalau saat ini masih banyak di antara yang menilai faktor keberhasilan seseorang menjadi entrepreneur karena berasal suku tertentu. Apalagi kita masih sering melihat bahwa kebanyakan orang Padang, Bugis, atau keturunan China itu lebih berhasil di bidang bisnis dibanding lainnya.
Sehingga disimpulkan, bahwa hal itu karena sifat keturunan atau atau bakat. “Pendapat yang menyatakan hanya suku tertentu saja yang mampu menjadi entrepreneur, menurut saya itu salah. Siapa pun dan dari suku apa pun sebenarnya mampu menjadi entrepreneur yang sukses,” kata pria berkacamata ini. Namun Taufik mengakui, kesuksesan seseorang menjadi entrepreneurjuga dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan.
Jika seseorang sejak kecilnya berada dalam lingkungan bisnis orang tuanya atau keluarganya secara terus menerus, dia akan merekamnya dalam memori otaknya, yang selanjutnya membentuk pola berpikir dan cara perilaku. Pengetahuan bisnis secara pragmatis melalui proses pengenalan bisnis keluarga secara mendalam dan ditransformasikan ke dalam kerangka berpikirnya.
Dengan pengalaman dan pola pikir yang kuat akan mendorong orang tersebut melakukan pengembangan karakter kewirausahaan, seperti keberanian mengambil risiko, kemampuan menganalisa, komunikasi dan kepemimpinan, serta meningkatkan kesadaran dan kepekaan sosial.
“Untuk memulai sebuah wirausaha, seseorang sebaiknya melakukan tiga langkah awal yakni dengan mendaftar kemampuan atau potensi diri. Selanjutnya, orang tersebut harus mempunyai mimpi yang besar, karena dengan mimpi yang besar ia akan termotivasi untuk meraihnya. Dan yang ketiga mengembangkan potensi diri dengan mentranformasi mind-set atau pola pikir menjadi percaya diri, berorientasi kepada prestasi,berani mengambil risiko,berjiwa independen, kreatif dan inovatif serta ulet dan tekun,” tandas Taufik.
Dengan adanya transformasi karakter tersebut diharapkan dapat seseorang yang memiliki jiwa, karakter dan sikap wirausaha yang cerdas dan tangguh.Sehingga pada akhirnya dapat mewujudkan orang memiliki budaya entrepreneur (culture of entrepreneurship) dan budaya keunggulan (culture ofexcellence) di Indonesia.
Sumber : okezone
Kamis, 19 Agustus 2010
Telaga Hati dan Pahitnya Hidup
Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya, ” ujar pak tua.
“Pahit, pahit sekali, ” jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.
Pak tua tersenyum, lalu mengajak tamunya berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu. Sesampai di sana, Pak tua kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.” Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya kepadanya,
“Bagaimana rasanya?”
“Segar,” sahut si pemuda.
“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?” tanya pak tua.
“Tidak,” sahut pemuda itu.
Pak tua tersenyum dan kemudian berkata, “Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnya pun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.”
“Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu yang kamu dapat lakukan. Llapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak tua itu lalu kembali menasehatkan, “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu, dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”
Hidup adalah sebuah pilihan. Mampukah kita jalani kehidupan dengan baik sampai ajal menjelang?
Belajar bersabar menerima kenyataan adalah yang terbaik.
Selasa, 17 Agustus 2010
Kerja Offline VS Online
Mana yang harus diutamakan, kerja sehari-hari seperti biasa di kantor ataukah mencari pekerjaan online di kamar tidur? Pertanyaan ini kerap berulang kali menerpa, begitu mengenal yang namanya internet. Hal ini sampai bisa terjadi, karena katanya banyak orang "kaya mendadak dari internet". Melihat kisah sukses para master yang telah menjalankan berbagai bisnis online, sampai bisa menghasilkan jutaan rupiah dan dollar, membuat hati bersemangat untuk mengejar mimpi menjadi jutawan seperti mereka. Apalagi jika melihat iklan-iklan PPC yang "berbeda-beda namun seragam" menawarkan produk yang dalam hitungan menit bisa menghasilkan jutaan rupiah dengan hanya modal koneksi internet, cukup membuat mata terbelalak, sehingga ketika aku baru awal-awal mengenal bisnis internet, rasanya ingin sekali keluar saja dari pekerjaan kantoran yang sangat membosankan ini dan berubah haluan bekerja online 100 presen.
Namun untungnya di balik manisnya cerita sukses para guru bisnis online, ternyata banyak sekali bahkan lebih banyak jumlahnya mereka-mereka yang pengetahuannya seperti Saya, modal nekad ingin menjalankan bisnis online sepenuhnya, malah gagal di tengah jalan dan putus asa serta akhirnya kembali menekuni pekerjaan offline. Mungkin para sahabat blogger yang lainnya pernah mengalami proses krisis atau proses pencarian jati diri seperti ini. Dan Saya bisa menarik kesimpulan bahwa untuk para newbie yang sudah punya pekerjaan offline, teruslah bekerja sungguh-sungguh di lapaknya, jangan sampai terpengaruh dengan iklan-iklan yang belum tentu hasilnya dalam berbisnis online sehingga meninggalkan karirnya di dunia nyata hanya demi mimpi yang belum terbukti.
Studi banding berbagai bisnis online, mencari guru yang tepat dan bertanggung jawab, menimba ilmu bisnis terlebih dahulu, mengecek kebenaran situs-situs bisnis di berbagai forum adalah langkah awal yang harus dilakukan bagi pemula jika ingin mendalami bisnis online. So, jangan lihat tawaran iklan yang menggiurkan yang menjanjikan cepat kaya, tapi lihat dulu siapa orangnya yang bertanggung jawab di balik situs itu, dan bagaimana tanggapan orang-orang terhadap bisnis itu di internet. Kalo positif bolehlah kita gabung.
Ingat bahwa untuk menjadi kaya, segalanya perlu proses dan pengorbanan yang tidak sedikit, baik waktu maupun materi. Mereka para guru bisnis internet yang sekarang sudah berhasil pun, butuh bertahun-tahun untuk membangun pondasi bisnis internet yang kuat dan menghasilkan, jadi bukan hitungan menit.
Jadi, mana yang kita pilih ?
1. Kerja offline
2. Kerja online
3. Kerja offline nyambil online
4. Kerja online nyambil offline
5. Setengah setengah
Semuanya tentu berpulang kepada diri kita. Kita yang punya rencana dan kita yang akan menentukan masa depan kita.
Namun untungnya di balik manisnya cerita sukses para guru bisnis online, ternyata banyak sekali bahkan lebih banyak jumlahnya mereka-mereka yang pengetahuannya seperti Saya, modal nekad ingin menjalankan bisnis online sepenuhnya, malah gagal di tengah jalan dan putus asa serta akhirnya kembali menekuni pekerjaan offline. Mungkin para sahabat blogger yang lainnya pernah mengalami proses krisis atau proses pencarian jati diri seperti ini. Dan Saya bisa menarik kesimpulan bahwa untuk para newbie yang sudah punya pekerjaan offline, teruslah bekerja sungguh-sungguh di lapaknya, jangan sampai terpengaruh dengan iklan-iklan yang belum tentu hasilnya dalam berbisnis online sehingga meninggalkan karirnya di dunia nyata hanya demi mimpi yang belum terbukti.
Studi banding berbagai bisnis online, mencari guru yang tepat dan bertanggung jawab, menimba ilmu bisnis terlebih dahulu, mengecek kebenaran situs-situs bisnis di berbagai forum adalah langkah awal yang harus dilakukan bagi pemula jika ingin mendalami bisnis online. So, jangan lihat tawaran iklan yang menggiurkan yang menjanjikan cepat kaya, tapi lihat dulu siapa orangnya yang bertanggung jawab di balik situs itu, dan bagaimana tanggapan orang-orang terhadap bisnis itu di internet. Kalo positif bolehlah kita gabung.
Ingat bahwa untuk menjadi kaya, segalanya perlu proses dan pengorbanan yang tidak sedikit, baik waktu maupun materi. Mereka para guru bisnis internet yang sekarang sudah berhasil pun, butuh bertahun-tahun untuk membangun pondasi bisnis internet yang kuat dan menghasilkan, jadi bukan hitungan menit.
Jadi, mana yang kita pilih ?
1. Kerja offline
2. Kerja online
3. Kerja offline nyambil online
4. Kerja online nyambil offline
5. Setengah setengah
Semuanya tentu berpulang kepada diri kita. Kita yang punya rencana dan kita yang akan menentukan masa depan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)
