Selasa, 23 Agustus 2011

10 Cara Bagi Bisnis Ritel Untuk Sukses

Siap atau tidak, ritel di Indonesia bakal menghadapi persaingan yang demikian sengit. Apalagi dengan semakin maraknya ritel-ritel asing di Indonesia yang punya kekuatan merek dan fulus yang “tak terbatas”. Oleh karenanya ritel di Indonesia perlu mewaspadai atau memahami berbagai tren yang akan terjadi pada dunia ritel di masa depan. Berikut adalah 10 hal yang bisa menentukan masa depan ritel.

1. Promosi harga sudah seharusnya
Setiap ritel, baik ritel kecil maupun besar ataupun ritel untuk segmen bawah atau premium. Semuanya tak akan lepas dari promosi harga. Strategi ini seolah sudah menjadi strategi generik. Sama halnya dengan obat yang menawarkan kemanjuran strategi ini tidak bisa dijadikan strategi yang unik. Namun demikian strategi ini juga tidak bisa ditinggalkan.

Kini pilihannya adalah kapan program promosi harga ini dilakukan dan kreativitas apa yang bisa dikembangkan. Beberapa peritel merek premium berkreasi dengan menawarkan program diskon besar-besaran pada malam hari. Program midnight sale ini ternyata disambut antusias dan seolah mulai menjadi wabah di ibu kota.

Kreativitas dalam promosi harga juga tidak selalu dalam bentuk diskon. Promosi harga bisa juga dilakukan dalam bentuk cash back atau buy one get two. Namun apapun kreativitas yang dilakukan, peritel di masa depan tak akan bisa meninggalkan program promosi harga begitu saja.

2. Menjual experience lebih penting
Produk yang dijual memang menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke ritel. Namun demikian, jangan terpaku pada produk tanpa menghadirkan pengalaman yang unik bagi konsumen. Yang lebih menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke Bread Talk atau Jco bukanlah roti abon atau donat rasa almond, tetapi pengalaman terhadap merek itu sendiri.

Berdasarkan riset dari Nielsen, 93 persen dari konsumen Indonesia menjadikan ritel sebagai tempat rekreasi. Mereka akan semakin banyak berbelanja jika terpuaskan oleh pengalaman yang diciptakan oleh peritel. Experience ini bisa dikembangkan melalui banyak dimensi seperti permainan dengan panca indera (tampilan, bunyi, bau, dll), maupun melalui interaksi dengan konsumen. Itulah sebabnya, menjual pengalaman akan menjadi hal yang lebih dicari oleh konsumen ketimbang produk yang dijual.

3. Berlarilah dengan teknologi
Teknologi akan berperan besar bagi ritel di masa depan. Sekalipun konsumen menganggap pergi ke ritel sebagai rekreasi, mereka tetap saja merupakan konsumen yang tidak sabaran. Di zaman serba cepat ini, mereka membutuhkan pelayanan yang cepat dari sebuah ritel.

Ada tiga macam teknologi yang akan mempengaruhi kekuatan ritel masa depan. Pertama adalah teknologi di bidang inventori, dimana peritel membutuhkan teknologi yang bisa dengan cepat mengidentifikasikan inventori dan memberi sinyal dengan cepat jika terjadi kekosongan barang. Kedua adalah teknologi di bidang transaksi. Ritel masa depan membutuhkan teknologi yang bisa membuat transaksi selesai dalam waktu lebih cepat serta tidak menciptakan antrian yang panjang. Ketiga adalah teknologi yang bisa membantu menciptakan retensi dan hubungan dengan pelanggan. Misalnya untuk menginformasikan point reward atau produk-produk baru melalui ponsel.

Teknologi seperti RFID (Radio Frequency Identification) atau LBS (Location Based Service) tampaknya akan bermunculan di masa mendatang karena teknologi semacam inilah yang bisa membantu peritel memberi pelayanan yang cepat dan tepat.

4. Mengikat konsumen dengan program loyalty
Di masa depan peritel harus punya program loyalty yang unik dan experiential bagi konsumen. Semakin banyaknya pilihan ritel membuat konsumen tidak bisa loyal kepada satu ritel. Lihat saja hasil survei di AS yang menunjukkan bahwa cuma 15 persen konsumen yang selalu datang ke ritel yang sama. Oleh karena itulah peritel harus memiliki program loyalty yang kuat untuk mengikat mereka.

Program loyalty dilakukan bukan dengan kartu anggota atau kartu diskon semata. Program loyalty harus disusun berdasarkan kebutuhan konsumen yang unik. Oleh karena itu pengumpulan dan penggalian database akan semakin penting bagi peritel. Database yang baik akan menjadi kekuatan menyusun program loyalty.

5. Co-branding dengan semakin banyak pihak
Untuk menciptakan program loyalty secara terus-menerus, peritel mau tidak mau harus melakukan co-branding dengan banyak pihak. Co-branding bisa dilakukan dengan sesama partner di dalam industri maupun partner di industri lain. Tujuannya adalah untuk memperkuat dampak promosi yang dilakukan dan mengefisiensikan program-program promosi.

Selain itu, co-branding juga membuat kreativitas ritel tidak terpaku pada program-program yang konvensional. Indomaret berkerjasama dengan Mandiri mengeluarkan kartu yang bukan hanya menjadi kartu isi ulang tetapi juga bisa dipergunakan untuk membayar listrik dan telepon di toko-toko Indomaret. Artinya Indomaret kini bukan sekadar menjual produk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga point of payment untuk berbagai pembayaran rutin.

6. Fokus kepada individu dan interaktif
Di masa depan, konsumen ingin dilihat sebagai individu dan bukan sebagai orang yang sama dengan yang lain. Mereka mengharapkan ritel memberikan banyak fleksibilitas bagi konsumen untuk menentukan apa yang mereka mau. Oleh karena itu peritel harus mempersiapkan topping dan fitur yang banyak untuk dipilih oleh konsumen. Seperti halnya eskrim, produknya boleh sama, tetapi konsumen bisa menaruh bermacam-macam tambahan di atas eskrim tersebut. Kalau perlu, konsumen akan terjun langsung ke pembuatannya sehingga mereka lebih bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

7. Totalitas dalam pelayanan akan menjadi tuntutan konsumen
Konsumen Indonesia akan semakin melihat pelayanan prima sebagai sebuah keharusan di dunia ritel. Menurut survei yang dilakukan oleh Accenture di beberapa negara, ternyata keputusan pembelian nomor satu dipengaruhi oleh pelayanan. Di Indonesia sendiri kesadaran ritel di bidang pelayanan sebenarnya sudah bertumbuh, namun demikian komitmen pelayanan ini masih terbatas pada keramahan saja. Padahal totalitas dalam pelayanan mencakup banyak aspek, mulai dari konsumen masuk sampai ke layanan purna jual.

8. Fast fashion
Peritel akan menghadapi rentang waktu yang semakin pendek dari sebuah produk untuk menjadi fashion product. Ibaratnya, kalau hari ini konsumen berebut membeli produk yang lagi “in”, maka besok, konsumen berharap produk yang lagi in tersebut sudah berubah.

Dengan perubahan yang cepat, peritel harus selalu fleksibel untuk menyediakan item-item baru dalam waktu yang relatif singkat. Ritel seperti Chico di Inggris selalu menawarkan merchadising baru setiap dua atau tiga minggu. Dengan demikian pengunjung selalu disegarkan dengan tampilan baru.

9. Green Program
Kesadaran lingkungan juga akan menghinggapi konsumen ritel. Edukasi kepedulian lingkungan seperti global warming akan semakin kuat. Akibatnya konsumen juga semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Bagi peritel, isu-isu lingkungan harus bisa ditangkap dengan baik dan diterjemahkan ke dalam program peritel.

Green program yang sekarang lagi tren dijalankan adalah pengurangan penggunaan plastik untuk membawa belanjaan. Carrefour misalnya, sudah mulai menjual kantong yang bisa dipakai terus sehingga tidak membuat pencemaran lingkungan oleh pembuangan plastik berlebihan. Beberapa peritel bahkan memberikan poin tambahan jika konsumen membawa kantong sendiri dari rumah.

10. Channel retail yang semakin kabur
Jangan kaget kalau nantinya kita sulit mencari channel yang benar-benar spesialis di satu kategori produk. Kecenderungannya setiap peritel ingin mengikat konsumen sehingga ahirnya mereka berusaha menjadikan ritelnya sebagai one stop shopping. Selain itu tuntutan konsumen agar ritel menghadirkan sesuatu yang berbeda membuat peritel akhirnya justru menambah item produknya dari berbagai macam kategori. Seperti halnya apotik menjual makanan, toko buah menjual produk rumah tangga. Di luar negeri, hipermarket juga berjualan mobil.

Sumber :
http://1001peluang-bisnis.blogspot.com/2010/04/10-cara-bagi-bisnis-ritel-untuk-sukses.html

Strategi Pemasaran Bisnis Retail

Membicarakan strategi pemasaran, memang tidak akan pernah ada habisnya. Berbagai cara dan usaha bisa dijadikan sebagai strategi untuk memasarkan sebuah produk. Salah satu strategi yang sudah dijalankan masyarakat dari dulu hingga sekarang adalah pemasaran dengan sistem retail atau eceran. Yang dimaksud dengan strategi pemasaran retail atau eceran sendiri adalah segala kegiatan jual-beli yang bertujuan menyalurkan barang kepada konsumen akhir, guna memenuhi kebutuhan pribadi para konsumen.



Sebagian besar pelaku usaha memilih untuk menggunakan strategi pemasaran ini, sebab peluang pasar yang paling potensial datang dari konsumen akhir, yang rata-rata membeli suatu produk untuk keperluan mereka sehari-hari. Tak heran bila saat ini perkembangan bisnis retail juga sangat pesat, lihat saja bisnis toko kelontong, minimarket, hingga bisnis retail yang sudah besar seperti Matahari, Alfamart, Indomart, dan Hero banyak dicari para konsumen.



Tingginya permintaan pasar akan produk retail, membuat sebagian besar pelaku usaha memilih strategi pemasaran tersebut untuk melepas produk mereka ke pasaran. Meskipun cara ini terbilang mudah, namun persaingan pasar bisnis retail sudah sangat tinggi. Maka dari itu bagi Anda yang ingin terjun dalam bisnis retail, sebaiknya perhatikan hal-hal berikut untuk memenangkan pasar :



Pertama, tentukan target pasar. Meskipun bisnis retail biasa menawarkan berbagai produk kebutuhan masyarakat, namun sebisa mungkin tentukan target konsumen yang ingin Anda jangkau. Misalnya saja lebih menekankan harga murah untuk menjangkau konsumen menengah kebawah, atau menyediakan produk dengan kualitas terbaik untuk menjangkau sasaran pasar menengah keatas.



Kedua, ciptakan loyalitas pelanggan. Memiliki konsumen yang loyal, merupakan strategi tepat untuk meningkatkan pemasaran. Bukan hanya itu saja, dengan adanya loyalitas konsumen juga membantu bisnis retail untuk menghadapi persaingan pasar. Ciptakan program-program promosi yang dapat meningkatkan loyalitas konsumen, contohnya saja dengan memberikan kartu diskon bagi para member, atau mengadakan event promosi setiap akhir pekan.



Ketiga, pilih lokasi usaha yang strategis. Pemilihan lokasi usaha sangat mempengaruhi tingkat penjualan pada bisnis retail. Sesuaikan lokasi usaha dengan bisnis retail yang ingin dijalankan, sebab lokasi usaha juga ikut menentukan potensi pasar. Seperti lokasi yang ada di tengah pemukiman warga, Anda bisa membuka toko kelontong. Sedangkan untuk lokasi usaha yang ada di daerah perkotaan, Anda bisa mencoba bisnis retail dengan minimarket atau supermarket.



Keempat, cantumkan brand pada setiap produk. Penanaman image kepada para konsumen, menjadi cara jitu untuk pemasaran bisnis retail 250x187 Strategi Pemasaran Bisnis Retailmemasarkan bisnis retail. Yang perlu diingat adalah brand bukan hanya sekedar nama, jadi cantumkan brand yang telah ditetapkan di setiap produk. Seperti mencantumkan logo disetiap label harga produk, atau mencantumkan logo pada interior ruangan. Sehingga brand tersebut menjadi pembeda bisnis retail Anda dengan bisnis para pesaing.



Kelima, berikan pelayanan prima kepada konsumen. Jangan abaikan istilah pembeli adalah raja. Istilah ini memberikan masukan kepada para pelaku usaha untuk selalu memberikan pelayanan terbaik bagi para konsumen. Biasakan layani konsumen dengan 3S 1A (sambut, senyum, sapa dan antusias). Lakukan dari hal yang terkecil, seperti menyambut konsumen dengan salam dan mengucapkan terimakasih setelah mereka selesai berbelanja. Cara ini sudah dilakukan pada sebagian kecil bisnis retail, seperti Indomart. Jadi konsumen merasa dihargai ketika berbelanja di tempat Anda, dan tidak segan untuk datang berbelanja kembali.



Karena strategi pemasaran bisnis retail lebih mengacu pada konsumen akhir sebagai potensi pasar, sebaiknya lakukan pemasaran bisnis dengan pendekatan langsung kepada konsumen. Yakinlah bila loyalitas konsumen telah terbentuk, maka yang menjadi agen pemasaran paling efektif bagi bisnis Anda adalah para konsumen tersebut. Oleh karena itu, penuhi kebutuhan konsumen dan biarkan mereka menjadi agen pemasaran Anda. Salam sukses.



Sumber : http://bisnisukm.com/strategi-pemasaran-bisnis-retail.html



Senin, 22 Agustus 2011

Keterbatasan Lahirkan Etos Kerja Tinggi

Etos kerja atau semangat kerja orang-orang Jepang-Korea-China yang dikenal sangat tinggi, sangat menarik untuk dikaji secara mendalam.



"Memahami tingginya etos kerja bangsa Jepang-Korea-China merupakan salah satu bekal 'soft skill' untuk dijadikan tauladan bagi para mahasiswa dalam menuntut ilmu dan memasuki dunia kerja nantinya," ungkap Suhartini SS MA Kaprodi Bahasa Jepang Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), dalam acara diskusi yang bertempat di kampus FIB (Fakultas Ilmu Bahasa) UTY Jalan Prof Dr Soepomo SH (Janturan) Yogyakarta bertema ''Etos Kerja Bangsa Jepang, Korea, dan China''.



Para narasumber yang terdiri atas Lucinda MLett peneliti budaya Jepang, Yuliawati Dwi Widyaningrum MA peneliti budaya Korea, dan Drs Erwan Tirta seorang praktisi budaya China menyampaikan, bahwa Jepang-Korea-China merupakan tiga negara di kawasan Asia timur yang memiliki kesamaan ras, sejarah, dan kondisi alam.



Mereka berasal dari ras Mongoloid, yang dalam sejarahnya diikat oleh satu faham Konfusianisme yang sangat menjunjung tinggi penghormatan pada tradisi nenek moyang. Adapun kondisi alam ketiga negara tersebut merupakan daratan yang tandus dengan perubahan iklim yang ekstrim, dan sering tertimpa bencana alam.



Dari hasil penelitian para narasumber, menunjukkan bahwa keterbatasan alam telah mendorong mereka untuk bekerja lebih keras, lebih kreatif dan inovatif. Perubahan iklim yang ekstrim membuat mereka lebih disiplin terhadap waktu, dan selalu memiliki persiapan untuk menghadapi musim yang ekstrim, khususnya musim dingin.



Cadangan Devisa



Sementara seringnya terjadi bencana alam membuat mereka lebih tabah dan tangguh serta tidak pantang menyerah dalam menjalani hidup yang seringkali harus diawali dari nol lagi. Setelah usai Perang Dunia II tahun 1945, ketiga negara tersebut termasuk negara miskin, namun dengan etos kerja yang sangat tinggi, kini mereka memiliki pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran cukup tinggi setara dengan negara-negara maju.



Kini cadangan devisa China tertinggi di dunia yaitu US$ 3,1 triliun, Jepang urutan 2 sebesar US$ 1,139 triliun, sedangkan Korea US$ 299 miliar. Nilai barang dan jasa yang diproduksi atau Produk Domestik Brutto (PDB) th 2010, Jepang US$ 5 triliun, China US$ 4,99 triliun, dan Korea US$ 1,1 triliun. Pendapatan perkapita tahun 2010 Jepang US$ 37.800, Korea US$ 20.759, sedang China terus meningkat mengikuti Jepang dan Korea.



Menurut Suhartini, diskusi tersebut dapat menggugah kesadaran para mahasiswa bahwa keterbatasan bukanlah kendala, namun sebaliknya merupakan cambuk untuk terus maju untuk menggapai impian bersama, sebagaimana impian bangsa Jepang-Korea-China untuk menjadi negara yang makmur dan maju, serta kini sudah menjadi kenyataan.



Sumber : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/06/29/89545/Keterbatasan-Lahirkan-Etos-Kerja-Tinggi



Rabu, 17 Agustus 2011

YLKI: Cuti Bersama Ingkari Etos Kerja

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Lampung Subadra Yani menilai, kebijakan cuti bersama mengingkari etos karyawan, khususnya pegawai negeri sipil (PNS).



"Pegawai itu dalam satu minggu ada dua kali libur secara nasional, yakni Sabtu-Minggu, ditambah adanya tanggal merah, mestinya tidak perlu ada libur secara bersamaan yang dapat mengarah pada korupsi waktu," kata Subadra di Bandar Lampung, Kamis (2/6/2011).



Menurut Subadra, dengan adanya libur panjang, otomatis mengganggu kinerja pegawai yang berdampak pada molornya penyelesaian kepentingan umum.



Dia mencontohkan, sehari menjelang cuti bersama, para PNS sudah mencuri waktu untuk pulang lebih awal dari hari kerja normal.



"Kalaupun memang sudah menjadi kesepakatan bersama pemangku kebijakan, semestinya para pegawai tetap konsisten dengan waktu kerjanya sebelum jatuh waktu libur," kata Subadra.



Dampaknya, menurut dia, sejumlah pelayanan publik menjadi terhambat. Dia juga mengimbau agar unit-unit pelayanan publik untuk tetap buka selama waktu libur panjang.



"Rumah sakit hingga unit terkecil seperti puskesmas diupayakan diberlakukan sistem piket dan jangan sampai tutup," katanya.



Selain itu, unit pelayanan umum lainnya, seperti kantor samsat, pelayanan PLN, serta PDAM juga agar memberlakukan sistem piket bagi petugasnya.



Akhir pekan ini, PNS Lampung kembali libur panjang. Gubernur Lampung Sjahroedin ZP mengeluarkan surat edaran Nomor 061.2/1635/11/2011, yang menetapkan hari Jumat (3/6/2011) sebagai hari libur cuti bersama, menyambut Kenaikan Isa Almasih.



Sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/06/02/13571921/YLKI.Cuti.Bersama.Ingkari.Etos.Kerja



Selasa, 16 Agustus 2011

Cara Mudah Menjalankan Bisnis Sampingan

Menghadapi kebutuhan hidup yang semakin mahal, mendorong sebagian besar karyawan untuk berupaya mencari tambahan penghasilan guna mencukupi semua kebutuhan mereka. Tentu tambahan penghasilan yang dimaksud, bukan hanya menunggu adanya kenaikan gaji dari perusahaan. Mencari peluang bisnis yang bisa dikerjakan di sela-sela waktu luang, menjadi solusi tepat bagi permasalahan yang sering dihadapi para karyawan.



Berstatus sebagai karyawan, bukan menjadi suatu penghalang untuk sukses berbisnis. Bahkan kondisi tersebut cukup menguntungkan, sebab Anda tidak perlu bingung mencari dana untuk modal usaha. Gaji yang Anda dapatkan tiap bulannya, bisa Anda kumpulkan untuk memulai bisnis sampingan.



Menjalankan bisnis sampingan tidaklah sesulit yang dibayangkan banyak orang. Sebab sekarang ini banyak peluang usaha sampingan yang bisa dijalankan para karyawan, di sela-sela waktu luang mereka. Dengan memanfaatkan peluang yang ada di lingkungan sekitar, serta mengetahui batasan-batasan dalam menjalankan bisnis sampingan. Karyawanpun bisa sukses menjalankan usaha tanpa harus menggangu pekerjaan utama.



Untuk mengetahui cara mudah menjalankan bisnis sampingan, berikut kami informasikan batasan-batasan yang perlu diperhatikan karyawan ketika menjalankan bisnis diluar pekerjaan :



1. Yang terpenting Anda bisa membagi waktu, pikiran dan tenaga, untuk tetap bisa fokus pada pekerjaan kantor maupun bisnis yang Anda dirintis. Sehingga tidak ada salah satu pihak yang dirugikan. Jangan sampai gara-gara terlalu capek menjalankan bisnis sampingan, tugas kantor Anda jadi terbengkalai. Apalagi jika Anda harus bolos kerja, gara-gara urusan bisnis. Tentu ini akan membahayakan posisi Anda di kantor bukan?



2. Yang tidak kalah penting lagi adalah pilih peluang bisnis yang tidak mengganggu tugas dan tanggungjawab Anda sebagai seorang karyawan. Pilih peluang bisnis yang tidak terlalu rumit dijalankan, karena waktu luang Anda juga terbatas. Jika Anda harus bekerja selama 8 jam setiap harinya, maka sebaiknya pilih peluang usaha yang tidak membutuhkan konsentrasi cukup tinggi. Hal ini untuk mengantisipasi turunnya konsentrasi saat bekerja, karena bagaimanapun juga pekerjaan kantor menjadi tugas utama Anda.



3. Kerjakan dua peran Anda secara optimal. Ketika menjadi karyawan, selesaikan pekerjaan dengan baik. Sedangkan sebagai pelaku bisnis, Andapun harus bisa fokus memanfaatkan waktu selepas jam kerja untuk menjalankan bisnis sampingan. Sehingga kedua peran tersebut bisa berjalan beriringan.



4. Jangan pernah menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan bisnis Anda. Hal ini perlu Anda perhatikan, sebab hal tersebut merupakan kecurangan besar yang bisa berakibat fatal. Jangan sampai tindakan tersebut membuat Anda kehilangan pekerjaan. Biasakan untuk memisahkan urusan pekerjaan, dengan urusan bisnis Anda.



5. Sebelum menjalankan bisnis sampingan, sampaikan rencana tersebut pada atasan Anda. Yakinkan atasan Anda, bahwa usaha sampingan tersebut tidak akan mengganggu pekerjaan Anda, dan tidak akan merugikan perusahaan. Ini menjadi salah satu cara, agar Anda tetap bisa berkomitmen kepada tugas utama sebagai karyawan.



Cukup mudah bukan? Selain mudah dijalankan, ternyata bisnis sampingan juga memberikan banyak keuntungan bagi Anda yang berstatus sebagai karyawan. Apa saja keuntungan yang bisa Anda peroleh?



* Memperoleh tambahan income, untuk mencukupi kebutuhan yang semakin meningkat

* Menjalankan bisnis sampingan, tidak mengharuskan Anda meninggalkan pekerjaan yang sudah ada. Karena bisnis sampingan bisa Anda jalankan di sela-sela waktu luang Anda.

* Biasanya peluang bisnis sampingan bisa dimulai dengan modal yang relatif kecil. Sehingga bisa disesuaikan dengan modal yang dimiliki para karyawan.

* Sebagai alternatif untuk mengantisipasi adanya PHK maupun masa pensiun. Jadi ketika Anda berhenti bekerja, sudah ada bisnis yang siap Anda jalankan.

* Sebagai sarana untuk memperoleh kepuasan pribadi. Banyak karyawan yang menjalankan bisnis sampingan untuk menyalurkan hobi yang mereka miliki. Sehingga bisa mengurangi adanya stress kerja.



Demikian berita info bisnis untuk pekan ini, semoga dengan adanya informasi batasan-batasan serta keuntungan dalam menjalankan bisnis sampingan, bisa membantu para karyawan untuk mengetahui cara mudah menjalankan bisnis sampingan. Jangan pernah takut untuk mencoba, karena peluang tidak akan datang dengan sendirinya. Selamat berkarya dan salam sukses.



Sumber : http://bisnisukm.com/cara-mudah-menjalankan-bisnis-sampingan.html



Senin, 15 Agustus 2011

Mempersiapkan Generasi Wirausahawan Baru Indonesia

When planning for a year, plant corn.

When planning for a decade, plant trees.

When planning for life, train and educate people.

(Chinese proverb by Guanzi - 645BC)




Penelitian yang dilakukan oleh Global Entrepreneurship Monitor (GEM) di 42 negara pada tahun 2006, termasuk Indonesia, mendapati terbanyak wirausahawan memulai kegiatan usaha mereka di usia 25-34 tahun. Usia ini adalah saat sebagian besar orang lulus dari perguruan tinggi atau bekerja kurang dari 10 tahun.



Hal tersebut menunjukkan bahwa wirausahawan Indonesia saat ini adalah "produk" dunia pendidikan di era tahun 1978-1988, saat sekolah-sekolah sangat dibatasi kreatifitasnya dan lebih banyak mengejar kuantitas isi (materi) daripada inovasi.



Tidaklah heran jika kita dapati generasi wirausahawan Indonesia saat ini sangat miskin inovasi. Ditambah lagi kenyataan bahwa sebagian besar dari mereka memulai berwirausaha karena keterpaksaan (necessity), menjadikan usaha mereka sukar berkembang dan bersaing di pasar global. Sebagian besar dari mereka bukanlah wirausahawan sejati.



Oleh karena itu, adalah tugas dunia pendidikan mempersiapkan generasi baru wirausahawan Indonesia. Dunia pendidikan harus berbenah agar generasi muda dipersiapkan sejak dini. Melakukan transformasi agar kelak kita bisa melihat jutaan wirausahawan sejati dilahirkan di bumi pertiwi.



Siapakah Wirausahawan Sejati?



Tulisan ilmiah dan penelitian tentang kewirausahaan telah berkembang dan tersebar dalam berbagai disiplin ilmu seperti ekonomi, psikologi, sosial dan manajemen.



Salah satu subjek penelitian yang populer, selain proses kewirausahaan, adalah tentang profil wirausahawan sejati. Apakah seorang wirusahawan sejati memiliki sesuatu yang khusus yang membedakannya dengan orang biasa?



Ada berbagai jawaban yang dihasilkan. Bahkan, tahun 1998, Michael Morris seorang profesor dari Georgetown University menyebutkan ada 17 karakter khusus wirausahawan yang dikumpulkannya dari berbagai penelitian yang telah dilakukan dalam bidang kewirausahaan.



Walaupun demikian, didalam keragaman pendapat tersebut, hampir semua ahli menyetujui bahwa terdapat satu ciri yang membedakan seorang wirausahawan. Adalah kemampuannya untuk menemukan dan menciptakan sebuah peluang serta secara aktif mewujudkannya menjadi sesuatu yang bernilai untuk masyarakat.



Bagaimana Cara Mendidiknya ?



Dengan mengacu kepada hasil penelitian tentang ciri khusus wirausahawan sejati, pertanyaan berikutnya adalah, dapatkah mereka dipersiapkan? Jika dapat, bagaimana caranya?



Ada pro dan kontra untuk jawaban pertanyaan tersebut. Namun satu pendapat menarik mengatakan, bahwa jika wirausawan sejati tidak dapat dilatih, maka "profesi" ini akan menjadi satu-satunya di dunia ini yang tidak bisa disentuh dunia pendidikan. Satu hal yang tentu saja sangat absurd.



Bahkan Peter Drucker, seorang guru dibidang manajemen modern pun mengatakan bahwa wirausahawan sejati dapat dilatih. Hanya saja memang perlu perubahan dan terobosan pada metoda belajar yang tradisional serta perlu didukung oleh lingkungan yang entrepreneurial (bercirikan kewirausahaan).



Sampai saat ini, memang belum ada satu program atau kurikulum yang dianggap terbaik dalam mendidik calon wirausahawan. Namun dari berbagai penelitian dan percobaan, terdapat dua hal yang dianggap sebagai faktor kunci untuk melatih calon wirausawahan.



Pertama adalah metoda belajar yang berbasiskan pengalaman (experiental learning). Dengan metoda ini, peserta dibawa kedalam situasi khusus dimana mereka akan secara sekaligus memahami konsep, melatih ketrampilan dan membentuk sikap dan semangat seeorang wirausahawan sejati. Pengalaman yang direncanakan secara bertahap dan berkesinambungan yang pada akhirnya akan membawa peserta menjadi (to be) seorang wirausahawan sejati.



Kedua adalah metoda dan lingkungan belajar yang melibatkan mentor (mentor based learning). Mentor adalah wirausahawan aktif yang dapat "menularkan" semangat dan pola pikir wirausawahan kepada para peserta. Selain itu, para mentor juga diharapkan membuka akses informasi kepada para calon wirausahawan. Akses yang dapat membantu peserta menemukan dan menciptakan peluang.



Transformasi Dunia Pendidikan



Agar dapat mengaplikasikan metoda dan lingkungan belajar tersebut, maka dunia pendidikan harus melakukan transformasi diri. Tanpa transformasi yang sungguh-sungguh semua metoda tersebut pada akhirnya hanya akan baik diatas kertas namun akan mendapatkan banyak kendala dalam pelaksanaannya.



Transformasi pertama adalah pada sistem dan budaya pengelolaan sekolah. Sistem dan budaya yang bercirikan birokrasi harus dirombak menjadi sistem dan budaya yang entrepreneurial. Sebagai contoh, dengan budaya baru ini, seluruh jajaran sekolah mendapatkan kesempatan dan penghargaan jika mereka melakukan inovasi untuk kemajuan sekolah mereka..



Transformasi kedua adalah pada standar perilaku dan kompetensi staf pengajar. Mereka tidak boleh lagi menjadikan diri mereka sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi lebih menjadi seorang pengajar pembelajar (learning teacher) yang bersama-sama para anak didik menggali dan mengolah subjek materi sehingga menjadi sesuatu yang lebih bernilai.



Transformasi ketiga adalah pada sistem evaluasi (assessment) para anak didik. Evaluasi harus dikembangkan tidak hanya pada tingkatan yang rendah yaitu mengingat dan memahami materi, tetapi harus dibawa ke tingkat yang lebih tinggi hingga dapat melakukan aplikasi dan kreasi.



Terakhir dan terpenting, transformasi juga harus dilakukan pada peran, peraturan dan kebijakan pemerintah. Dengan keterbukaan dan pemahaman yang baru tentang pentingnya kewirausahaan dimasa mendatang, seharusnya pemerintah mulai dengan menetapkan visi baru dunia pendidikan dan membangun peran, peraturan dan kebijakan yang mengacu kesana.



Tanpa keempat transformasi tersebut secara menyeluruh, maka kita hanya akan menunggu waktu. Dalam dua atau tiga dekade mendatang, bangsa kita hanya akan menjadi penonton dan menjadi korban situasi yang semakin tak berdaya. Salah siapa? (MARGIMAN)



*Penulis adalah Executive Director Ciputra Entrepreneurship



Sumber : http://amblogfree.blogspot.com/2010/03/mempersiapkan-generasi-wirausahawan.html



Kamis, 11 Agustus 2011

Membuat Rencana Pemasaran

Rencana Pemasaran adalah ibarat sebuah peta jalan. rencana pemasaran Anda menguraikan tindakan spesifik yang akan Anda ambil untuk pasar produk atau layanan pelanggan potensial. Tindakan ini bekerja untuk mengajak para pelanggan potensial untuk membeli produk atau jasa yang anda miliki.

Membuat rencana pemasaran tidak perlu panjang dan tidak perlu biaya banyak untuk menyelesaikannya. Rencana Pemasaran dapat menjadi bagian dari rencana bisnis Anda secara keseluruhan . Jika Anda menganggapnya sebagai “peta jalan” Anda yang akan memberikan petunjuk rinci tentang cara untuk mencapai tujuan pemasaran Anda.

Dalam membuat rencana pemasaran sangat penting untuk melakukan penelitian sebelum memutuskan rencana pemasaran yang akan dilaksanakan. Sebuah rencana pemasaran yang menyeluruh dan detail tenntang apa yang ingin Anda capai akan membantu dalam mencapai tujuan Anda.

Sebuah rencana pemasaran akan mencapai tujuan sebagai berikut:
* Memungkinkan perusahaan untuk melihat secara internal dalam rangka untuk memahami dampak dan hasil keputusan pemasaran masa lalu.
* Melengkapi perusahaan untuk melihat eksternal dalam rangka untuk memahami pasar bahwa target dan kompetisi di ruang tersebut.
* Menetapkan tujuan masa depan dan memberikan arahan untuk inisiatif pemasaran mendatang.

Cakupan yang ada pada Rencana Pemasaran

1. Ringkasan dan Pendahuluan
Ringkasan dan pengenalan adalah gambaran singkat dari pokok-pokok rencana. Ini harus menjadi sinopsis dari apa yang Anda lakukan, apa yang Anda rencanakan untuk lakukan, dan bagaimana Anda akan ke sana.

2. Tujuan Pemasaran
Bagian ini akan mendefinisikan tujuan pemasaran Anda. Tujuan ini harus didasarkan pada pemahaman Anda kekuatan dan kelemahan, dan lingkungan bisnis di mana Anda beroperasi masuk Mereka juga harus dikaitkan dengan strategi bisnis Anda secara keseluruhan. Ini tidak biasa dan sering bermanfaat untuk fokus pada segmen sasaran spesifik yang Anda akan pemasaran.

3. Analisis Situasi
rincian analisis situasi Anda konteks untuk upaya pemasaran Anda. Dalam bagian ini anda akan melihat dari dekat faktor internal dan eksternal yang akan mempengaruhi strategi pemasaran Anda, ini disebut analisis SWOT. Analisis SWOT menggabungkan analisis eksternal dan internal untuk meringkas Anda Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman.

4.Target Pasar
Konsep pasar target adalah salah satu yang paling dasar, namun aspek yang paling penting dari pemasaran. Tidak ada hal seperti “satu pesan” cocok untuk semua pesan pemasaran. Tidak realistis untuk berpikir bahwa Anda dapat menarik semua orang. Menentukan target pasar atau segmentasi pasar Anda membantu Anda menentukan tempat untuk mengikat sumber daya dan apa jenis metode promosi dan pesan untuk digunakan.

5.Strategi
Strategi adalah langkah-langkah tindakan yang detail bagaimana variabel pemasaran produk, tempat harga, dan promosi digunakan untuk mencapai tujuan rencana dan strategi pemasaran secara keseluruhan.

6.Pelacakan dan Evaluasi
Bagian dari rencana Anda harus mencakup rencana dan prosedur untuk menelusuri setiap jenis kegiatan pemasaran yang Anda gunakan. Pelacakan membantu memantau efektivitas setiap kegiatan pemasaran dan terutama membantu dengan evaluasi program secara keseluruhan. Jika Anda tidak melacak Anda tidak pemasaran.(Galeriukm).

Sumber : http://galeriukm.web.id/artikel-usaha/membuat-rencana-pemasaran