Selasa, 14 Februari 2012

Kompetisi, Strategi Tingkatkan Produktivitas

KOMPETISI yang berlebihan di dunia kerja sering dianggap tak sehat oleh banyak pihak. Padahal jika dikelola dengan baik, kompetisi bisa meningkatkan produktivitas kerja.

Dalam sebuah perusahaan yang mengutamakan kompetisi, budaya bersaing sering kali diciptakan untuk mendapatkan hasil kerja yang terbaik dari masing-masing karyawan. Nyatanya, selama kompetisi berjalan dengan baik, hal ini memang mampu meningkatkan kinerja karyawan.

Dalam dunia kerja dan bisnis, kompetisi diciptakan oleh orangorang yang mempunyai kekuasaan. Kompetisi antarkaryawan tentunya diciptakan oleh atasan atau budaya perusahaan. Kompetisi ini sengaja diciptakan karena perusahaan sudah pasti menginginkan karyawannya bekerja seoptimal mungkin. Jika karyawan berada dalam kondisi yang nyaman, mereka umumnya khawatir kalau karyawan hanya memberikan yang baik, bukan yang terbaik yang bisa mereka berikan.

Karena itulah, banyak perusahaan memakai berbagai strategi agar karyawan mau mengeluarkan segala daya pikir, kreativitas, dan kerja keras mereka bagi perusahaan. Cara yang umumnya ditempuh ialah dengan memberikan bonus berupa materi atau penghargaan tertentu bagi karyawan teladan yang sudah berkontribusi banyak bagi perusahaan.

Dengan strategi seperti ini, semua karyawan diharapkan akan berlomba-lomba untuk berkompetisi menjadi yang terbaik. Menurut Laurent Duperval dari Duperval Consulting, cara seperti ini akan memberi dampak positif bagi kedua belah pihak.

“Kompetisi di tempat kerja adalah hal yang positif. Kompetisi yang sehat seperti ini akan memacu tiap karyawan untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan,” jelas Duperval, seperti dikutip careerbuilder.com.

Kondisi lainnya yang bisa memicu kompetisi sehat ialah karyawan yang selalu diberi kesempatan mencicipi pengalaman baru. Duperval juga yakin bahwa sistem yang menerapkan pemberian hukuman daripada memberikan penghargaan tidak akan efektif untuk meningkatkan motivasi dan semangat kerja karyawan.

“Jika Anda menjual produk yang hanya mampu dibeli 10 perusahaan dan Anda memiliki 10 penjual, setidaknya ada lima orang yang tidak akan menang. Di sisi lain, jika produk tersebut bisa dijual ke seribu perusahaan tapi tenaga penjualnya hanya mampu menjualnya ke 50 perusahaan, semua orang bisa saja menang. Mereka yang bekerja lebih baik maka akan bisa menjual lebih banyak. Dengan lingkungan yang kompetitif, mungkin saja karyawan bisa menjual ke 60 perusahaan dibanding 50 perusahaan. Dengan begitu, semuanya akan menang,” jelasnya.

Tantangan untuk orang yang tepat

Dalam lingkungan yang normal, sebuah kompetisi akan melahirkan karyawan yang paling berprestasi bagi perusahaan. Namun bagi sebagian karyawan, Duperval memperingatkan bahwa kompetisi bukanlah cara yang tepat untuk memotivasi mereka.

“Beberapa orang ada yang tidak tahan dengan yang namanya kompetisi. Beberapa akan menjadi agresif, sedangkan sebagian malah jadi tidak produktif. Karyawan seperti ini tidak cocok jika ditempatkan dalam kondisi kompetitif,” tegas Duperval.

Sebagai gantinya, perusahaan harus mencari cara lain untuk meningkatkan motivasi karyawan tersebut atau justru menciptakan hukuman bagi mereka yang berperilaku buruk.

Holly Green, ahli manajemen dan personality assessment, juga menekankan pentingnya peran atasan atau perusahaan dalam sebuah kondisi kompetisi. Jika kompetisi yang sehat berubah menjadi kompetisi yang buruk, itu artinya ada yang salah dengan bentuk kompetisi yang dibangun.

“Jika kompetisi mulai tidak sehat, itu artinya atasan tidak menghiraukan tanggung jawab yang sudah diberikan pada timnya. Padahal, anggota tim tetap membutuhkan bimbingan dan pengawasan dari atasan,” ujarnya.

Kemungkinan terburuk

Menurut Duperval, atasan bisa saja tidak mengetahui dampak kompetisi yang tidak sehat terhadap karyawan. Bayangkan jika ada karyawan yang mengetahui bahwa pendapatannya berpengaruh terhadap “kekalahannya” dalam kompetisi, bisa saja hal ini mengundang rasa cemburu atau perkelahian secara fisik antarkaryawan.

“Saat kompetisi mengakibatkan penderitaan pada seorang karyawan dan menjalar pada orangorang terdekatnya seperti keluarga atau teman dekat, maka kompetisi tersebut sudah tidak sehat,” katanya.

Tentu saja, tidak semua karyawan menanggapi sebuah kompetisi dengan cara yang “menyeramkan”. Yang pasti, untuk bisa bertahan dalam kondisi apa pun, Anda harus bisa menggunakan kesuksesan rekan kerja sebagai motivasi Anda untuk melakukan yang terbaik, bukan demi memenangkan kompetisi tapi demi kebanggaan dan rasa percaya pada diri sendiri.

Sumber : http://lifestyle.okezone.com/read/2010/08/31/198/368369/kompetisi-strategi-tingkatkan-produktivitas

Senin, 13 Februari 2012

Pengertian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja

Konsep produktivitas kerja dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi individu dan dimensi organisasian. Dimensi individu melihat produktivitas dalam kaitannya dengan karakteristik-karakteristik kepribadian individu yang muncul dalam bentuk sikap mental dan mengandung makna keinginan dan upaya individu yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas kehidupannya. Sedangkan dimensi keorganisasian melihat produktivitas dalam kerangka hubungan teknis antara masukan (input) dan keluaran (output). Oleh karena itu dalam pandangan ini, terjadinya peningkatan produktivitas tidak hanya dilihat dari aspek kuantitas, tetapi juga dapat dilihat dari aspek kualitas.

Kedua pengerian produktivitas tersebut mengandung cara atau metode pengukuran tertentu yang secara praktek sukar dilakukan. Kesulitan-kesulitan itu dikarenakan, pertama karakteristik-karakteristik kepribadian individu bersifat kompleks, sedangkan yang kedua disebabkan masukan-masukan sumber daya bermacam-macam dan dalam proporsi yang berbeda-beda.

Produktivitas kerja sebagai salah satu orientasi manajemen dewasa ini, keberadaannya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap produktivitas pada dasarnya dapat diklasifikasikan kedalam dua jenis, yaitu pertama faktor-faktor yang berpengaruh secara langsung, dan kedua faktor-faktor yang berpengaruh secara tidak langsung.

Remunerasi

Remunerasi adalah merupakan imbalan atau balas jasa yang diberikan perusahaan kepada tenaga kerja sebagai akibat dari prestasi yang telah diberikannya dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Pengertian ini mengisyaratkan bahwa keberadaannya di dalam suatu organisasi perusahaan tidak dapat diabaikan begitu saja. Sebab, akan terkait langsung dengan pencapaian tujuan perusahaan. Remunerasi yang rendah tidak dapat dipertanggungjawabkan, baik dilihat dari sisi kemanusiaan maupun dari sisi kelangsungan hidup perusahaan.

Secara teoritis dapat dibedakan dua sistem remunerasi, yaitu yang mengacu kepada teori Karl Mark dan yang mengacu kepada teori Neo-klasik. Kedua teori tersebut masing-masing memiliki kelemahan. Oleh karena itu, sistem pengupahan yang berlaku dewasa ini selalu berada diantara dua sistem tersebut. Berarti bahwa tidak ada satupun pola yang dapat berlaku umum. Yang perlu dipahami bahwa pola manapun yang akan dipergunakan seyogianya disesuaikan dengan kebijakan remunerasi masing-masing perusahaan dan mengacu kepada rasa keadilan bagi kedua belah pihak (perusahaan dan karyawan).

Besarnya tingkat remunerasi untuk masing-masing perusahaan adalah berbeda. Perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang mempengaruhinya diantaranya, yaitu permintaan dan penawaran tenaga kerja, kemampuan perusahaan, kemampuan dan keterampilan tenaga kerja, peranan perusahaan, serikat buruh, besar kecilnya resiko pekerjaan, campur tangan pemerintah, dan biaya hidup.

Dilihat dari sistemnya pembelian remunerasi dapat dibedakan atas prestasi kerja, lama kerja, senioritas atau lama dinas, kebutuhan, dan premi atau upah borongan

Pendidikan dan Latihan

Pendidikan dan latihan dipandang sebagai suatu invesatasi di bidang sumber daya manusia yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dari tenaga kerja. Oleh karena itu pendidikan dan latihan merupakan salah satu faktor penting dalam organisasi perusahaan. Pentingnya pendidikan dan latihan disamping berkaitan dengan berbagai dinamika (perubahan) yang terjadi dalam lingkungan perusahaan, seperti perubahan produksi, teknologi, dan tenaga kerja, juga berkaitan dengan manfaat yang dapat dirasakannya. Manfaat tersebut antara lain: meningkatnya produktivitas perusahaan, moral dan disiplin kerja, memudahkan pengawasan, dan menstabilkan tenaga kerja.

Agar penyelenggaraan pendidikan dan latihan berhasil secara efektif dan efisien, maka ada 5 (lima) hal yang harus di pahami, yaitu 1) adanya perbedaan individual, 2) berhubungan dengan analisa pekerjaan, 3) motivasi, 4) pemilihan peserta didik, dan 5) pemilihan metode yang tepat.

Pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja dapat diklasifikasikan kepada dua kelompok, pertama, yakni pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja yang termasuk kepada kelompok tenaga kerja operasional, kedua, pendidikan dan latihan bagi tenaga kerja yang termasuk kepada kelompok tenaga kerja yang menduduki jabatan manajerial. Untuk masing-masing kelompok tenaga kerja tersebut diperlukan metode pendidikan yang berbeda satu sama lain

Pengertian dan Proses Perencanaan Tenaga kerja

Perencanaan tenaga kerja merupakan bagian integral dari perencanaan pembangunan. Rencana pembangunan memuat berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan di seluruh sektor atau sub sektor. Setiap kegiatan yang akan dilaksanakan membutuhkan tenaga kerja yang sesuai. Perencanaan tenaga kerja memuat perkiraan permintaan atau kebutuhan dan penawaran atau penyediaan tenaga kerja, serta kebijakan maupun program ketenagakerjaan yang diperlukan dalam rangka menunjang keberhasilan pelaksanaan pembangunan.

Perencanaan tenaga kerja dapat dilakukan pada tahap perusahaan, lembaga pemerintah atau unit organisasi swasta lainnya. Perencanaan tenaga kerja seperti ini disebut perencanaan tenaga kerja mikro. Pemerintah biasanya juga membuat perencanaan tenaga kerja dalam cakupan wilayah tertentu maupun secara nasional. Jenis perencanaan tenaga kerja seperti itu dikenal sebagai perencanaan tenaga kerja makro, nasional atau perencanaan tenaga kerja regional.

Sistem perencanaan tenaga kerja menunjukkan kedudukan perencanaan tenaga kerja dalam kerangka perencanaan pembangunan secara keseluruhan. Perencanaan pembangunan yang disertai dengan data-data kependudukan dan informasi pasar kerja merupakan masukan utama dalam penyusunan perencanaan tenaga kerja. Hasil perencanaan tenaga kerja adalah berupa rencana tenaga kerja.

Dalam sistem perencanaan pembangunan yang melihat perencanaan tenaga kerja sebagai bagian integral dari perencanaan pembangunan, maka proses perencanaan tenaga kerja akan melibatkan instansi. Proses perencanaan tenaga kerja itu sendiri menunjukkan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam pelaksanaan perencanaan tenaga kerja.

Sumber : http://massofa.wordpress.com/2008/04/02/pengertian-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-produktivitas-kerja/

Minggu, 12 Februari 2012

Pengertian Manajemen Strategi

Manajemen strategis merupakan proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara melaksanakannya, yang dibuat oleh pimpinan dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk mencapai tujuan.

Menurut Pearch dan Robinson (1997) dikatakan bahwa manajemen stratejik adalah kumpulan dan tindakan yang menghasilkan perumusan (formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi.

Sedangkan pengertian manajemen strategis menurut Nawawi adalah perencanaan berskala besar (disebut perencanaan strategi) yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh (disebut visi), dan ditetapkan sebagai keputusan pimpinan tertinggi (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil), agar memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (disebut misi), dalam usaha menghasilkan sesuatu (perencanaan operaional untuk menghasilkan barang dan/atau jasa serta pelayanan) yang berkualitas, dengan diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan (disebut tujuan strategis) dan berbagai sasaran (tujuan operasional) organsasi.

Dari pengertian-pengertian yang cukup luas tersebut menunjukkan bahwa manajemen stratejik merupakan suatu sistem yang sebagai satu kesatuan memiliki berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dan bergerak secara serentak (bersama-sama) kearah yang sama pula. Komponen pertama adalah perencanaan strategi dengan unsur-unsurnya yang terdiri dari visi, misi, tujuan dan strategi utama organisasi. Sedangkan komponen kedua adalah perencanaan operasional dengan unsure-unsurnya sasaran dan tujuan operasional, pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen berupa fungsi pengorganisasian, fungsi pelaksanaan dan fungsi penganggaran, kebijaksanaan situsional, jaringan kerja internal dan eksternal, fungsi kontrol dan evaluasi serta umpan balik.

Disamping itu pengertian manajemen strategik yang telah disebutkan terakhir dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :
1. Manajemen strategi diwujudkan dalam bentuk perencanaan berskala besar dalam arti mencakup seluruh komponen dilingkungan sebuah organisasi yang dituangkan dalam bentuk rencana strategis (Renstra) yang dijabarkan menjadi perencanaan operasional, yang kemudian dijabarkan pula dalam bentuk program kerja dan proyek tahunan.
2. Renstra berorientasi pada jangkauan masa depan.
3. Visi, misi, pemilihan strategi yang menghasilkan strategi induk, dan tujuan strategi organisasi untuk jangka panjang merupakan acuan dalam merumuskan rencana strategi, namun dalam teknik penempatannya sebagai keputusan manajemen puncak secara tertulis semua acuan tersebut terdapat didalamnya.
4. Renstra dijabarkan menjadi rencana operasional yang antara lain berisi program-program operasional termasuk proyek-proyek, dengan sasaran jangka sedang masing-masing juga sebagai keputusan manajemen puncak.
5. Penetapan renstra dan rencana operasi harus melibatkan manajemen puncak karena sifatnya sangat mendasar/prinsipil dalam pelaksanaan seluruh misi organisasi, untuk mewujudkan, mempertahankan dan mengembangkan eksistensi jangka sedang termasuk panjangnya.
6. Pengimplementasian strategi dalam program-program termasuk proyek-proyek untuk mencapai sasarannya masing-masing dilakukan melalui fungsi-fungsi manajemen lainnya yang mencakup pengorganisasian, pelaksanaan, penganggaran dan kontrol.

Dimensi Manajemen Strategi
Manajemen strategi mempunyai beberapa dimensi atau bersifat multidimensional. Dimensi dimaksud adalah :
1. Dimensi waktu dan orientasi masa depan
Manajemen strategi dalam mempertahankan dan mengembangkan eksistensi suatu organisasi berpandangan jauh ke masa depan, dan berperilaku proaktif dan antisipatif terhadap kondisi masa depan yang diprediksi akan dihadapi. Antisipasi masa depan tersebut dirumuskan dan ditetapkan sebagai visi organisasi yang akan diwujudkan 10 tahun atau lebih masa depan. Visi dapat diartikan sebagai “kondisi ideal yang ingin dicapai dalam eksistensi organisasi dimasa depan”.

Sehubungan dengan hal di atas Lonnie Helgerson yang dikutip Salusu menyatakan bahwa “ Visi adalah gambaran kondisi masa depan dari suatu organisasi yang belum tampak sekarang tetapi merupakan konsepsi yang dapat dibaca oleh setiap orang (anggota organisasi). Visi memiliki kekuatan yang mampu mengundang, memanggil, dan menyerukan pada setiap orang untuk memasuki masa depan. Visi organisasi harus dirumuskan oleh manajemen puncak (pucuk pimpinan) organisasi”.

2. Dimensi Internal dan Eksternal
Dimensi internal adalah kondisi organisasi non profit pada saat sekarang, berupa kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan yang harus diketahui secara tepat untuk merumuskan renstra yang berjangka panjang.

Analisis terhadap lingkungan eksternal terdiri dari lingkungan operasional, lingkungan nasional dan lingkungan global (internasional), yang mencakup berbagai aspek atau kondisi, seperti kondisi sosial politik, sosial ekonomi, sosial budaya, kependudukan, kemajuan dan perkembangan ilmu dan teknologi, adat istiadat, agama dan lain-lain.

3. Dimensi Pendayagunaan Sumber-Sumber
Manajemen strategik sebagai kegiatan manajemen tidak dapat melepaskan diri dari kemampuan mendayagunakan berbagai sumber daya yang dimiliki, agar secara terintegrasi terimplementasikan dalam fungsi-fungsi manajemen ke arah tercapainya sasaran yang ditetapkan di dalam setiap rencana operasional, dalam rangka mencapai tujuan strategik melalui pelaksanaan misi untuk mewujudkan visi organisasi publik. Sumber daya terdiri dari sumber daya material khusunya berupa sarana dan prasarana, sumber daya finansial dalam bentuk alokasi dana untuk setiap program dan proyek, sumber daya manusia, sumber daya teknologi dan sumber daya informasi.

4. Dimensi Keikutsertaan Manajemen Puncak
Manajemen strategik yang dimulai dengan menyusun rencana strategik merupakan pengendalian masa depan organisasi, agar eksistensi sesuai dengan visinya dapat diwujudkan, baik pada organisasi yang bersifat privat maupun publik.

Rencana strategik harus mampu mengakomodasi seluruh aspek kehidupan organisasi yang berpengaruh pada eksistensinya dimasa depan merupakan wewenang dan tanggungjawab manajemen puncak. Oleh karena itu rencana strategik sebagai keputusan utama yang yang prinsipil itu tidak saja ditetapkan dengan mengikutsertakan, tetapi harus dilakukan secara proaktif oleh manajemen puncak, karena seluruh kegiatan untuk merealisasikannya merupakan tanggungjawabnya sebagai pimpinan tertinggi, meskipun kegiatannya dilimpahkan pada organisasi atau satuan unit kerja yang relevan.

5. Dimensi Multi Bidang
Manajemen strategik sebagai sistem pengimplementasiannya harus didasari dengan menempatkan organisasi satu sistem. Dengan demikian berarti sebuah organisasi akan dapat menyusun rencana strategis dan rencana renovasi jika tidak memiliki keterikatan atau ketergantungan sebagai bawahan pada organisasi lain sebagai atasan.
Rencana strategis dan rencana operasi bersifat multidimensi, terutama jika perumusan rencana strategis hanya dilakukan pada organisasi publik yang tertinggi. Dengan dimensi yang sangat banyak itu, mudah terjadi tidak seluruh dimensi dapat diakomodasi.

Amstrong (1990) memberikan pengertian yang lebih singkat dan tegas bahwa pengembangan sumber daya manusia adalah mengenai latihan dan pengembangan. Sumber daya manusia menurut Mangun (dalam Suroto,1992) ialah semua kegiatan manusia yang produktif dan semua potensinya untuk memberikan sumbangan yang produktif kepada masyarakat. Kualitas sumber daya manusia menyangkut dua aspek yaitu aspek fisik (kualitas fisik), dan aspek non fisik (kualitas non fisik) yang menyangkut kemampuan bekerja, berpikir, dan ketrampilan–ketrampilan lain. Oleh sebab itu upaya meningkatkan kualitas atau kemampuan-kemampuan non fisik tersebut maka upaya pendidikan dan pelatihan adalah yang paling diperlukan. Upaya inilah yang dimaksudkan dengan pengembangan sumber daya manusia.

Proses Perencanaan Strategi Produk
Proses perencanaan strategi produk meliputi beberap langkah, yaitu:

1. Analisis Situasi
Analisis situasi dilakukan terhadap lingkungan internal maupun eksternal. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan antara lain apakah perusahaan dapat memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh lingkungan eksternalnya melalui sumber daya yang dimiliki,
seberapa besar permintaan terhadap produk tertentu, dan seberapa besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi permintaan tersebut.

2. Penentuan Tujuan Produk
Selain untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, produk yang dihasilkan perusahaan dimaksudkan pula untuk memenuhi atau mencapai tujuan perusahaan. Dengan demikian, perlu dipertimbangkan apakah produk yang dihasilkan dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan perusahaan.

3. Penentuan Sasaran Pasar
Perusahaan dapat berusaha melayani pasar secara keseluruhan ataupun melakukan segmentasi. Denga demikian alternatif yang dapat dipilih adalah produk standar, customized product, maupun produk standar dengan modifikasi.

4. Penentuan Anggaran
Anggaran bisa bermanfaat sebagai alat perencanaan, koordinasi sekaligus sebagai pengendalian.

5. Penetapan Strategi Produk
Dalam tahap ini, alternatif-alternatif strategi prosuk dianalisis dan dinilai keunggulan dan kelemahannya, kemudian dipilih yang paling baik dan layak untuk kemudian diterapkan.

6. Evaluasi Pelaksanaan Strategi
Langkah yang terakhir adalah evaluasi atau penilaian terhadap pelaksanaan rencana yang telah disusun.

Sumber : http://albymoon.blogspot.com/2009/12/manajemen-strategis.html

Kamis, 09 Februari 2012

Definisi dan Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja

Manajemen Sumber Daya Manusia.
Produktivitas merupakan nisbah atau rasio antara hasil kegiatan (output, keluaran) dan segala pengorbanan (biaya) untuk mewujudkan hasil tersebut (input, masukan) (Kussriyanto, 1984, p.1). Input bisa mencakup biaya produksi (production cost) dan biaya peralatan (equipment cost). Sedangkan output bisa terdiri dari penjualan (sales), earnings (pendapatan), market share, dan kerusakan (defects) (Gomes,1995, p.157).

Produktivitas tenaga kerja adalah salah satu ukuran perusahaan dalam mencapai tujuannya. Sumber daya manusia merupakan elemen yang paling strategik dalam organisasi, harus diakui dan diterima oleh manajemen. Peningkatan produktivitas kerja hanya mungkin dilakukan oleh manusia (Siagian, 2002, p.2). Oleh karena itu tenaga kerja merupakan faktor penting dalam mengukur produktivitas. Hal ini disebabkan oleh dua hal, antara lain; pertama, karena besarnya biaya yang dikorbankan untuk tenaga kerja sebagai bagian dari biaya yang terbesar untuk pengadaan produk atau jasa; kedua, karena masukan pada faktor-faktor lain seperti modal (Kussriyanto, 1993, p.1).

Menurut Anoraga dan Suyati, (1995, p.119-121) produktivitas mengandung pengertian yang berkenaan dengan konsep ekonomis, filosofis dan sistem. Sebagai konsep ekonomis, produktivitas berkenaan dengan usaha atau kegiatan manusia untuk menghasilkan barang atau jasa yang berguna untuk pemenuhan kebutuhan manusia dan masyarakat pada umumnya.

Sebagai konsep filosofis, produktivitas mengandung pandangan hidup dan sikap mental yang selalu berusaha untuk meningkatkan mutu kehidupan dimana keadaan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan mutu kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hal inilah yang memberi dorongan untuk berusaha dan mengembangkan diri. Sedangkan konsep sistem, memberikan pedoman pemikiran bahwa pencapaian suatu tujuan harus ada kerja sama atau keterpaduan dari unsur-unsur yang relevan sebagai sistem.

Dapat dikatakan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara hasil dari suatu pekerjaan karyawan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sondang P. Siagian bahwa produktivitas adalah: “Kemampuan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersedia dengan menghasilkan output yang optimal bahkan kalau mungkin yang maksimal.”

Banyak hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa produktivitas sangat dipengaruhi oleh faktor: knowledge, skills, abilities, attitudes, dan behaviours dari para pekerja yang ada di dalam organisasi sehingga banyak program perbaikan produktivitas meletakkan hal-hal tersebut sebagai asumsi-asumsi dasarnya (Gomes, 1995, p.160).

Pengertian lain dari produktivitas adalah suatu konsep universal yang menciptakan lebih banyak barang dan jasa bagi kehidupan manusia, dengan menggunakan sumber daya yang serba terbatas (Tarwaka, Bakri, dan Sudiajeng, 2004, p.137).

Menurut Manuaba (1992) peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan menekan sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk dalam memanfaatkan sumber daya manusia (do the right thing) dan meningkatkan keluaran sebesar-besarnya (do the thing right). Dengan kata lain bahwa produktivitas merupakan pencerminan dari tingkat efisiensi dan efektivitas kerja secara total (Tarwaka, Bakri, dan Sudiajeng, 2004, p.138).

Menurut Sinungan, (2003, p.12), secara umum produktivitas diartikan sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang-barang atau jasa) dengan masuknya yang sebenarnya. Produktivitas juga diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang-barang atau jasa-jasa. Produktivitas juga diartikan sebagai:
a. Perbandingan ukuran harga bagi masukan dan hasil
b. Perbedaan antara kumpulan jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan dalam satuan-satuan (unit) umum.

Ukuran produktivitas yang paling terkenal berkaitan dengan tenaga kerja yang dapat dihitung dengan membagi pengeluaran oleh jumlah yang digunakan atau jam-jam kerja orang.

Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja
Pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut system pemasukan fisik perorangan/perorang atau per jam kerja orang diterima secara luas, namun dari sudut pandangan/ pengawasan harian, pengukuran-pengukuran tersebut pada umumnya tidak memuaskan, dikarenakan adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk yang berbeda. Oleh karena itu, digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari atau tahun). Pengeluaran diubah ke dalam unit-unit pekerja yang biasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja yang terpercaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar.

Karena hasil maupun masukan dapat dinyatakan dalam waktu, produktivitas tenaga kerja dapat dinyatakan sebagai suatu indeks yang sangat sederhana = Hasil dalam jam-jam yang standar : Masukan dalam jam-jam waktu.

Untuk mengukur suatu produktivitas perusahaan dapatlah digunakan dua jenis ukuran jam kerja manusia, yakni jam-jam kerja yang harus dibayar dan jam-jam kerja yang dipergunakan untuk bekerja. Jam kerja yang harus dibayar meliputi semua jam-jam kerja yang harus dibayar, ditambah jam-jam yang tidak digunakan untuk bekerja namun harus dibayar, liburan, cuti, libur karena sakit, tugas luar dan sisa lainnya. Jadi bagi keperluan pengukuran umum produktivitas tenaga kerja kita memiliki unit-unit yang diperlukan, yakni: kuantitas hasil dan kuantitas penggunaan masukan tenaga kerja (Sinungan, 2003, p.24-25).

Menurut Wignjosoebroto, (2000, p.25), produktivitas secara umum akan dapat diformulasikan sebagai berikut:
Produktivitas = Output/input(measurable)+ input (invisible).
Invisible input meliputi tingkat pengetahuan, kemampuan teknis, metodologi kerja dan pengaturan organisasi, dan motivasi kerja.
Untuk mengukur produktivitas kerja dari tenaga kerja manusia, operator mesin, misalnya, maka formulasi berikut bisa dipakai untuk maksud ini, yaitu:
Produktivitas = total keluaran yang dihasilkan
Tenaga Kerja jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan Di sini produktivitas dari tenaga kerja ditunjukkan sebagai rasio dari jumlah keluaran yang dihasilkan per total tenaga kerja yang jam manusia (man-hours), yaitu jam kerja yang dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Tenaga kerja yang dipekerjakan dapat terdiri dari tenaga kerja langsung ataupun tidak langsung, akan tetapi biasanya meliputi keduanya.

Sumber : http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/produktivitas-kerja-definisi-dan.html

Rabu, 08 Februari 2012

10 Tips untuk mencapai keSuksesan bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Tidak terhitung hampir setiap hari, tumbuh dan berkembang usaha / bisnis baru. Beberapa dari usaha / bisnis ini akan berhasil, tapi banyak pula yang gulung tikar pada usia belia. Terdapat para pengusaha yang memulia usahanya dengan baik, mengingat sumber daya dan modal yang cukup, tetapi kemudian bangkrut atau gulung tikar dalam perjalan usahanya. Sementara tidak sedikit usaha yang goyah di awal, namun dengan perencanaan, ketekunan dan berhati-hati akan berhasil pada akhirnya. Apakah bisnis Anda berkembang, atau akan bergabung dengan ribuan orang lain yang telah goyah sepanjang perjalanan usahanya?

Berikut ini sepuluh tips untuk mencapai kesuksesan dalam usaha / bisnis Anda:

1. Fokus pada salah satu bidang.
Untuk usaha kecil dan menengah, yang terbaik adalah fokus pada salah satu bidang atau jenis spesifik dalam usaha anda. Untuk sebuah perusahaan usaha kecil dan menengah dengan sumber daya yang terbatas secara efisien dapat mengambil ceruk pasar. Memusatkan upaya Anda pada penawaran pasar yang cukup sempit. Hal ini memerlukan keseriusan dengan apa yang Anda lakukan dan terbaik, dan menjadi ahli dalam bidang itu. Sadarilah bahwa tidak mungkin untuk menjadi baik dalam segala hal. Dengan berkonsentrasi pada ceruk pasar yang cukup sempit, Anda mungkin dapat menghindari tabrakan dengan pesaing yang lebih besar. Jika Anda adalah sebuah toko perangkat keras menjual segala sesuatu dari cat untuk kayu, masuknya pengecer raksasa seperti Minta 10, depo bangunan dan lain-lain di daerah Anda dapat mematikan bisnis Anda. Namun, Anda dapat mencoba untuk membatasi bidang Anda, misalnya, untuk barang-barang khusus kayu, yang sulit di penuhi oleh usaha-usaha besar semisal depo bangunan dan mitra 10.

2. Menjadi kecil, namun berpikir besar.
Pertanyaan yang paling umum dari usaha kecil dan menengah (UKM) adalah “Bagaimana saya bisa bersaing dengan kompetitor besar?” Usaha kecil dan menengah (UKM) memiliki keunggulan yang melekat di bandingkan dengan bisnis besar, yaitu fleksibilitas, kemampuan untuk merespon dengan cepat, mampu memberikan layanan yang lebih personal. Pastikan bahwa bisnis Anda mengambil keuntungan maksimum dari daerah-daerah yang mewakili kekuatan dari perusahaan kecil.

3. Bedakan produk Anda.
Menjelaskan manfaat produk dan jasa Anda kepada pelanggan Anda, menyoroti solusi yang unik yang menawarkan untuk masalah mereka. Hindari menjadi peniru; jarang peniru berhasil di pasar. Studi, tapi jangan copy pesaing Anda, dan paket produk Anda dengan jelas.

4. Kesan pertama penting.
Upayakan akurasi dan kualitas pada saat kesan pertama. Anda sering tidak memiliki kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama yang baik. Hal ini membutuhkan tata kelola toko yang baik, karyawan yang sopan, dan pelayanan secara personal baik secara langsung maupun menggunakan media komunikasi seperti telpon, dll Namun, jika bisnis anda hanya dikelola oleh satu-orang one man show di , ingat bahwa Anda adalah pusat bisnis dan pusat pemasaran. Semua orang berhubungan langsung dengan Anda baik dalam prospeckting klien atau rujukan ke klien lain karena mereka terkesan baik dengan Anda sebagai seorang pemasar yang handal, terkesan dengan keterampilan Anda untuk memberikan layanan tertentu atau produk tertentu pula. Pastikan bahwa Anda selalu rapi, profesional dalam cara Anda dan pengetahuan tentang bisnis Anda.

5. Reputasi Bisnis.
Bisnis Anda bergantung pada reputasinya. Sangat penting bahwa Anda membangun reputasi yang baik untuk kualitas produk dan layanan. Ingatlah bahwa dua hal yang menjamin kesuksesan: barang-barang berkualitas tinggi dan layanan yang unggul. Selalu bertujuan untuk kualitas. Jika Anda seorang konsultan pajak, berusaha untuk menyiapkan, benar-benar akurat pengembalian pajak sempurna dilakukan untuk klien Anda.

6. Perbaikan Terus – menerus.
Pengusaha tahu bahwa mereka tidak harus kaku dalam berpikir, dalam upaya meningkatkan kualitas produk dan layanan yang terbaik. Anda berisiko tertinggal oleh persaingan cepat, jika Anda mengenal betul pada usaha ini adalah bagaimana kita selalu melakukannya. Kondisi bisnis saat ini menuntut Anda untuk memberikan solusi cepat dan tepat!

7. Dengarkan pelanggan Anda.
Mendorong loyalitas konsumen. Mendengarkan dan bereaksi terhadap kebutuhan pelanggan. Pelanggan perlu merasa bahwa mereka penting bagi Anda ! Ketika Anda berfokus pada pelanggan Anda dan mendapatkan kepercayaan mereka, mereka tidak hanya akan merekomendasikan Anda tetapi mereka juga akan tetap setia kepada Anda. Ingat, rekomendasi pribadi dan kata-dari mulut ke mulut adalah strategi pemasaran yang paling mahal namun paling efektif untuk bisnis Anda.

8. Rencana untuk sukses.
Seorang pengusaha harus memahami kekuatan perencanaan. Sebuah rencana yang baik membantu Anda meningkatkan peluang Anda untuk berhasil dan dapat membantu Anda menentukan konsep bisnis Anda, biaya memperkirakan, memprediksi penjualan dan mengendalikan risiko Anda. Ini memberitahu Anda di mana Anda akan pergi dan bagaimana menuju ke sana. Pergi ke bisnis tanpa perencanaan adalah seperti mengemudi ke negeri asing tanpa peta jalan.

9. Jadilah inovatif.
Inovasi penawaran Anda terus-menerus, sejalan dengan perubahan teknologi. Gunakan perubahan sebagai batu loncatan untuk meningkatkan produk Anda, prosedur atau reputasi. Inovasi juga harus mencakup operasi Anda dari harga, promosi, layanan pelanggan, distribusi, dll Jauhkan mata Anda cara-cara baru dalam melakukan sesuatu, dan menerapkan mereka yang dapat meningkatkan kualitas produk dan efisiensi operasi Anda.

10. Work Smart.
Sebagai pengusaha, Anda perlu memiliki kepercayaan diri, ditambah rasa yang terus menerus mengembangkan ide-ide Anda. Penelitian telah menunjukkan bahwa individu yang sukses dalam kewirausahaan yang jauh ke depan dan dapat menerima hal-hal sebagaimana adanya dan berurusan dengan mereka sesuai. Mereka tahu bagaimana mengelola waktu mereka, menyadari pentingnya rekreasi sebanyak pekerjaan. Orang-orang ini seringkali cepat berubah arah ketika mereka melihat rencana mereka tidak bekerja. Lebih penting lagi, mereka mengakui titik lemah mereka dan beralih untuk memelihara aliansi dan memperoleh keterampilan yang mereka butuhkan untuk menempatkan bisnis mereka pada jalur yang benar. Mereka menyadari pentingnya bekerja cerdas, mengetahui bahwa itu bukan kuantitas pekerjaan yang Anda lakukan, tapi apa yang Anda lakukan dan seberapa baik Anda melakukannya.

Sumber : http://binaukm.com/2012/01/10-tips-untuk-mencapai-kesuksesan-bagi-usaha-kecil-dan-menengah-ukm/

Senin, 06 Februari 2012

10 Cara Bagi Bisnis Retail Untuk Sukses

Membaca artikel terkait bisnis memang menarik. Kali ini saya menemukan artikel yang cukup bagus. Mengapa? Karena menurut saya hal ini merupakan tips yang sangat bermanfaat, dimana bisnis yang berkembang saat ini seperti bisnis retail sangat menjanjikan. Humm, tapi perlu kita ketahui sebelumnya, apakah definisi dari retail itu, mari kita bahas.

Definisi retail sendiri Menurut berman dan evans (2001:3) adalah “retail consists of the business activities involved in selling goods and services to consumers for their personal, family, or household use” (definisi ini ditemukan dari universitas gunadarma).

Dapat diartikan bahwa Retail terdiri atas aktivitas-aktivitas bisnis yang terlibat dalam menjual barang dan jasa kepada konsumen untuk kepentingan sendiri, keluarga maupun rumah tangga.

Dari definisi diatas bias dikatakan bahwa bisnis retail terdiri dari beberapa aktivitas yang saling mendukung dan mempengaruhi sehingga terjadi kegiatan perdagangan antara pedagang dan konsumen.

Jadi bisnis retail tidak bisa terdiri dari satu kegiatan saja.

Setelah mengetahui definisi Manajemen dan Retail maka bisa dirumuskan manajemen retail adalah pengaturan keseluruhan factor-faktor yang berpengruh dalam perdagangan retail, yaitu perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen. Factor-faktor yang berpengaruh dalam bisnis retail adalah place, price, product, dan promotion yang dikenal sebagai 4P.

(disadur dari artikel universitas gunadarma. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/pengertian-manajemen-retail/).

Nah, setelah kita belajar definisi retail, mari kita kembali ke judul diatas, yakni 10 cara bagi bisnis retail untuk sukses yang saya temukan dari Majalah MARKETING Edisi Juli 2009.

Siap atau tidak, ritel di Indonesia bakal menghadapi persaingan yang demikian sengit. Apalagi dengan semakin maraknya ritel-ritel asing di Indonesia yang punya kekuatan merek dan fulus yang “tak terbatas”. Oleh karenanya ritel di Indonesia perlu mewaspadai atau memahami berbagai tren yang akan terjadi pada dunia ritel di masa depan. Berikut adalah 10 hal yang bisa menentukan masa depan ritel.

1. Promosi harga sudah seharusnya
Setiap ritel, baik ritel kecil maupun besar ataupun ritel untuk segmen bawah atau premium. Semuanya tak akan lepas dari promosi harga. Strategi ini seolah sudah menjadi strategi generik. Sama halnya dengan obat yang menawarkan kemanjuran strategi ini tidak bisa dijadikan strategi yang unik. Namun demikian strategi ini juga tidak bisa ditinggalkan.

Kini pilihannya adalah kapan program promosi harga ini dilakukan dan kreativitas apa yang bisa dikembangkan. Beberapa peritel merek premium berkreasi dengan menawarkan program diskon besar-besaran pada malam hari. Program midnight sale ini ternyata disambut antusias dan seolah mulai menjadi wabah di ibu kota.

Kreativitas dalam promosi harga juga tidak selalu dalam bentuk diskon. Promosi harga bisa juga dilakukan dalam bentuk cash back atau buy one get two. Namun apapun kreativitas yang dilakukan, peritel di masa depan tak akan bisa meninggalkan program promosi harga begitu saja.

2. Menjual experience lebih penting
Produk yang dijual memang menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke ritel. Namun demikian, jangan terpaku pada produk tanpa menghadirkan pengalaman yang unik bagi konsumen. Yang lebih menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke Bread Talk atau Jco bukanlah roti abon atau donat rasa almond, tetapi pengalaman terhadap merek itu sendiri.

Berdasarkan riset dari Nielsen, 93 persen dari konsumen Indonesia menjadikan ritel sebagai tempat rekreasi. Mereka akan semakin banyak berbelanja jika terpuaskan oleh pengalaman yang diciptakan oleh peritel. Experience ini bisa dikembangkan melalui banyak dimensi seperti permainan dengan panca indera (tampilan, bunyi, bau, dll), maupun melalui interaksi dengan konsumen. Itulah sebabnya, menjual pengalaman akan menjadi hal yang lebih dicari oleh konsumen ketimbang produk yang dijual.

3. Berlarilah dengan teknologi
Teknologi akan berperan besar bagi ritel di masa depan. Sekalipun konsumen menganggap pergi ke ritel sebagai rekreasi, mereka tetap saja merupakan konsumen yang tidak sabaran. Di zaman serba cepat ini, mereka membutuhkan pelayanan yang cepat dari sebuah ritel.

Ada tiga macam teknologi yang akan mempengaruhi kekuatan ritel masa depan. Pertama adalah teknologi di bidang inventori, dimana peritel membutuhkan teknologi yang bisa dengan cepat mengidentifikasikan inventori dan memberi sinyal dengan cepat jika terjadi kekosongan barang. Kedua adalah teknologi di bidang transaksi. Ritel masa depan membutuhkan teknologi yang bisa membuat transaksi selesai dalam waktu lebih cepat serta tidak menciptakan antrian yang panjang. Ketiga adalah teknologi yang bisa membantu menciptakan retensi dan hubungan dengan pelanggan. Misalnya untuk menginformasikan point reward atau produk-produk baru melalui ponsel.

Teknologi seperti RFID (Radio Frequency Identification) atau LBS (Location Based Service) tampaknya akan bermunculan di masa mendatang karena teknologi semacam inilah yang bisa membantu peritel memberi pelayanan yang cepat dan tepat.

4. Mengikat konsumen dengan program loyalty
Di masa depan peritel harus punya program loyalty yang unik dan experiential bagi konsumen. Semakin banyaknya pilihan ritel membuat konsumen tidak bisa loyal kepada satu ritel. Lihat saja hasil survei di AS yang menunjukkan bahwa cuma 15 persen konsumen yang selalu datang ke ritel yang sama. Oleh karena itulah peritel harus memiliki program loyalty yang kuat untuk mengikat mereka.

Program loyalty dilakukan bukan dengan kartu anggota atau kartu diskon semata. Program loyalty harus disusun berdasarkan kebutuhan konsumen yang unik. Oleh karena itu pengumpulan dan penggalian database akan semakin penting bagi peritel. Database yang baik akan menjadi kekuatan menyusun program loyalty.

5. Co-branding dengan semakin banyak pihak
Untuk menciptakan program loyalty secara terus-menerus, peritel mau tidak mau harus melakukan co-branding dengan banyak pihak. Co-branding bisa dilakukan dengan sesama partner di dalam industri maupun partner di industri lain. Tujuannya adalah untuk memperkuat dampak promosi yang dilakukan dan mengefisiensikan program-program promosi.

Selain itu, co-branding juga membuat kreativitas ritel tidak terpaku pada program-program yang konvensional. Indomaret berkerjasama dengan Mandiri mengeluarkan kartu yang bukan hanya menjadi kartu isi ulang tetapi juga bisa dipergunakan untuk membayar listrik dan telepon di toko-toko Indomaret. Artinya Indomaret kini bukan sekadar menjual produk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga point of payment untuk berbagai pembayaran rutin.

6. Fokus kepada individu dan interaktif
Di masa depan, konsumen ingin dilihat sebagai individu dan bukan sebagai orang yang sama dengan yang lain. Mereka mengharapkan ritel memberikan banyak fleksibilitas bagi konsumen untuk menentukan apa yang mereka mau. Oleh karena itu peritel harus mempersiapkan topping dan fitur yang banyak untuk dipilih oleh konsumen. Seperti halnya eskrim, produknya boleh sama, tetapi konsumen bisa menaruh bermacam-macam tambahan di atas eskrim tersebut. Kalau perlu, konsumen akan terjun langsung ke pembuatannya sehingga mereka lebih bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

7. Totalitas dalam pelayanan akan menjadi tuntutan konsumen
Konsumen Indonesia akan semakin melihat pelayanan prima sebagai sebuah keharusan di dunia ritel. Menurut survei yang dilakukan oleh Accenture di beberapa negara, ternyata keputusan pembelian nomor satu dipengaruhi oleh pelayanan. Di Indonesia sendiri kesadaran ritel di bidang pelayanan sebenarnya sudah bertumbuh, namun demikian komitmen pelayanan ini masih terbatas pada keramahan saja. Padahal totalitas dalam pelayanan mencakup banyak aspek, mulai dari konsumen masuk sampai ke layanan purna jual.

8. Fast fashion
Peritel akan menghadapi rentang waktu yang semakin pendek dari sebuah produk untuk menjadi fashion product. Ibaratnya, kalau hari ini konsumen berebut membeli produk yang lagi “in”, maka besok, konsumen berharap produk yang lagi in tersebut sudah berubah.

Dengan perubahan yang cepat, peritel harus selalu fleksibel untuk menyediakan item-item baru dalam waktu yang relatif singkat. Ritel seperti Chico di Inggris selalu menawarkan merchadising baru setiap dua atau tiga minggu. Dengan demikian pengunjung selalu disegarkan dengan tampilan baru.

9. Green Program
Kesadaran lingkungan juga akan menghinggapi konsumen ritel. Edukasi kepedulian lingkungan seperti global warming akan semakin kuat. Akibatnya konsumen juga semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Bagi peritel, isu-isu lingkungan harus bisa ditangkap dengan baik dan diterjemahkan ke dalam program peritel.

Green program yang sekarang lagi tren dijalankan adalah pengurangan penggunaan plastik untuk membawa belanjaan. Carrefour misalnya, sudah mulai menjual kantong yang bisa dipakai terus sehingga tidak membuat pencemaran lingkungan oleh pembuangan plastik berlebihan. Beberapa peritel bahkan memberikan poin tambahan jika konsumen membawa kantong sendiri dari rumah.

10. Channel retail yang semakin kabur
Jangan kaget kalau nantinya kita sulit mencari channel yang benar-benar spesialis di satu kategori produk. Kecenderungannya setiap peritel ingin mengikat konsumen sehingga ahirnya mereka berusaha menjadikan ritelnya sebagai one stop shopping. Selain itu tuntutan konsumen agar ritel menghadirkan sesuatu yang berbeda membuat peritel akhirnya justru menambah item produknya dari berbagai macam kategori. Seperti halnya apotik menjual makanan, toko buah menjual produk rumah tangga. Di luar negeri, hipermarket juga berjualan mobil.

Sumber : http://dedewinasis.com/2010/09/25/10-cara-bagi-bisnis-retail-untuk-sukses/

Rabu, 01 Februari 2012

Peluang Usaha Susu Kedelai, Bisnis Sari Kedelai Yang Menggiurkan

Indonesia kaya akan kekayaan hayati. Pengolahan yang benar akan menjadikan Indonesia sebagai negara kaya raya. Nah... salah satu kekayaan alam Indonesia yang selama ini kurang dimanfaatkan secara maksimal antara lain kacang kedelai. Selama ini kedelai hanya digunakan untuk bahan dasar tempe dan tahu. Padahal, kedelai bisa diolah menjadi produk-produk lain dengan nilai jual tinggi.

Salah satu cara meningkatkan nilai jual kedelai adalah dengan menjadikannya susu kedelai. Susu kedelai adalah produk susu yang diolah dari sari kedelai yang digiling dengan mesin susu kedelai. Mesin susu kedelai bisa Anda dapatkan di Susu_Kedelai.net

Sebagai gambaran betapa nilai jual kedelai akan meroket adalah seperti ini. 1 kg kedelai, bisa diolah menjadi sekitar 30-50 bungkus kemasan yang dihargai Rp 1000-Rp 1500 / bungkus. Sementara harga kedelai mentah berkisar Rp 5.500 - Rp 6.500 / kg. Dari sini bisa dibayangkan berapa keuntungan yang bisa Anda dapat dari usaha susu kedelai ini. Bisnis ini bisa menjadi bisnis sampingan atau bisnis utama Anda

Peluang Usaha Susu Kedelai

Sebagaimana penjelasan kami di atas, peluang usaha susu kedelai terbuka bagi siapa saja. Memulai usaha ini juga sangat mudah. Modal yang Anda butuhkan hanya mesin pembuat susu kedelai. Bahan kedelai juga mudah Anda dapatkan.

Bagaimana dengan pemasarannya ? Susu kedelai memiliki rasa yang cukup nikmat. Sehingga susu kedelai ini sangat disukai oleh anak-anak hingga orang dewasa. Susu kedelai juga bisa diberi perasa tambahan dan pewarna tambahan, untuk menarik konsumen.

Manfaat dan khasiat Susus Kedelai

Susu kedelai selain nikmat, ternyata memiliki khasiat dan manfaat yang banyak. Diantara manfaat dan khasiat susu kedelai antara lain :
1. Mengatasi Intolerensi Laktosa.
2. Minumam untuk Penderita Autisme.
3. Minuman untuk Vegetarian
4. Mengurangi Kadar Kolesterol Darah.
5. Mencegah Arteriosklerosis, Hipertensi, Jantung Koroner, dan Stroke.
6. Mencegah Diabetes Melitus.
7. Hambat Menopause dan Cegah Osteoporosis.
8. Mencegah Migraine
9. Minuman Anti Kanker.
10. Mencegah Penuaan Dini (Anti Aging).

Cara Membuat Susu Kedelai

Cara membuat susu kedelai cukup mudah. Berikut ini langkah-langkahnya :
1. Rendam kedelai yang hendak dijadikan susu kedelai selama 6-8 jam
2. Giling kedelai dengan mesin pembuat susu kedelai (burrmill), misalnya dari mesin susu kedelai Maksindo
3. Masak sari kedelai hingga mendidih, dan beri gula dan perasa atau pewarna (jika menghendaki)
4. Susu kedelai siap dihidangkan

Sumber : http://www.bisnis.pengusahaindonesia.com/Peluang_Usaha_Susu_Kedelai_Bisnis_Sari_Kedelai.html