Rabu, 08 Februari 2012

10 Tips untuk mencapai keSuksesan bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM)

Tidak terhitung hampir setiap hari, tumbuh dan berkembang usaha / bisnis baru. Beberapa dari usaha / bisnis ini akan berhasil, tapi banyak pula yang gulung tikar pada usia belia. Terdapat para pengusaha yang memulia usahanya dengan baik, mengingat sumber daya dan modal yang cukup, tetapi kemudian bangkrut atau gulung tikar dalam perjalan usahanya. Sementara tidak sedikit usaha yang goyah di awal, namun dengan perencanaan, ketekunan dan berhati-hati akan berhasil pada akhirnya. Apakah bisnis Anda berkembang, atau akan bergabung dengan ribuan orang lain yang telah goyah sepanjang perjalanan usahanya?

Berikut ini sepuluh tips untuk mencapai kesuksesan dalam usaha / bisnis Anda:

1. Fokus pada salah satu bidang.
Untuk usaha kecil dan menengah, yang terbaik adalah fokus pada salah satu bidang atau jenis spesifik dalam usaha anda. Untuk sebuah perusahaan usaha kecil dan menengah dengan sumber daya yang terbatas secara efisien dapat mengambil ceruk pasar. Memusatkan upaya Anda pada penawaran pasar yang cukup sempit. Hal ini memerlukan keseriusan dengan apa yang Anda lakukan dan terbaik, dan menjadi ahli dalam bidang itu. Sadarilah bahwa tidak mungkin untuk menjadi baik dalam segala hal. Dengan berkonsentrasi pada ceruk pasar yang cukup sempit, Anda mungkin dapat menghindari tabrakan dengan pesaing yang lebih besar. Jika Anda adalah sebuah toko perangkat keras menjual segala sesuatu dari cat untuk kayu, masuknya pengecer raksasa seperti Minta 10, depo bangunan dan lain-lain di daerah Anda dapat mematikan bisnis Anda. Namun, Anda dapat mencoba untuk membatasi bidang Anda, misalnya, untuk barang-barang khusus kayu, yang sulit di penuhi oleh usaha-usaha besar semisal depo bangunan dan mitra 10.

2. Menjadi kecil, namun berpikir besar.
Pertanyaan yang paling umum dari usaha kecil dan menengah (UKM) adalah “Bagaimana saya bisa bersaing dengan kompetitor besar?” Usaha kecil dan menengah (UKM) memiliki keunggulan yang melekat di bandingkan dengan bisnis besar, yaitu fleksibilitas, kemampuan untuk merespon dengan cepat, mampu memberikan layanan yang lebih personal. Pastikan bahwa bisnis Anda mengambil keuntungan maksimum dari daerah-daerah yang mewakili kekuatan dari perusahaan kecil.

3. Bedakan produk Anda.
Menjelaskan manfaat produk dan jasa Anda kepada pelanggan Anda, menyoroti solusi yang unik yang menawarkan untuk masalah mereka. Hindari menjadi peniru; jarang peniru berhasil di pasar. Studi, tapi jangan copy pesaing Anda, dan paket produk Anda dengan jelas.

4. Kesan pertama penting.
Upayakan akurasi dan kualitas pada saat kesan pertama. Anda sering tidak memiliki kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama yang baik. Hal ini membutuhkan tata kelola toko yang baik, karyawan yang sopan, dan pelayanan secara personal baik secara langsung maupun menggunakan media komunikasi seperti telpon, dll Namun, jika bisnis anda hanya dikelola oleh satu-orang one man show di , ingat bahwa Anda adalah pusat bisnis dan pusat pemasaran. Semua orang berhubungan langsung dengan Anda baik dalam prospeckting klien atau rujukan ke klien lain karena mereka terkesan baik dengan Anda sebagai seorang pemasar yang handal, terkesan dengan keterampilan Anda untuk memberikan layanan tertentu atau produk tertentu pula. Pastikan bahwa Anda selalu rapi, profesional dalam cara Anda dan pengetahuan tentang bisnis Anda.

5. Reputasi Bisnis.
Bisnis Anda bergantung pada reputasinya. Sangat penting bahwa Anda membangun reputasi yang baik untuk kualitas produk dan layanan. Ingatlah bahwa dua hal yang menjamin kesuksesan: barang-barang berkualitas tinggi dan layanan yang unggul. Selalu bertujuan untuk kualitas. Jika Anda seorang konsultan pajak, berusaha untuk menyiapkan, benar-benar akurat pengembalian pajak sempurna dilakukan untuk klien Anda.

6. Perbaikan Terus – menerus.
Pengusaha tahu bahwa mereka tidak harus kaku dalam berpikir, dalam upaya meningkatkan kualitas produk dan layanan yang terbaik. Anda berisiko tertinggal oleh persaingan cepat, jika Anda mengenal betul pada usaha ini adalah bagaimana kita selalu melakukannya. Kondisi bisnis saat ini menuntut Anda untuk memberikan solusi cepat dan tepat!

7. Dengarkan pelanggan Anda.
Mendorong loyalitas konsumen. Mendengarkan dan bereaksi terhadap kebutuhan pelanggan. Pelanggan perlu merasa bahwa mereka penting bagi Anda ! Ketika Anda berfokus pada pelanggan Anda dan mendapatkan kepercayaan mereka, mereka tidak hanya akan merekomendasikan Anda tetapi mereka juga akan tetap setia kepada Anda. Ingat, rekomendasi pribadi dan kata-dari mulut ke mulut adalah strategi pemasaran yang paling mahal namun paling efektif untuk bisnis Anda.

8. Rencana untuk sukses.
Seorang pengusaha harus memahami kekuatan perencanaan. Sebuah rencana yang baik membantu Anda meningkatkan peluang Anda untuk berhasil dan dapat membantu Anda menentukan konsep bisnis Anda, biaya memperkirakan, memprediksi penjualan dan mengendalikan risiko Anda. Ini memberitahu Anda di mana Anda akan pergi dan bagaimana menuju ke sana. Pergi ke bisnis tanpa perencanaan adalah seperti mengemudi ke negeri asing tanpa peta jalan.

9. Jadilah inovatif.
Inovasi penawaran Anda terus-menerus, sejalan dengan perubahan teknologi. Gunakan perubahan sebagai batu loncatan untuk meningkatkan produk Anda, prosedur atau reputasi. Inovasi juga harus mencakup operasi Anda dari harga, promosi, layanan pelanggan, distribusi, dll Jauhkan mata Anda cara-cara baru dalam melakukan sesuatu, dan menerapkan mereka yang dapat meningkatkan kualitas produk dan efisiensi operasi Anda.

10. Work Smart.
Sebagai pengusaha, Anda perlu memiliki kepercayaan diri, ditambah rasa yang terus menerus mengembangkan ide-ide Anda. Penelitian telah menunjukkan bahwa individu yang sukses dalam kewirausahaan yang jauh ke depan dan dapat menerima hal-hal sebagaimana adanya dan berurusan dengan mereka sesuai. Mereka tahu bagaimana mengelola waktu mereka, menyadari pentingnya rekreasi sebanyak pekerjaan. Orang-orang ini seringkali cepat berubah arah ketika mereka melihat rencana mereka tidak bekerja. Lebih penting lagi, mereka mengakui titik lemah mereka dan beralih untuk memelihara aliansi dan memperoleh keterampilan yang mereka butuhkan untuk menempatkan bisnis mereka pada jalur yang benar. Mereka menyadari pentingnya bekerja cerdas, mengetahui bahwa itu bukan kuantitas pekerjaan yang Anda lakukan, tapi apa yang Anda lakukan dan seberapa baik Anda melakukannya.

Sumber : http://binaukm.com/2012/01/10-tips-untuk-mencapai-kesuksesan-bagi-usaha-kecil-dan-menengah-ukm/

Senin, 06 Februari 2012

10 Cara Bagi Bisnis Retail Untuk Sukses

Membaca artikel terkait bisnis memang menarik. Kali ini saya menemukan artikel yang cukup bagus. Mengapa? Karena menurut saya hal ini merupakan tips yang sangat bermanfaat, dimana bisnis yang berkembang saat ini seperti bisnis retail sangat menjanjikan. Humm, tapi perlu kita ketahui sebelumnya, apakah definisi dari retail itu, mari kita bahas.

Definisi retail sendiri Menurut berman dan evans (2001:3) adalah “retail consists of the business activities involved in selling goods and services to consumers for their personal, family, or household use” (definisi ini ditemukan dari universitas gunadarma).

Dapat diartikan bahwa Retail terdiri atas aktivitas-aktivitas bisnis yang terlibat dalam menjual barang dan jasa kepada konsumen untuk kepentingan sendiri, keluarga maupun rumah tangga.

Dari definisi diatas bias dikatakan bahwa bisnis retail terdiri dari beberapa aktivitas yang saling mendukung dan mempengaruhi sehingga terjadi kegiatan perdagangan antara pedagang dan konsumen.

Jadi bisnis retail tidak bisa terdiri dari satu kegiatan saja.

Setelah mengetahui definisi Manajemen dan Retail maka bisa dirumuskan manajemen retail adalah pengaturan keseluruhan factor-faktor yang berpengruh dalam perdagangan retail, yaitu perdagangan langsung barang dan jasa kepada konsumen. Factor-faktor yang berpengaruh dalam bisnis retail adalah place, price, product, dan promotion yang dikenal sebagai 4P.

(disadur dari artikel universitas gunadarma. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/04/pengertian-manajemen-retail/).

Nah, setelah kita belajar definisi retail, mari kita kembali ke judul diatas, yakni 10 cara bagi bisnis retail untuk sukses yang saya temukan dari Majalah MARKETING Edisi Juli 2009.

Siap atau tidak, ritel di Indonesia bakal menghadapi persaingan yang demikian sengit. Apalagi dengan semakin maraknya ritel-ritel asing di Indonesia yang punya kekuatan merek dan fulus yang “tak terbatas”. Oleh karenanya ritel di Indonesia perlu mewaspadai atau memahami berbagai tren yang akan terjadi pada dunia ritel di masa depan. Berikut adalah 10 hal yang bisa menentukan masa depan ritel.

1. Promosi harga sudah seharusnya
Setiap ritel, baik ritel kecil maupun besar ataupun ritel untuk segmen bawah atau premium. Semuanya tak akan lepas dari promosi harga. Strategi ini seolah sudah menjadi strategi generik. Sama halnya dengan obat yang menawarkan kemanjuran strategi ini tidak bisa dijadikan strategi yang unik. Namun demikian strategi ini juga tidak bisa ditinggalkan.

Kini pilihannya adalah kapan program promosi harga ini dilakukan dan kreativitas apa yang bisa dikembangkan. Beberapa peritel merek premium berkreasi dengan menawarkan program diskon besar-besaran pada malam hari. Program midnight sale ini ternyata disambut antusias dan seolah mulai menjadi wabah di ibu kota.

Kreativitas dalam promosi harga juga tidak selalu dalam bentuk diskon. Promosi harga bisa juga dilakukan dalam bentuk cash back atau buy one get two. Namun apapun kreativitas yang dilakukan, peritel di masa depan tak akan bisa meninggalkan program promosi harga begitu saja.

2. Menjual experience lebih penting
Produk yang dijual memang menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke ritel. Namun demikian, jangan terpaku pada produk tanpa menghadirkan pengalaman yang unik bagi konsumen. Yang lebih menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke Bread Talk atau Jco bukanlah roti abon atau donat rasa almond, tetapi pengalaman terhadap merek itu sendiri.

Berdasarkan riset dari Nielsen, 93 persen dari konsumen Indonesia menjadikan ritel sebagai tempat rekreasi. Mereka akan semakin banyak berbelanja jika terpuaskan oleh pengalaman yang diciptakan oleh peritel. Experience ini bisa dikembangkan melalui banyak dimensi seperti permainan dengan panca indera (tampilan, bunyi, bau, dll), maupun melalui interaksi dengan konsumen. Itulah sebabnya, menjual pengalaman akan menjadi hal yang lebih dicari oleh konsumen ketimbang produk yang dijual.

3. Berlarilah dengan teknologi
Teknologi akan berperan besar bagi ritel di masa depan. Sekalipun konsumen menganggap pergi ke ritel sebagai rekreasi, mereka tetap saja merupakan konsumen yang tidak sabaran. Di zaman serba cepat ini, mereka membutuhkan pelayanan yang cepat dari sebuah ritel.

Ada tiga macam teknologi yang akan mempengaruhi kekuatan ritel masa depan. Pertama adalah teknologi di bidang inventori, dimana peritel membutuhkan teknologi yang bisa dengan cepat mengidentifikasikan inventori dan memberi sinyal dengan cepat jika terjadi kekosongan barang. Kedua adalah teknologi di bidang transaksi. Ritel masa depan membutuhkan teknologi yang bisa membuat transaksi selesai dalam waktu lebih cepat serta tidak menciptakan antrian yang panjang. Ketiga adalah teknologi yang bisa membantu menciptakan retensi dan hubungan dengan pelanggan. Misalnya untuk menginformasikan point reward atau produk-produk baru melalui ponsel.

Teknologi seperti RFID (Radio Frequency Identification) atau LBS (Location Based Service) tampaknya akan bermunculan di masa mendatang karena teknologi semacam inilah yang bisa membantu peritel memberi pelayanan yang cepat dan tepat.

4. Mengikat konsumen dengan program loyalty
Di masa depan peritel harus punya program loyalty yang unik dan experiential bagi konsumen. Semakin banyaknya pilihan ritel membuat konsumen tidak bisa loyal kepada satu ritel. Lihat saja hasil survei di AS yang menunjukkan bahwa cuma 15 persen konsumen yang selalu datang ke ritel yang sama. Oleh karena itulah peritel harus memiliki program loyalty yang kuat untuk mengikat mereka.

Program loyalty dilakukan bukan dengan kartu anggota atau kartu diskon semata. Program loyalty harus disusun berdasarkan kebutuhan konsumen yang unik. Oleh karena itu pengumpulan dan penggalian database akan semakin penting bagi peritel. Database yang baik akan menjadi kekuatan menyusun program loyalty.

5. Co-branding dengan semakin banyak pihak
Untuk menciptakan program loyalty secara terus-menerus, peritel mau tidak mau harus melakukan co-branding dengan banyak pihak. Co-branding bisa dilakukan dengan sesama partner di dalam industri maupun partner di industri lain. Tujuannya adalah untuk memperkuat dampak promosi yang dilakukan dan mengefisiensikan program-program promosi.

Selain itu, co-branding juga membuat kreativitas ritel tidak terpaku pada program-program yang konvensional. Indomaret berkerjasama dengan Mandiri mengeluarkan kartu yang bukan hanya menjadi kartu isi ulang tetapi juga bisa dipergunakan untuk membayar listrik dan telepon di toko-toko Indomaret. Artinya Indomaret kini bukan sekadar menjual produk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga point of payment untuk berbagai pembayaran rutin.

6. Fokus kepada individu dan interaktif
Di masa depan, konsumen ingin dilihat sebagai individu dan bukan sebagai orang yang sama dengan yang lain. Mereka mengharapkan ritel memberikan banyak fleksibilitas bagi konsumen untuk menentukan apa yang mereka mau. Oleh karena itu peritel harus mempersiapkan topping dan fitur yang banyak untuk dipilih oleh konsumen. Seperti halnya eskrim, produknya boleh sama, tetapi konsumen bisa menaruh bermacam-macam tambahan di atas eskrim tersebut. Kalau perlu, konsumen akan terjun langsung ke pembuatannya sehingga mereka lebih bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.

7. Totalitas dalam pelayanan akan menjadi tuntutan konsumen
Konsumen Indonesia akan semakin melihat pelayanan prima sebagai sebuah keharusan di dunia ritel. Menurut survei yang dilakukan oleh Accenture di beberapa negara, ternyata keputusan pembelian nomor satu dipengaruhi oleh pelayanan. Di Indonesia sendiri kesadaran ritel di bidang pelayanan sebenarnya sudah bertumbuh, namun demikian komitmen pelayanan ini masih terbatas pada keramahan saja. Padahal totalitas dalam pelayanan mencakup banyak aspek, mulai dari konsumen masuk sampai ke layanan purna jual.

8. Fast fashion
Peritel akan menghadapi rentang waktu yang semakin pendek dari sebuah produk untuk menjadi fashion product. Ibaratnya, kalau hari ini konsumen berebut membeli produk yang lagi “in”, maka besok, konsumen berharap produk yang lagi in tersebut sudah berubah.

Dengan perubahan yang cepat, peritel harus selalu fleksibel untuk menyediakan item-item baru dalam waktu yang relatif singkat. Ritel seperti Chico di Inggris selalu menawarkan merchadising baru setiap dua atau tiga minggu. Dengan demikian pengunjung selalu disegarkan dengan tampilan baru.

9. Green Program
Kesadaran lingkungan juga akan menghinggapi konsumen ritel. Edukasi kepedulian lingkungan seperti global warming akan semakin kuat. Akibatnya konsumen juga semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Bagi peritel, isu-isu lingkungan harus bisa ditangkap dengan baik dan diterjemahkan ke dalam program peritel.

Green program yang sekarang lagi tren dijalankan adalah pengurangan penggunaan plastik untuk membawa belanjaan. Carrefour misalnya, sudah mulai menjual kantong yang bisa dipakai terus sehingga tidak membuat pencemaran lingkungan oleh pembuangan plastik berlebihan. Beberapa peritel bahkan memberikan poin tambahan jika konsumen membawa kantong sendiri dari rumah.

10. Channel retail yang semakin kabur
Jangan kaget kalau nantinya kita sulit mencari channel yang benar-benar spesialis di satu kategori produk. Kecenderungannya setiap peritel ingin mengikat konsumen sehingga ahirnya mereka berusaha menjadikan ritelnya sebagai one stop shopping. Selain itu tuntutan konsumen agar ritel menghadirkan sesuatu yang berbeda membuat peritel akhirnya justru menambah item produknya dari berbagai macam kategori. Seperti halnya apotik menjual makanan, toko buah menjual produk rumah tangga. Di luar negeri, hipermarket juga berjualan mobil.

Sumber : http://dedewinasis.com/2010/09/25/10-cara-bagi-bisnis-retail-untuk-sukses/

Rabu, 01 Februari 2012

Peluang Usaha Susu Kedelai, Bisnis Sari Kedelai Yang Menggiurkan

Indonesia kaya akan kekayaan hayati. Pengolahan yang benar akan menjadikan Indonesia sebagai negara kaya raya. Nah... salah satu kekayaan alam Indonesia yang selama ini kurang dimanfaatkan secara maksimal antara lain kacang kedelai. Selama ini kedelai hanya digunakan untuk bahan dasar tempe dan tahu. Padahal, kedelai bisa diolah menjadi produk-produk lain dengan nilai jual tinggi.

Salah satu cara meningkatkan nilai jual kedelai adalah dengan menjadikannya susu kedelai. Susu kedelai adalah produk susu yang diolah dari sari kedelai yang digiling dengan mesin susu kedelai. Mesin susu kedelai bisa Anda dapatkan di Susu_Kedelai.net

Sebagai gambaran betapa nilai jual kedelai akan meroket adalah seperti ini. 1 kg kedelai, bisa diolah menjadi sekitar 30-50 bungkus kemasan yang dihargai Rp 1000-Rp 1500 / bungkus. Sementara harga kedelai mentah berkisar Rp 5.500 - Rp 6.500 / kg. Dari sini bisa dibayangkan berapa keuntungan yang bisa Anda dapat dari usaha susu kedelai ini. Bisnis ini bisa menjadi bisnis sampingan atau bisnis utama Anda

Peluang Usaha Susu Kedelai

Sebagaimana penjelasan kami di atas, peluang usaha susu kedelai terbuka bagi siapa saja. Memulai usaha ini juga sangat mudah. Modal yang Anda butuhkan hanya mesin pembuat susu kedelai. Bahan kedelai juga mudah Anda dapatkan.

Bagaimana dengan pemasarannya ? Susu kedelai memiliki rasa yang cukup nikmat. Sehingga susu kedelai ini sangat disukai oleh anak-anak hingga orang dewasa. Susu kedelai juga bisa diberi perasa tambahan dan pewarna tambahan, untuk menarik konsumen.

Manfaat dan khasiat Susus Kedelai

Susu kedelai selain nikmat, ternyata memiliki khasiat dan manfaat yang banyak. Diantara manfaat dan khasiat susu kedelai antara lain :
1. Mengatasi Intolerensi Laktosa.
2. Minumam untuk Penderita Autisme.
3. Minuman untuk Vegetarian
4. Mengurangi Kadar Kolesterol Darah.
5. Mencegah Arteriosklerosis, Hipertensi, Jantung Koroner, dan Stroke.
6. Mencegah Diabetes Melitus.
7. Hambat Menopause dan Cegah Osteoporosis.
8. Mencegah Migraine
9. Minuman Anti Kanker.
10. Mencegah Penuaan Dini (Anti Aging).

Cara Membuat Susu Kedelai

Cara membuat susu kedelai cukup mudah. Berikut ini langkah-langkahnya :
1. Rendam kedelai yang hendak dijadikan susu kedelai selama 6-8 jam
2. Giling kedelai dengan mesin pembuat susu kedelai (burrmill), misalnya dari mesin susu kedelai Maksindo
3. Masak sari kedelai hingga mendidih, dan beri gula dan perasa atau pewarna (jika menghendaki)
4. Susu kedelai siap dihidangkan

Sumber : http://www.bisnis.pengusahaindonesia.com/Peluang_Usaha_Susu_Kedelai_Bisnis_Sari_Kedelai.html

Selasa, 31 Januari 2012

Mengolah Limbah Cair Tahu Dan Tempe Menjadi Nata De Soja

Limbah Industri Tahu Dan Tempe Sumber Pencemaran Lingkungan

Proses pembuatan tahu dan tempe menghasilkan limbah padat dan limbah cair. Limbah padatan pada industri tahu berupa ampas tahu yang umumnya dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti sapi, kambing, kelinci, ayam, tempe gembus, sedangkan limbah padatan pada industri tempe berupa kulit kedelai dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Limbah cair tahu dan tempe masih jarang dimanfaatkan, umumnya dibuang ke sungai atau selokan. Limbah cair industri tahu dan tempe seringkali menjadi penyebab pencemaran lingkungan yang mengganggu ekosistem dan kesehatan manusia lingkungan tersebut. Pembuangan limbah ke sungai mencemari lingkungan dan menyebabkan meningkatkan BOD (Biological Oxigen Demand) dan menimbulkan bau tidak sedap. Limbah cair industri tahu dan tempe tersebut masih mengandung nutrisi yang masih dapat diolah menjadi nata de soya. Pengolahan limbah cair industri tahu dan tempe menjaid nata de soya merupakan salah satu solusi mengatasi pencemaran lingkungan dan menghasilkan produk bernilai ekonomis yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Limbah cair produk olahan kedelai difermentasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum sehingga dihasilkan produk nata de soya. Pemanfaatan air limbah industri tahu-tempe sebagai produk pangan memberikan manfaat yang besar bagi pengusaha industri tahu-tempe, baik nilai ekonomis maupun manfaat dalam upaya penanganan limbah. Pengolahan limbah cair tahu-tempe menjadi nata de soya merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pencemaran. Oleh karena itu, pengembangan usaha nata de soya perlu digalakan guna mengatasi pencemaran lingkungan di wilayah pemukiman sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Limbah cair industri tahu dan tempe mengandung protein dan karbohidrat yang cukup tinggi, kandungan protein dan karbohidrat dalam limbah cair tahu dan tempe tersebut dapat menjadi media hidup yang sangat baik bagi bakteri Acetobacter xylinum. Bakteri ini mengubah karbohidrat dan protein dalam limbah cair tahu-tempe menjadi serat selulosa dengan tekstur yang kenyal. Limbah air tahu (whey tahu) dan limbah cair tempe selain mengandung protein juga mengandung vitamin B terlarut dalam air, lestin dan oligosakarida. Berdasarkan kandungan unsur kimiawinya.

Limbah cair tahu-tempe menjadi salah satu aliterernatif bahan baku untuk pembuatan produk nata. Nata berbahan baku limbah kedelai memiliki karakteristik produk yang secara kenampakan sedikit kekuningan, cita rasa yang khas kedelai, kenyal namun lebih mudah putus dibandingkan dengan nata de coco lebih ulet, dan kandungan seratnya cukup tinggi.

Prospek Pasar Nata De Soya

Nata de soya memiliki tekstur yang cukup baik, tidak kalah dengan nata de coco. Kadar seratnya yang cukup tinggi dan memiliki cita rasa yang nikmat sebagai bahan baku minuman instan sehingga nata de soya mampu bersaing dengan nata de coco. Sebagaimana kita ketahui bahwa pasar nata de coco sebagai produk pangan yaitu minuman kemasan dan aneka produk olahan lainnya sangat tinggi baik pasar domestik maupun pasar luar negeri. Permintaan bahan nata oleh pabrik minuman kemasan sangat tinggi per hari mencapai ratusan ton bahan mentah nata berupa lembaran atau potongan. Kebutuhan produk nata yang sangat tinggi tersebut, menjadi peluang bisnis bagi para petani nata untuk bermitra dengan perusahaan besar yang ada di tanah air. Selain sebagai produk pangan, di negara maju seperti Jepang, saat ini nata telah dikembangkan sebagai produk non-pangan yaitu bahan baku elektronik dan komposit baja ringan.

Melihat potensinya yang sangat besar tersebut Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengolah aneka limbah pangan menjadi produk nata. Saat ini, di pasaran sudah familier produk nata dari bahan air kelapa (nata de coco), limbah cair olahan kedelai (nata de soya), umbi singkong atau limbah cair pengolahan industri singkong (nata de cassava). Masing-masing produk nata dari bahan baku baku yang berbeda tersebut memiliki aroma khas, tekstur dan tampilan yang sedikit berbeda. Namun, secara umumnya memiliki prospek pasar yang sama besar, meskipun saat ini produk nata de coco lebih familier dan permintaanya paling tinggi.

Proses Produksi Nata De Soya

Limbah cair industri tahu-tempe yang telah didiamkan kurang lebih 2-3 hari (agar pH turun 3-4 sehingga asam), disaring dengan kain kasa agar kotoran-kotoran dan partikel kasar dapat dipisahkan, kemudian direbus dengan panci dengan tungku berbahan bakar kayu, setelah mendidih ditambahkan ZA 80 gram, gula pasir 100 gram, asam cuka 120 ml untuk media 50 liter limbah cair tahu atau tempe, diaduk-aduk kurang lebih 10-15 menit kemudian dituangkan kedalam nampan yang sudah disiapkan dengan penutup koran yang telah diikat dengan karet ban. Susun nampan yang telah diisi media larutan tersebut pada rak. Nampan dapat disusun bertingkat 5-10 nampan dengan bersilangan. Setalah dingin kurang lebih 5-7 jam, media larutan dalam nampan tersebut diinokulasi dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylnum kurang lebih 10% dari media larutan dalam nampan. Proses fermentasi akan berlangsung 8 – 10 hari. Lakukan pemanenan. Tampung nata de soya hasil panen dalam drum plastik yang diisi dengan air. Penyimpanan akan dapat bertahan lama apabila selalu diganti dengan air.

Lebih Jelasnya Ada Di Buku “Mengolah Limbah Menjadi Rupiah: Industri Nata De Coco, Nata De Cassava, Nata De Soya” penerbit Andi Offset

Selamat Mencoba, dan berwirausaha….Anda Bisa!!!

Sumber : http://agrotekno.blogspot.com/2011/10/mengolah-limbah-cair-tahu-dan-tempe.html

Senin, 30 Januari 2012

Pengertian Etos Kerja

Apa pengertian etos kerja? Kamus Wikipedia menyebutkan bahwa etos berasal dari bahasa Yunani; akar katanya adalah ethikos, yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral. Dalam bahasa Yunani kuno dan modern, etos punya arti sebagai keberadaan diri, jiwa, dan pikiran yang membentuk seseorang. Pada Webster's New Word Dictionary, 3rd College Edition, etos didefinisikan sebagai kecenderungan atau karakter; sikap, kebiasaan, keyakinan yang berbeda dari individu atau kelompok. Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika.

Etika tentu bukan hanya dimiliki bangsa tertentu. Masyarakat dan bangsa apapun mempunyai etika; ini merupakan nilai-nilai universal. Nilai-nilai etika yang dikaitkan dengan etos kerja seperti rajin, bekerja, keras, berdisplin tinggi, menahan diri, ulet, tekun dan nilai-nilai etika lainnya bisa juga ditemukan pada masyarakat dan bangsa lain. Kerajinan, gotong royong, saling membantu, bersikap sopan misalnya masih ditemukan dalam masyarakat kita. Perbedaannya adalah bahwa pada bangsa tertentu nilai-nilai etis tertentu menonjol sedangkan pada bangsa lain tidak.

Dalam perjalanan waktu, nilai-nilai etis tertentu, yang tadinya tidak menonjol atau biasa-biasa saja bisa menjadi karakter yang menonjol pada masyarakat atau bangsa tertentu. Muncullah etos kerja Miyamoto Musashi, etos kerja Jerman, etos kerja Barat, etos kerja Korea Selatan dan etos kerja bangsa-bangsa maju lainnya. Bahkan prinsip yang sama bisa ditemukan pada pada etos kerja yang berbeda sekalipun pengertian etos kerja relatif sama. Sebut saja misalnya berdisplin, bekerja keras, berhemat, dan menabung; nilai-nilai ini ditemukan dalam etos kerja Korea Selatan dan etos kerja Jerman atau etos kerja Barat.

Bila ditelusuri lebih dalam, etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Setiap keyakinan mempunyai sistem nilai dan setiap orang yang menerima keyakinan tertentu berusaha untuk bertindak sesuai dengan keyakinannya. Bila pengertian etos kerja re-definisikan, etos kerja adalah respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau masyarakat terhadap kehidupan; respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang diterima dan respon itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau kelompok atau masyarakat. Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan yang diterima seseorang atau kelompok atau masyarakat.

Bagaimana etos kerja putra-putri Indonesia? Di republik ini, Jansen Sinamo menyajikan 8 Etos Kerja Professional dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Kerja adalah Rahmat
2. Kerja adalah Amanah
3. Kerja adalah Panggilan
4. Kerja adalah Aktualisasi
5. Kerja adalah Ibadah
6. Kerja adalah Seni
7. Kerja adalah Kehormatan
8. Kerja adalah Pelayanan

Namun demikian, di website ini disodorkan etos kerja baru, yaitu etos kerja Pancasila, untuk membedakannya dari istilah-istilah yang ada.

Renungan:
1. Menurut Anda, apa pengertian etos kerja?
2. Apa ciri-ciri etos kerja masyarakat dan bangsa kita secara umum?
3. Bagaimana mengubah etos kerja itu menjadi etos kerja yang lebih baik?
4. Apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki etos kerja Anda?

Sumber : http://www.putra-putri-indonesia.com/pengertian-etos-kerja.html

Minggu, 29 Januari 2012

Manajemen Risiko penting untuk mendukung kestabilan Keuangan Nasional

Pada akhir tahun 2010, saya mendapat kesempatan sebagai seksi sibuk dalam rangka pelaksanaan Konferensi Nasional IRPA. IRPA atau Indonesian Risk Professional Association, merupakan non-profit organization, yang proaktif dalam memberikan nasihat/advis, khususnya di bidang Manajemen Risiko untuk industri jasa keuangan. IRPA bersifat independen, tidak berafiliasi pada satu aliran politik. Bersifat kombinasi optimal dari tiga kelompok profesional, yaitu praktisi industri jasa, akademisi (Pendidik dan Peneliti) dan organisasi Pendidikan, serta jasa konsultan dan lembaga penunjang jasa keuangan lainnya. IRPA memiliki Visi menjadi organisasi profesi yang handal dalam penerapan Manajemen Risiko sesuai Standar Internasional, dalam rangka memberikan kontribusi terhadap kesehatan industri jasa keuangan nasional, melalui Pengembangan Kapasitas para anggotanya. Sedangkan Misi IRPA, mendorong penerapan dan pengembangan Manajemen Risiko pada industri jasa keuangan dengan membangun landasan kode etik dan standar profesi yang berkualitas.

Pada rangkaian acara Konferensi Nasional ini, IRPA mengadakan seminar Manajemen Risiko, antara lain dengan keynotes speech dari Bank Indonesia, yang menjelaskan betapa pentingnya Manajemen Risiko untuk mendukung kestabilan Keuangan Nasional. Isi dari materi ini menurut saya sangat penting, untuk memahami bagaimana manajemen risiko dapat mendukung kestabilan Keuangan Nasional, yang saya kutip di bawah ini:

Latar belakang
Berbagai krisis ekonomi yang terjadi sejak krisis moneter di asia tahun 1997 hingga krisis keuangan global tahun 2008 menjadi suatu pelajaran penting bagi industri keuangan untuk meningkatkan kualitas manajemennya dalam menghadapi berbagai risiko yang ada. Berdasarkan study Senior Supervisory Group dari Financial Stability Board dinyatakan bahwa salah satu pelajaran dari krisis global adalah terjadinya kegagalan Pengurus (directors and senior management) dari beberapa institusi keuangan dalam mengidentifikasi, mengukur, dan mematuhi level risiko yang memadai terhadap institusinya. Kelemahan dari penerapan manajemen risiko tersebut menyebabkan perlu diperbaiki dan semakin ditingkatkannya kualitas penerapan manajemen risiko oleh setiap institusi keuangan termasuk perbankan sehingga dapat mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi sejak dini. Sektor industri keuangan di Indonesia pada saat ini masih didominasi oleh industri perbankan yang menguasai 80% pangsa pasar. Situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan yang diikuti dengan semakin kompleksnya risiko kegiatan usaha menyebabkan industri perbankan membutuhkan manajemen risiko yang baik untuk memitigasi timbulnya risiko.

Penerapan manajemen risiko akan memberikan manfaat tidak saja kepada suatu bank secara individual tetapi kepada seluruh stakeholders-nya sehingga secara agregat memberikan dukungan dalam mencapai stabilitas sistem keuangan nasional. Stabilitas Sistem Keuangan belum memiliki definisi baku yang diterima secara umum, namun dari beberapa definisi yang ada pada intinya mengatakan bahwa suatu sistem keuangan memasuki tahap tidak stabil pada saat sistem tersebut telah membahayakan dan menghambat kegiatan ekonomi. Sistem keuangan yang stabil mampu mengalokasikan sumber dana dan menyerap kejutan (shock) yang terjadi sehingga dapat mencegah gangguan terhadap kegiatan sektor riil dan sistem keuangan. Sistem keuangan yang stabil adalah sistem keuangan yang kuat dan tahan terhadap berbagai gangguan ekonomi sehingga tetap mampu melakukan fungsi intermediasi, melaksanakan pembayaran dan menyebar risiko secara baik. Arti stabilitas sistem keuangan dapat dipahami dengan melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan instabilitas di sektor keuangan. Ketidakstabilan sistem keuangan dapat dipicu oleh berbagai macam penyebab dan gejolak. Hal ini umumnya merupakan kombinasi antara kegagalan pasar, baik karena faktor struktural maupun perilaku. Kegagalan pasar itu sendiri dapat bersumber dari eksternal (internasional) dan internal (domestik). Risiko yang sering menyertai kegiatan dalam sistem keuangan antara lain risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar dan risiko operasional.

Tipe dan penyebab Krisis Keuangan
Tipe krisis: a) Krisis Nilai Tukar.b) Krisis Utang Luar Negeri.c) Speculative/Bubble Crash.d) Krisis Perbankan.e) Krisis Keuangan Global.f) Krisis Ekonomi Global. Sedangkan krisis, antara lain disebabkan oleh: a) Leverage.b) Assets-Liability Missmatch.c) Uncertainty and Herd Behavior.d) Fraud. e) Strategic Complementarities in Financial Markets. f) Recessionary Effects. g) Contagion. h) Regulatory Failures

Mengapa Peran Bank Penting Dalam Stabilitas Sistem Keuangan Nasional?
Bank merupakan suatu entitas yang spesial dalam sistem pembayaran dan menjalankan fungsi intermediasi dalam mengalokasikan modal/pendanaan, sehingga kegagalan suatu bank terutama bank yang memiliki keterkaitan dengan sistem keuangan lainnya dapat menyebabkan terganggunya stabilitas sistem keuangan nasional – Contagion Effect and Systemic Risk. Dengan memburuknya kondisi perbankan nasional maka hal itu akan mengakibatkan semakin memburuknya kondisi perekonomian nasional dan pada gilirannya menyebabkan ketidakstabilan dalam ekonomi makro yang memerlukan biaya tinggi untuk perbaikannya.

Penyebab kegagalan pada Bank, antara lain disebabkan oleh: a) Poor Lending Practices. b) Excessive risk taking without personal responsibility. c) Poor risk management.d) Lack of internal control. e) Focus on market shares. f) Currency and maturity mismatch.g) Poor Good Corporate Governance.h) Poor transparency and disclosure.i) Poor accounting and auditing practice

Kinerja Perbankan saat ini mengalami perbaikan. Total asset sampai dengan bulan September 2010 terus meningkat, dari 1.694 triliun menjadi 2.768 triliun. Dana pihak ketiga juga meningkat, dari 1.287 triliun pada akhir Des 2006 menjadi 2.144 triliun pada akhir Sep.2010, yang makin banyak di dominasi oleh deposito. NPL juga menurun, dari rata-rata 7 persen pada Desember 2006, menjadi 3.3 persen pada akhir Sept. 20 10. Return on Assets semakin meningkat. Sedangkan Perbankan makin efisien, ditunjukkan oleh BOPO yang makin menurun menjadi 79 persen pada Sept 2010, dibanding 86,4 persen pada akhir 2006. LDR juga makin membaik, menjadi sebesar 79 persen, dibanding tahun 2006 yang rata-rata 65 persen, menunjukkan semakin banyak dana yang digunakan untuk membiayai modal kerja maupun investasi pada sektor riil.

Outlook Perbankan tahun 2011
Kondisi CAR dari 14 bank besar yang terus mengalami tekanan dan mencapai rata-rata 12% sehingga memerlukan tambahan modal. Pertumbuhan kredit diharapkan dapat mencapai sebesar 19% – 21% dengan pertumbuhan DPK yang diperkirakan pada kisaran 16% – 17% dan NPL diharapkan berada pada kisaran 2,3% – 2,6%.

Tantangan kedepan

- Lambatnya pemulihan ekonomi global. Ketidakpastian dari kecepatan pemulihan ekonomi global berpotensi mempengaruhi kondisi likuiditas sistem keuangan.
- Meningkatnya tekanan terhadap inflasi IHK.Tekanan inflasi mulai meningkat terutama dipicu oleh kelompok volatile food akibat penurunan pasokan beberapa bahan pangan.
- Meningkatnya capital inflow berjangka waktu pendek.Peningkatan capital inflows berjangka waktu pendek ini perlu pula diwaspadai karena sangat rentan terhadap risiko pembalikan dana secara serentak dan tiba-tiba (sudden reversal) yang berpotensi mengganggu stabilitas keuangan.
- Permasalahan di sektor rill dan infrastruktur. Kinerja perekonomian ini masih menghadapi berbagai tantangan terutama yang datang dari berbagai permasalahan mikro struktural di sektor riil yang belum selesai seperti lemahnya daya saing sektor industri dan pembangunan infrastruktur yang masih tersendat.
- Melambatnya pertumbuhan dana pihak ketiga.Pertumbuhan dana pihak ketiga pada saat ini masih berada di bawah level pertumbuhan selama 5 tahun terakhir
- Meningkatnya tekanan risiko kredit konsumsi. Meskipun rasio NPL gross kredit konsumsi adalah yang terendah dibandingkan kredit jenis penggunaan lainnya, namun terdapat peningkatan tekanan risiko pada kredit jenis tersebut.
- Pemenuhan Permodalan yang sesuai, terkait dengan Penerapan Basel II terutama untuk mengcover risiko operasional. dan penerapan ICAAP (Internal Capital Adequacy Assessment Process).
- Terjadinya perubahan standar akuntansi yang menyesuaikan dengan IFRS sehingga dapat mempengaruhi kondisi keuangan bank. Terjadinya perubahan dalam metode pencatatan dengan diberlakukannya PSAK dan ISAK terbaru.
- Tingkat persaingan dalam industri perbankan yang semakin ketat. Hal ini terutama terkait dengan persaingan dalam memperebutkan dana pihak ketiga dan juga dalam upaya menyalurkan kredit.
- Perubahan sehubungan dengan adanya Basel III walaupun hal ini tidak dalam waktu dekat tetapi perlu diperhatikan.
- Memperkuat permodalan dan likuiditas.
- Memperkuat dan meningkatkan kualitas manajemen risiko.
- Memperkuat dan meningkatkan kualitas good corporate governance.
- Mendorong peningkatan disiplin pasar.
- Memperkuat Surveillance baik macroprudential maupun microprudential.
- Memperkuat infrastruktur terutama Teknologi Informasi.
- Meningkatkan kompetensi SDM.
- Mempercepat proses integrasi dalam rangka penerapan ketentuan dan Standar Akuntansi yang baru.

Dari pembahasan di atas terlihat peran Perbankan sangat penting untuk mendukung kestabilan Keuangan Nasional. IRPA juga dapat berperan serta, antara lain dengan program sosialisasi manajemen risiko, seperti yang telah dilakukan selama ini, antara lain, dengan mengundang para Dekan dan Dosen Fakultas Ekonomi, serta kunjungan ke berbagai universitas sepanjang tahun 2010 yang lalu. Semoga dengan penerapan Manajemen Risiko, prudential Banking, serta kesadaran dari pelaku usaha dalam memitigasi risiko, perekonomian Indonesia semakin baik.

Sumber bacaan:
Manajemen Risiko Guna mendukung kestabilan Keuangan Nasional, disampaikan oleh Keynotes Speech dari Bank Indonesia, Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, pada Konferensi Nasional IRPA, tanggal 21 Desember 2010.

Dikutip dari : http://edratna.wordpress.com/2011/01/03/manajemen-risiko-penting-untuk-mendukung-kestabilan-keuangan-nasional/

Selasa, 24 Januari 2012

Ikan, Cabe dan Strategi Bisnis Agro

Tiba-tiba, HP bekedip-kedip di meja di atas meja, selarik nama yang sangat aku kenal tapi jarang menyapa, mendadak hadir. Ya, seorang kawan lama pas kuliah di kota gudeg menyapa. Setelah berbasa-basi, ”Eh, aku ada di Jakarta sekarang, di pelabuhan sedang menurunkan ikan, ngobrol sebentar yuk?” Sebuah tawaran langka seorang kawan lama, yang “tidak sopan” untuk ditolak. Akhirnya ditemani hembusan angin pantai, kita mengobrol santai sambil melihat pemandangan “turunnya” ikan dari kapal. Mendadak saya kagum melihat “pemandangan” di sore itu.

Melihat fenomena jarang dilihat, setidaknya buat saya, menyadarkan betapa banyak orang yang bisa “dihidupi” dari lautan kita yang maha luas. Disamping para nelayan itu sendiri yang jumlahnya puluhan, ada beberapa sopir mobil pengangkut ikan yang mengangkut ikan-ikan tersebut ke pabrik pemrosesan ikan di dekat dermaga. Belum lagi para kuli panggul, penjual dadakan yang mengerumuni para nelayan yang turun sauh. Kesannya tidak beraturan, bau anyir menusuk, tapi sungguh ada sebuah tetesan kebeningan distribusi yang menetes pada saudara-saudara kita tersebut. Pada raut wajah mereka, terbaca sebersit asa untuk kehidupan keluarganya di kampung. Kata teman saya, para nelayan yang menjadi kru kapal adalah orang-orang tangguh yang terbiasa hidup berminggu-minggu di kapal menemani badai dan angin.

Ada rasa kagum menyelinap di hati akan kegigihan kawan saya menerjuni bidang ini. Secara materi dia cukup mapan, di sisi lain bisnis yang digelutinya itu menyejahterakan saudara-saudara kita yang masih berkubang didera kemiskinan. “Terkadang miris juga Don, tidak banyak orang kita menekuni bidang ini”, sesalnya. Tidak hanya di tingkatan nelayan seperti teman saya itu, di bagian memprosesan ikan pun bahkan banyak perusahaan dikuasai perusahaan patungan asing Hong Kong, Taiwan. “Dua pertiga Negara kita adalah air” kata ibu guru IPS saya dulu di sebuah SD di kota kecil, terngiang-ngiang jelas aksentuasinya. Tapi yang memanfaatkan secara maksimal pernyataan itu, ternyata bukan dari anak negeri yang dikenal subur loh jinawi ini. Tapi orang lain. Cukup menyesakkan dada pembicaraan singkat di tepi dermaga di sore hari.

Sementara itu, Mbak pengasuh di rumah juga sedang mengeluhkan “mahalnya” cabe yang mengakibatkan pedasnya teman makan yang merupakan kategori wajib mendadak tereduksi. Di beberapa warung dan restoran pun yang biasanya sambal melimpah ruah mendadak tampil minimalis. Barangkali fenomena anomali ini bakal menjadi tertawaan banyak orang, di sebuah Negara nan subur dan mengaku sebagai Negara agraris “kedodoran” mengurusi sebuah komoditi warisan yang merupakan tradisi turun temurun.

Sepertinya sudah saatnya kita menyadari sungguh-sungguh serta fokus terhadap kekuatan dasar yang kita miliki, tapi kita lupakan. Kita ikut-ikutan mencebur sebuah industri yang barangkali dipandang “wah” oleh orang-orang di belahan dunia lain, tetapi agak asing diterapkan oleh kebanyakan orang yang hidup dan tinggal di Republik ini. Sehingga menyebabkan kita sendiri kehilangan “kendali” terhadap suatu produk yang notabene merupakan “soul” kita. Pernah saya tulis di Blog ini,seorang petani “hijrah” ke kota, menjual lahannya untuk dilego sebuah motor dan beralih menjadi tukang ojek, karena hasil pertanian yang diandalkan, gagap menghidupi keluarganya. Kasihan….

Sebuah Institut Pertanian berwibawa yang didirikan dengan susah payah, dan untuk masuknya menjadi mahasiswa juga super susah pula menjadi mandul, bukan karena mahasiswa-nya bego, tapi strategi blue print sektor agro dan perikanan kurang digarap secara serius, jadi anak tiri. Tak heran dengan sebuah lelucon lama, seorang kolega alumni yang kebetulan lulusan institut pertanian itu berseloroh IPB itu singkatan Institut Perbankan Bogor, karena lebih banyak jebolannya bekerja di perbankan ketimbang mengurusi sektor agro.

Teknologi yang dibangun di negeri ini sepertinya tidak ramah terhadap bidang yang sesungguhnya merupakan strength yang kita punyai. Jangan malu untuk merubah haluan (turn around), tidak ada kata terlambat. Saatnya untuk mengaca kemampuan bisnis yang akan menopang kita bersaing lebih laju. Terima kasih atas undangannya ke dermaga Kawan Teguh, Terima kasih atas keluhannya tentang mahalnya cabe dari Mbak. Ada yang salah dan harus didekonstruksi dari strategi bisnis agro kita, sebelum “tersesat” lebih jauh. Fokuslah terhadap kekuatan kita merupkan salah satu basis memenangkan bisnis…..”If you lose your focus, you will lose your business” kata Jack Trout.

Sumber : http://manuverbisnis.wordpress.com/2011/01/06/ikan-cabe-dan-strategi-bisnis-agro/