Rabu, 30 November 2011

Mengukur Efektivitas Program Pemasaran

Setiap perusahaan beroperasi dalam batas-batas yang berbeda. Ini ditentukan oleh ukuran mereka, anggaran mereka dan kemampuan mereka untuk melakukan perubahan organisasi. Dengan adanya keterbatasan ini, pelaku pemasaran menjalankan lima buah faktor sebagaimana dijelaskan berikut ini.

Kompetitif – Setiap perusahaan di dalam kategori menjalankan kerangka kerja yang mirip dengan yang dijelaskan berikut ini. Di dalam kondisi yang ideal, pemasar harus memiliki informasi yang sempurna tentang bagaimana cara mereka bekerja sesuai dengan bagaimana langkah pesaing mereka. Dalam kenyataannya, dalam berbagai kategori, terdapat banyak informasi yang bagus dari berbagai sumber, seperti IRI atau Nielsen. Dalam banyak industri, informasi pemasaran kompetitif adalah sulit didapat.

Pelanggan / konsumen. Memahami dan mengambil keuntungan dari bagaimana cara konsumen membuat keputusan pembelian dapat membantu pemasar meningkatkan efektivitas pemasaran mereka. Kelompok-kelompok konsumen bertindak dengan cara yang sama untuk mendapatkan kebutuhan sesuai segmen mereka. Berdasarkan segmen ini, mereka membuat pilihan berdasarkan bagaimana mereka nilai atribut suatu produk dan mereknya, dengan imbalan harga yang dibayarkan untuk produk tersebut.

Konsumen membangun nilai merek melalui informasi. Informasi yang diterima melalui berbagai sumber, seperti, iklan, mulut ke mulut dan dari saluran (distribusi) sering ditandai dengan pembelian saluran, konsep McKinsey & Company. Terakhir, konsumen mengkonsumsi dan melakukan pembelian.

Faktor-faktor Exogenous – Ada banyak faktor yang ada diluar kemampuan pengendalian kita yang dapat memberikan dampak terhadap aktivitas pemasaran.

Hal ini seperti cuaca, tingkat bunga, peraturan pemerintah dan banyak hal lainnya. Pemahaman terhadap dampak dari faktor-faktor ini yang mungkin terdapat di dalam konsumen kita, bisa membantu kita untuk merancang program yang bisa mendatangkan keuntungan dari berbagai faktor ini atau mengurangi resiko dari faktor ini jika mereka berada di tengah-tengah kampanye pemasaran kita.

Ada lima faktor yang bisa mengarahkan tingkat efektivitas pemasaran yang bisa dicapai oleh para pemasar.:

1. Strategi Pemasaran – Peningkatan efektivitas pemasaran bisa dicapai dengan menggunakan strategi pemasaran yang mutakhir. Dengan menempatkan produk atau brand dengan tepat, produk/brand tersebut bisa lebih berhasil di pasar dibandingkan produk / layanan dari pesaing. Meskipun dengan menggunakan strategi yang paling bagus, tenaga pemasar harus menjalankan program mereka dengan benar untuk dapat mencapai hasil yang luar biasa.

2. Kreativitas pemasaran – meskipun tanpa adanya perubahan strategi, kreativitas yang baik dapat meningkatkan hasil yang ada. Bahkan tanpa melakukan perubahan strategi, AFLAC berhasil menarik perhatian dengan pendahuluannya tentang kampanye Duck (AFLAC). Dengan mengenalkan konsep kreatif yang baru ini . Dengan menggunakan konsep kreatif baru ini, tingkat pertumbuhan perusahaan meningkat pesar dari 12% menjadi 28%.

3. Menjalankan pemasaran – Dengan meningkatkan cara pemasar masuk ke pasar, mereka dapat mencapai hasil yang signifikan tanpa perlu melakukan perubahan strategi atau usaha menjalankan kreasi.

Pada tingkat pemasaran dengan berbagai level, tenaga pemasaran dapat meningkatkan usaha menjalankannya dengan membuat perubahan kecil di beberapa atau keseluruhan dari 4P (Product, Price, Place dan Promotion) (Marketing) tanpa melakukan perubahan terhadap posisi strategi atau pelaksana pemasaran kreatif dapat meningkatkan efektivitasnya dan memberikan peningkatan keuntungan.

Untuk pemasar dengan program bertingkat, mereka dapat meningkatkan efektivitasnya dengan mengelola dan menjalankan setiap kampanye pemasaran dengan lebih baik. Hal ini biasanya diketahui berdasarkan konsistensi strategi Kreatif Pemasaran yang ada di berbagai media (misalnya TV, Radio, Cetak dan Online), bukan hanya dalam setiap pesan media perseorangan, yang bisa menguatkan dan memperluas dampak dari keseluruhan usaha kampanye pemasaran.

Contoh-contoh tambahan lainnya akan meningkatkan email langsung dengan tindakan melakukan panggilan langsung atau melakukan pengeditan isi situs web untuk meningkatkan hasil pencariannya, para tenaga pemasaran dapat meningkatkan efektivitas pemasaran mereka dengan setiap jenis program itu.

Wilayah pertumbuhan di dalam strategi pemasaran dan usaha menjalankannya adalah interaksi dinamis yang terbaru dari pemasaran tradisional (misalnya TV atau Acara) dengan aktivitas online para konsumen (misalnya Media Sosial). (Perhatikan acuan berikut, Brand Ecosystems) Yang bukan saja untuk produk langsung, tetapi juga stimulus yang disediakan oleh pemasar tradisional yang bisa menjadi katalis bagi brand konsumen “groundswell” secara online sebagaimana dijelaskan dalam buku Groundswell.

4. Infrastruktur Pemasaran (juga dikenal sebagai Marketing Management) – meningkatkan bisnis pemasaran yang bisa menghasilkan peningkatan yang besar bagi perusahaan. Manajemen untuk setiap agensi, penentuan anggaran, motivasi, dan koordinasi aktivitas pemasaran dapat membawa kepada persaingan yang terus meningkat dan meningkatkan hasil yang ada. Akuntabilitas keseluruhan untuk pemimpin brand dan hasil bisnis seringkali tercermin dalam organisai di bawah sebuah judul departemen (Brand management).

5. Faktor-faktor Exogenous – Secara umum, duluar kendali para pemasar, faktor-faktor eksternal atau exogenous juga berpengaruh terhadap bagaimana para pemasar dapat meningkatkan hasil mereka. Mendapatkan keuntungan dari musim, tingkat bunga atau peraturan pemerintah yang dapat membantu efektivitas pemasaran mereka .

Sumber : http://ahlimanajemenpemasaran.com/2011/05/mengukur-efektivitas-program-pemasaran/

Minggu, 27 November 2011

Seputar Manajemen Bisnis Retail

KONSEP RETAILING

1. Definisi
Secara Harfiah Ritel / Retail = eceran, dan peritel / retailer = pengecer, atau pengusaha perdagangan eceran. Menurut Kamus, retail adl penjualan barang atau jasa kepada khalayak (Manser, 1995)

Definisi bisnis retail adalah :
1. Penjualan kepada konsumen akhir
2. Motivasi pembelian konsumen adalah kepentingan tersendiri dan tidak untuk dijual, atau paling tidak lebih dari separuh penjualannya adalah kepada konsumen untuk kepentingannya sendiri

2. Ruang Lingkup Bisnis Retail
Bisnis retail tidak hanya sekadar merupakan penjualan barang secara fisik, tetapi juga meliputi penjualan jasa. Co : tiket pesawat, warnet, jasa telekomunikasi. Penjualan Jasa ini disebut “Real Services”. Selain itu yang termasuk didalam penjualan barang (Complementary services) yakni : layanan pesan antar, jaminan, leasing, dan fasilitas kredit.

Pengertian Bisnis retail tidak hanya mencakup sebuah took tapi juga aktivitas sejenis yang tidak menggunakan tempat khusus dalam proses jual beli.Co : mail order, dan direct selling.

Disini yang berperilaku sebagai retailer adalah grosir, wholesaler, dan manufacture.

3. Fungsi Retail
Ritel merupakan tahap akhir proses distribusi dengan dilakukannya pnjualan langsung pada konsumen akhir.

Dimana bisnis retail berfungsi sebagai perantara antara distributor dengan konsumen akhir, Retailer berperan sebagai penghimpun barang, took retail sebagai sebaga temat rujukan.

Ritail berperan sebagai penentu eksistensi barang dari manufacture di pasar konsumsi.

KARAKTERISTIK DAN TIPOLOGI

1. Karakteristik
* Small Enough Quantity (Partai kecil,dalam jumlah secukupnya untk dikonsumsi sendiri dalam periode tertentu)
* Impulse buying (kondisi yang tercipta dari ketersediaan barang dalam jumlah dan jenis yang sangat variatif sehingga menimbulkan banyak pilihan untuk konsumen)
* Store Condition ( KOndisi lingkungan dan interior dalam toko)

2. Tipe Bisnis Retail
Klasifikasi retail berdasarkan :

Kepemilikan ( Owner ):
1. Single-Store Retailer (tipe yang paling banyak jumlahnya dengan ukuran toko umumnya dibawah 100 m²)
2. Rantai Toko Retail (toko retail dengan banyak cabang dan dimiliki oleh institusi perseroan)
3. Toko Waralaba (toko yang dibangun berdasarkan kontrak kerja sama waralaba antara terwaralaba dengan pewaralaba)

Merchandise Category:
1. Specialty Store/ Toko Khas (Menjual satu jenis kategori barang yang relative sedikit/ sempit)
2. Grocery Store/ Toko Serba Ada (menjual barang groceries (sehari-hari))
3. Departement Store (menjual sebagian besar bukan kebutuhan pokok, fashionable, bermerek, dengan 80% pola konyinyasi)
4. Hyperstore(menjual barang dalam rentang kategori barang yang sangat luas)

Luas Sales Area :
1. Small Store/kiosk (kios kecil yang umumnya merupakan toko retail tradisional, dioperasikan sebagai usaha kecil dengan sales kurang dari 100 m²)
2. Minimarket (dioperasikan dengan luasan sales area antara 100-1000 m²)
3. Supermarket (dioperasikan dengan luasan sales area antara 1000-5000 m²)
4. Hypermarket (dioperasikan dengan luasan sales area antara lebih dari 5000 m²)

Non-Store Retailer :
1. Multi-Level-Marketing (MLM) : Model penjualan barang secara langsung dengan system komisi penjualan berperingkat berdasarkan status keanggotaan dalam distribution lines
2. Mail & Phone Order Retailer ( Toko pesan antar ) : perusahaan yang melakukan penjualan berdasarkan pesanan melalui surat atau telepon
3. Internet/ Online Store (e-Commerce) : Toko Retail di dunia maya yang mngadopsikan internet ke dalam bentuk online retailing

Sumber : http://murtiningsih.blog.uns.ac.id/2010/04/19/seputar-manajemen-bisnis-retail/

Kamis, 24 November 2011

Bisnis Burung Jalak Uren Dari Hobi Menjadi Penghasilan Lumayan

Burung Jalak Uren sebagai burung kicau banyak digemari banyak orang, suaranya yang merdu dan elok serta tubuh yang indah membuat burung jakal uren memiliki pesona tersendiri. Tidak heran jika harga burung yang satu ini melangit, apalagi kalau sudah jadi. Burung Jalak uren yang sudah siap berkembang biak atau kira-kira berusia satu tahun dipatok dengan harga 3.5 juta satu pasang. Untuk anakan jalak uren umur 10 hari dijual dengan harga Rp 250 ribu. Sedangkan yang sudah berumur satu bulan mencapai Rp 500 ribu.

Dengan harga yang lumayan tinggi tersebut membuat bisnis penangkaran jalak uren memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Umumnya pelaku bisnis ini berangkat dari sekedar hobi, namun karena ketelatenan dan ketekunannya justru membuahkan keuntungan lumayan.

Peluang bisnis penangkaran Jalak uren semakin memiliki tempat karena burung jenis ini semakin langka, sehingga satu-satunya cara untuk melestarikan dan mendapatkannya dilakukan dengan jalan penangkaran. Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah terdapat 150 penangkar burung ocehan tersebut yang tergabung dalam Asosiasi Jalur Sukses Klaten. Hasilnya setiap bulan tidak kurang dari seratus burung ocehan itu menetas dan harganya pun lumayan tinggi.

Salah satu lokasi penangkar burung jalak uren di Klaten adalah Dusun Sendanglebak, Krakitan, Bayat Klaten, Jawa Tenga. di dusun tersebut terdapat 15 penangkar burung jalak uren yang menjadi pemasok ke pasar burung di Klaten, Solo, Jakarta, Bandung, Bali dan Yogyakarta.

Usaha bisnis penangkaran jalak uren ini bisa dilakukan sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan, karena proses perawatan tidaklah rumit. Selain itu bisnis penangkaran jalak uren ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan area rumah yang tidak terlalu luas.

Selain Jalak Uren di Klaten banyak dijumpai pula penangkaran Jalak Bali, yang harganya jauh lebih mahal. Sepasang induk Jalak Bali dipatok dengan harga 80 juta sedangkan anakan Jalak Bali dijual dengan harga 11 jutaan. Anda tertarik dengan bisnis ini, silahkan coba. (Galeriukm).

Sumber:
http://www.tempointeraktif.com/hg/hobi/2010/09/16/brk,20100916-278561,id.html

Senin, 21 November 2011

Memulai Bisnis Sampingan dari Hobi

Memulai bisnis sampingan dari hobi yang dimilikinya, memberikan jalan bagi Nina Zainab untuk memperoleh tambahan income yang cukup besar. Ketertarikannya dengan pembuatan pernak-pernik untuk pernikahan, membuat wanita cantik ini memiliki ketrampilan yang cukup unik yaitu berkreasi dalam pembuatan seserahan pernikahan. Berawal dari itulah, wanita berusia 29 tahun ini mencoba menjalankan bisnis sampingan jasa seserahan.

Usaha sampingan tersebut dimulai Nina, sejak Ia menempuh pendidikan jurusan Fashion Garmen, di Inter Study Jakarta Pusat. Ketika masih menjadi mahasiswi, Nina sering membantu teman-temannya yang sedang mengadakan pesta pernikahan. Dari mulai urusan penataan bunga, dekorasi pernikahan, sampai membuatkan seserahannya. Ternyata dari hobi yang dimilikinya, Nina bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk membiayai kuliahnya sendiri.

Walaupun usahanya sudah dirintis sejak kuliah, namun Nina baru mulai serius menekuni bisnisnya pada tahun 2007. Di sela-sela kesibukannya menjadi seorang staf di sebuah sekolah swasta, wanita yang akrab dipanggil Nina ini masih bisa meluangkan waktunya untuk menjalankan usaha jasa seserahan tersebut. Bermodalkan uang sekitar Rp 2 juta, Nina membeli bahan baku seperti kotak seserahan, plastik mika, serta hiasan lainnya yang berupa bunga maupun pita.

Untuk jasa yang ditawarkannya, Nina mematok harga dari mulai Rp 70.000,00 sampai Rp 300.000,00 untuk satu jenis seserahan. Ia menyesuaikan setiap bentuk dan isi seserahan sesuai dengan budget yang dimiliki calon pengantin. Jika budget yang dimiliki konsumen terbatas, Nina biasanya meminta konsumennya untuk membawa barang-barang bekas yang bisa dimanfaatkan untuk membungkus seserahan. Dari bahan-bahan tersebut, Nina akan mendaur ulangnya menjadi kemasan yang menarik. Contohnya saja seperti kaleng bekas, atau bunga kering yang bisa disemproti cat. Bukan itu saja, Ia juga menggunakan kain perca untuk hiasan maupun bantalan dalam kotak seserahan. Sehingga biaya yang dibutuhkan, tidak terlalu mahal. Walaupun menggunakan bahan-bahan daur ulang, namun hasil seserahan yang dibuat Nina tidak kalah cantik dengan produk seserahan yang ada di pasaran.

Yang terpenting baginya adalah, konsumen yang memesan produk seserahan bisa memperoleh kepuasan. Oleh karena itu sebelum membuatkan pesanan, Nina selalu memperhatikan karakter konsumennya untuk disesuaikan dengan desain seserahan yang akan dibuatkannya. Sehingga konsumen puas dengan desain seserahan yang dipesan.

Meskipun Nina harus menjalankan bisnis jasa seserahan di sela-sela kesibukannya sebagai karyawati, bukan berarti dia tidak bisa fokus menjalankan bisnis tersebut. Buktinya untuk mengembangkan usaha, Ia sengaja menambahkan dua tenaga kerja untuk membantu proses produksi.

Nah, bagi Anda yang tertarik untuk mencoba peluang bisnis sampingan. Anda bisa mengikuti kesuksesan Nina Zainab yang memulai bisnisnya sesuai dengan hobi, di sela-sela kesibukan Anda.

Semoga informasi profil pengusaha untuk pekan ini, bisa memberikan inspirasi bagi Anda yang sedang mencari ide bisnis sampingan dengan modal kecil. Selamat mencoba dan salam sukses.

Sumber : http://bisnisukm.com/memulai-bisnis-sampingan-dari-hobi.html

Mendulang Rupiah Dari Bisnis Hobi Anda

Beberapa waktu lalu masyarakat dibuat terheran heran dengan kegilaan masyarakat akan harga tanaman Anthurium yang luar biasa tinggi. Tidak saja masyarakat awam yang dibuat keheranan akan harga tanaman tersebut yang fantastis, namun juga aparat keamanan juga dibuat repot. Kenapa ? …… ternyata banyak pelaku kriminal beralih target mencari sasaran tanaman sebagai obyek kejahatan mereka.

Fenomena Anthurium sebagai booming hobi peliharaan mahal tidak hanya terjadi sekali ini, sebelumnya masyarakat pernah pula dihebohkan dengan demam ikan arawana, ikan lou han, tanaman aglaonema dsb.

Fenomena diatas menunjukkan bahwa masyarakat kita secara ekonomi banyak yang berkemampuan lebih meskipun populasinya tidak besar. Belajar dari demam anthurium dapat kita simak bahwa dari permintaan akan jenis anthurium yang luar biasa besar dapat sebagai penggerak ekonomi masyarakat setempat, contohnya di Kabupaten Karanganyar – Jawa Tengah. Disana banyak lahir orang-orang kaya baru dari hasil budidaya anthurium. Rumah-rumah warga banyak disulap dari rumah kayu reyot menjadi rumah tembok atau rumah satu lantai menjadi rumah bertingkat. Rumah dengan mobil-mobil baru dihalamannya juga banyak ditemui disana. Jadi sebenarnya bisnis hobi bukanlah bisnis ecek ecek kalau serius digarap, dan akan mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Tips bisnis hobi

Namun perlu disadari bahwa masyarakat konsumen penghobi tanaman/hewan mahal adalah tidak banyak jumlahnya namun budget yang disediakan oleh mereka adalah luar biasa besar. Jadi bila anda berminat berbisni hobi sebagai pendulang uang, ada beberapa tips yang perlu diketahui agar anda tidak bangkrut karenanya :

* Menjadi anggota komunitas penghobi
Komunitas penghobi tertentu dapat diibaratkan adalah sebuah pasar, dimana ditempat tersebut adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli. Kalau anda menjadi member suatu komunitas berarti anda memasuki pasar yang ramai dan dinamis. Disana banyak manfaat yang dapat kita peroleh, banyak informasi dapat kita gali disana. Dengan semakin berkembangnya dunia maya, tumbuh berkembang berbagai komunitas penghobi baik tanaman atau hewan, permainan/games dsb. Ada komunitas penghobi ikan koi, ikan cupang, tanaman anthurium dlsb.

Dengan bergabung sebagai anggota komunitas tersebut kita mendapat banyak manfaat terutama informasi tentang :
1. Budidaya/pemeliharaan
2. Tips yang bermanfaat
3. Informasi tentang pemasaran (penjual dan pembeli)
4. Jaringan pemasaran
5. Tren yang akan datang

* Cepat tanggap akan trend baru
Dari pengalaman terdahulu, kita dapat belajar bahwa trend hobi umumnya hanya bertahan sesaat dan kemudian digantikan dengan trend berikutnya. Jadi bilamana anda hendak terjun ke bisnis hobi adalah harus bisa melakukan kegiatan usaha baik produksi dan pemasaran dengan cepat, tahu timing produk mana akan booming dan produk mana yang akan surut. Semisal anda hendak berbisnis tanaman hias/produksi, pengetahuan tentang kultur jaringan adalah salah satu keunggulan atau solusi bagi anda agar bisa melakukan produksi secara masal dan cepat.

* Sediakan extra modal untuk trend berikutnya
Hasil penjualan yang anda peroleh harus disisihkan untuk modal mengantisipasi berubahnya trend, misal menyiapkan indukan, benih tanaman/hewan, sarana produksi yang diperkiraan akan menjadi trend berikutnya. Jadi bilamana trend yang sekarang sudah surut dan diganti trend yang lainnya, anda sudah siap menawarkan produk baru ke pasar.

* Sediakan tempat jualan / toko
Tempat jualan tidak perlu harus dalam bentuk toko konvensional namun bisa juga dalam bentuk toko virtual di dunia maya. Dengan berjualan di internet maka anda dapat menghemat biaya, karena biaya yang dikeluarkan hanya biaya sewa domain, hosting dan biaya pemasaran. Keuntungan lainnya adalah jangkauan pemasaran akan menjadi luas tidak seperti halnya di toko konvensional.

Potensi bisnis di dunia hobi baik tanaman ataupun hewan adalah sangat besar. Dengan karakteristik bahwa bisnis hobi adalah pada awalnya barang yang ditawarkan adalah barang ekslusif dengan jumlah supply yang sedikit, namun karena margin keuntungannya besar maka segera datang banyak pemain menawarkan produk yang lagi in tsb, sehingga akan segera cepat terjadi kejenuhan dan harga jualnya akan cepat turun. Bagaimanapun usaha pada sektor hobi dapat mendatangkan peluang sebagai pengais rejeki yang tidak kecil. Kunci kesuksesan dalam bisnis ini sangat tergantung pada kecermatan dan kecepatan anda dalam merespon pasar trend tersebut termasuk menyiapkan jaringan pemasaran yang baik.

Sumber : http://pengelolaankeuangan.wordpress.com/2008/11/26/mendulang-rupiah-dari-bisnis-hobi-anda/

Kamis, 17 November 2011

Tips Menyulap Hobi Menjadi Usaha Yang Menguntungkan

Mungkin anda sudah sering mendengar judul diatas. Ya, banyak sekali pengusaha muda yang sukses dengan mengawali usahanya dari sekedar hobi. Ada yang hobi mengumpulkan barang-barang antik, dan kemudian menjadi pengusaha barang antik. Ada juga yang senang memelihara ikan, kemudian menjadi pengusaha ikan hias bahkan ada ibu rumah tangga yang hobi memasak dan mencoba resep-resep baru kemudian berubah menjadi pengusaha katering terkenal. Hobi memang mudah dilaksanakan. Bahkan kata yang tepat, hobi sulit untuk ditinggalkan. Usaha-usaha yang diawali dari hobi umumnya berubah menjadi kesuksesan. Ini karena mereka mencintai pekerjaannya dan bersemangat untuk terus belajar menyempurnakan kemampuannya.

Tapi tak semua hobi bisa jadi usaha lho, berikut ini ciri-ciri hobi yang dapat dijadikan usaha. Jika ciri-ciri ini ada pada diri anda, maka bersiaplah untuk menjadi pengusaha sukses berikutnya.

Istiqomah / terus menerus
Apakah anda memiliki hobi yang tetap menyenangkan walaupun dilaksanakan secara berulang-ulang dan terus menerus? Jika ya, anda telah memiliki satu point untuk menjadikan hobi sebagai usaha. Namun jika anda merasa cepat bosan bila melaksanakan hobi secara terus menerus, maka itu berarti dua indikasi. Yang pertama, itu bukan hobi anda yang kedua anda memang belum bisa menjadikan hobi tersebut sebagai usaha.

Kenapa ciri ini harus ada pada usaha kita? Karena untuk menjadikan hobi sebagai usaha anda dituntut untuk mengejakannya berulang-ulang dan terus menerus. Boleh jadi anda memiliki pelanggan yang berbeda-beda setiap harinya, namun permintaan mereka biasanya hampir sama satu dengan lainnya. Maka kunci pertama menjadikan hobi sebagai usaha adalah sanggup istiqomah atau terus menerus.

Berhargakah?
Beberapa hobi mungkin memiliki nilai jual tinggi, namun sebagian yang lain sama sekali tak dibutuhkan oleh pasar. Untuk menilainya, anda harus melakukan penelitian pasar terlebih dahulu. Apakah ada yang berminat dengan hobi anda atau justru malah sebaliknya hobi anda tak memiliki peminat sama sekali. Jika ini yang terjadi, sebaiknya tidak dipaksakan daripada hasilnya nihil nantinya.

Walau begitu, jika anda memiliki kecintaan yang besar terhadap hobi anda dan kemampuan marketing anda bagus, hobi tersebut masih berpeluang lho dalam memperoleh keuntungan. Mc Donald dulu harus menanggung malu karena ditertawakan orang karena menjual donat yang berhias bahkan ada yang tak memiliki lobang. Tapi sekarang, retailnya sudah menyebar hampir ke seluruh dunia.

Mampu Memotivasi
Apakah hobi anda masih mampu memotivasi anda untuk terus menekuninya hingga 10 – 15 tahun mendatang? Hobi yang menarik biasanya memang bisa memotivasi pelakunya bukan hanya 10-15 tahun tapi seumur hidupnya. Jika anda memiliki hobi seperti ini, satu point lagi anda dapatkan.

Tetap Menarik
Usaha yang akan anda laksanakan haruslah tetap menarik walau telah berlangsung puluhan tahun. Jika anda mulai kehilangan ketertarikan pada hobi anda, maka itu adalah awal dari kebangkrutan bisnis anda. Maka cobalah lihat kembali apakah hobi anda begitu menariknya hingga anda takkan kehilangan kecintaan padanya meski telah ditekuni puluhan tahun. Satu point lagi berhak anda miliki jika hobi tersebut mampu membuat anda tertarik puluhan tahun

Bila anda mendapatkan keempat hal diatas pada hobi anda, maka kenapa menunggu lebih lama lagi, segera matangkan konsep dan mulailah menyulapnya menjadi usaha anda. Mungkin sebagai awal masih berupa usaha sampingan. Namun seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya pelanggan anda, bisa jadi usaha sampingan itu mampu menjadi usaha penopang hidup keluarga.

Satu hal yang ingin kami tekankan disini adalah,”Cintailah pekerjaan anda”. Jika anda cinta pada pekerjaan, maka iapun akan ringan dan menyenangkan bagi anda. Semoga Sukses !!

Sumber : http://bisnisukm.com/menyulap-hobi-menjadi-usaha.html

Rabu, 16 November 2011

Hobi Bisa Menjadi Salah Satu Cara Untuk Memulai Usaha

Saat ini kita lihat fenomena banyaknya kaum perempuan bahkan ibu-ibu di pedesaan yang menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) Ke luar seperti Arab Saudi, Hongkong, Malaysia dan negara lainnya. Padahal sudah banyak kasus buruk yang menimpa TKW kita terjadi di luar negri dan sangat memperhatikan seperti penganiayaan oleh majikan, pemotongan gaji yang terlampau besar dari agen, perlindungan hukum yang terlalu lemah dan lainnya.Selain itu, ada permasalahan yang lebih prinsip lagi yaitu mereka terpaksa meninggalkan suami dan anak-anaknya.

Tetapi kelihatannya hal ini tidak menyurutkan langkah kaum wanita di pedesaan untuk pergi menjadi TKW. Tawaran penghasilan yang besar, iming-iming dari mereka yang sukses membawa uang banyak kembali ke kampung dan terutama yaitu sulitnya mencari pekerjaan di kampung menjadi alasan para kaum wanita di pedesaan menjadi TKW. Apakah benar kalau peluang di kampung lebih sempit di bandingkan perkotaan, sehingga harus berbondong-bondong ke kota bahkan ke luar negeri?

Tanah air kita kaya lho..bahkan ada pepatah tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Penduduknya juga padat sehingga potensi pasar di depan kita sangat besar. Mereka itu perlu banyak hal untuk kebutuhan hidupnya dari makanan, sandang, pangan, pendidikan dan lain-lain. Semua kebutuhan hidup manusia itu berpotensi menjadi peluang usaha.

Jadi peluang dan ide usaha itu bisa muncul dimana-mana dan tidak hanya menjadi monopoli warga perkotaan saja, tetapi bisa saja muncul di daerah terpencil sekalipun. Tinggal kita mengamati, apa saja kebutuhan warga setempat yang bisa dipenuhi oleh kita. Atau potensi apa yang bisa digali dari alam setempat untuk dijadikan ide usaha.Kalau perlu jajaki juga kemungkinan eskpor produk ke perkotaan atau tempat lain yang membutuhkan. Misalnya buat aneka snack yang dijual ke toko kue atau supermarket di kota,bahkan diekspor ke luar negeri. Kendala yang paling banyak dihadapi oleh kaum ibu untuk berwirausaha adalah bagaimana menemukan ide usaha yang cocok bagi dirinya. Padahal tidak usah jauh-jauh mencari ide usaha, karena kita bisa mengembangkan hobi yang kita minati menjadi ide usaha. Benar nggak sih?

Setiap orang entah di perkotaan atau pedesaan pasti mempunyai hobi dan kegemaran. Ada yang hobinya memasak, membaca, menulis, merawat tanaman dan lain-lain. Biasanya hobi memberikan manfaat yang menyenangkan bagi kita yaitu menghibur dan menghindari diri dari stress. Maka bila kita sudah menekuni hobi maka bisa lupa waktu bahkan ada pula yang rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar asalkan hobinya tersalurkan. Wah barabe juga bila hobi yang ditekuni malah menghabiskan uang. Bukankah akan lebih enak kalau kita bisa ubah hobi ini dari menghabiskan uang menjadi mendatangkan uang !!!!! Hobi tersalurkan, uangpun didapat.

Lalu apakah memang mungkin hobi yang kita jalani bisa mendatangkan uang? jelas bisa dong. Coba kita lihat, bila hobi bercocok tanam yang bisa dikembangkan di kampung kan mendatangkan penghasilan kalau hasil tanaman dijual di kota. Atau hobi memelihara ikan, burung dan ternak sangat berpotensi bila hasilnya di pasarkan. Katanya sih usaha yang dimulai dari hobi akan bisa berkembang dengan baik. Ini bukan pendapat semata-mata lho, tetapi didukung juga dengan riset dari pengamat wirausaha dari Amerika Serikat yaitu Thomas Stanley. “Dia menyatakan dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa 86% orang yang sukses dalam usaha dan karir karena mencintai dan meminati bidang usaha yang digelutinya.”

Faktor lain yang mendukung kenapa usaha dari hobi bisa berkembang dengan baik juga karena kita paham dan tahu seluk-beluknya. Keahlian tentunya tidak datang begitu saja tetapi karena kita rajin memupuk hobi dan akhirnya tahu seluk beluknya secara detail dan otomatis kita berpotensi menjadi yang terbaik di bidang itu.

Hobi tidak sekedar kenangan semata tetapi bisa dikembangkan menjadi bisnis. Lalu bagaimana caranya? Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan, yaitu :

Pertama, tekuni hobi sehingga kita bisa menjadi ahli yang terbaik di bidang itu. Misalnya, bila mempunyai hobi memasak maka bercita-citalah menjadi juru masak yang handal. Caranya? Tentunya luangkan waktu yang lebih banyak untuk mengasah ketrampilan bidang memasak atau menambah pengetahuan dengan mengikuti kursus memasak. Banyaklah membaca buku seputar memasak dan lakukan praktek terus-menerus agar masakan yang kita hasilkan bisa layak jual dan disukai orang.

Kedua, carilah peluang dari hobi yang kita tekuni apakah bisa berpotensi bisnis atau tidak. Percuma juga kan bila hobi yang kita tekuni tetapi ternyata tidak mempunyai prospek bisnis. Jadi lakukan survey pasar kecil-kecilan apakah produk yang kita hasilkan cukup diminati pasar. Pada dasarnya semua hobi bisa dikomersialisasi, asalkan kita tahu dimana celahnya untuk menjaring peluang dari hobi tersebut. Bahkan hobi belanja pun bisa jadi peluang usaha. Di luar negri, ada pusat pembelanjaan, terutama bagian fashion, yang menyediakan “pembelanja pribadi”, yaitu konsultan yang mendampingi konsumen ketika belanja. Mereka yang memberi pertimbangan baik-buruk, pantas tidak pantas untuk konsumennya yang ragu dengan model baju yang dipilihnya.

Ketiga, belajar dari mentor-mentor yang sudah sukses di bidangnya. Di manapun tempatnya pasti ada orang yan sudah sukses menjalankan usaha yang kita tekuni, maka tidak ada salahnya untuk menghubungi orang tersebut untuk belajar bagaimana menghasilkan karya yang baik. Selain itu bila kita bisa menjalin hubungan dengan mentor yang terbukti sukses, kita tentu lebih termotivasi untuk mengikuti jejaknya. Dan yang lebih penting lagi, produk yang kita hasilkan akan dinilai oleh orang yang cukup berkompeten sehingga kita bisa mengadakan evaluasi terus menerus.

Keempat, bergabunglah dalam komunitas atau asosiasi bisnis yang mewadahi hobi yang ditekuni. Misalnya hobi memasak bisa bergabung pada club memasak yang biasanya diadakan oleh majalah tertentu. Saat ini klub-klub seperti itu juga berkembang sampai ke daerah lho. Banyak manfaat yang bisa di dapatkan bila aktif dikomunitas bisnis, diantaranya bisa dapat info terbaru untuk meningkatkan kualitas produk kita, bisa juga dari info pelanggan baru, rekanan baru atau permodal.

Kelima, rajinlah melakukan promosi dan penawaran produk atau jasa yang kita miliki. Caranya, dengan melakukan penawaran yang intensif hasil karya kita ke lingkungan terdekat kita. Bisa teman, tetangga, anggota klub bisnis atau bisa juga melakukan penawaran ke toko-toko terdekat.

Ide usaha bertebaran di mana-mana baik di kota maupun di desa. Bila kita memulai hobi dengan didasari kecintaan kita, serta motivasi yang tinggi untuk memberi manfaat sebesar-besarnya, maka insya Allah bisa berhasil.

Sumber : http://bisnisukm.com/hobi-sebagai-peluang-usaha.html

Selasa, 15 November 2011

Kiat Sukses Membangun Kepercayaan Diri

Banyak ahli menilai, percaya diri merupakan faktor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri.

Dalam dimensi yang sangat luas, sukses adalah milik semua orang. Tetapi, tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan atau meraih kesuksesan. Kebanyakan orang menilai bahwa kesuksesan adalah milik orang-orang yang ber-IQ tinggi, lulusan sekolah terbaik dan memilih spesialisasi yang paling terkenal.

Penilaian ini memang tidak sepenuhnya salah, tetapi kita juga harus melihat fenomena yang lebih luas, bahwa tidak sedikit orang-orang sukses yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Dengan kata lain, IQ tinggi, lulusan sekolah terbaik dan spesialisasi yang terkenal hanyalah bagian dari penunjang kesuksesan.

Di luar kemampuan itu, ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam memprediksi kesuksesan seseorang; itulah yang kita sebut, antusiasme, hasrat, ketekunan, kerja keras, serta kebulatan tekad seumur hidup yang dimilikinya.

Sebagian pakar menilai bahwa untuk mencapai sukses, kematangan pribadi seseorang sangat dibutuhkan. Sebab kematangan pribadi akan mengantarkan seseorang pada sikap optimis dan kesadaran bahwa apa yang dicita-citakannya akan mudah diraih.

Di sisi lain, meraih kesuksesan jelas bukanlah perkara gampang. Ketika kita berusaha untuk meraih apa yang kita inginkan, tentu banyak tantangan yang harus dihadapi. Ada kalanya seseorang begitu tegar, tetapi tidak sedikit juga yang patah semangat bahkan menyerah karena merasa tidak sanggup menghadapi tantangan yang ada di depannya.

Pada saat semacam inilah, rasa percaya diri sangat penting ditumbuhkan. Banyak ahli menilai bahwa percaya diri merupakan faktor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri. Berikut ini adalah beberapa kiat guna membangun percaya diri.

Pertama, berani menerima tanggung jawab. Gerald Kushel, Ed.D., direktur The Institute of Effective Thinking, pernah mengadakan penelitian terhadap sejumlah manajer. Dari penelitian tersebut, Kushel menyimpulkan bahwa ia menemukan sifat terpenting yang dimiliki oleh hampir semua manajer yang memiliki kinerja tinggi.

Dan sifat tersebut adalah rasa tanggung jawab yang mendorong mereka untuk tampil "sempurna" tanpa peduli pada hambatan apapun yang menghadangnya. Sebaliknya, manajer yang berkinerja buruk dan gagal mencapai kapasitas maksimumnya cenderung melimpahkan kesalahannya pada siapa saja.

Kedua, kembangkan nilai positif. Jalan menuju kepercayaan diri akan semakin cepat manakala kita mengembangkan nilai-nilai positif pada diri sendiri. Menurut psikolog Robert Anthony, PhD., salah satu cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif adalah dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan yang mematikan dan menggantinya dengan ungkapan-ungkapan kreatif. Dia menganjurkan membuat peralihan bahasa yang sederhana tapi efektif dari pernyataan negatif ke pernyataan positif. Misalnya, mengganti kata, "Saya tidak bisa," menjadi, "Saya bisa!"

Ketiga, bacalah potensi diri. Segeralah lacak, gali, dan eksplorasi potensi sukses yang ada pada diri kita. Misalnya dengan bertanya kepada orang-orang terdekat. Termasuk juga mengikuti psikotes dan mendatangi para ahli seperti psikiater, dokter bahkan kiai untuk melacak potensi kita. Karena bisa jadi sangat banyak potensi yang kita miliki tanpa kita sadari, sehingga tidak berhasil kita gali.

Keempat, berani mengambil risiko. Keberanian dalam mengambil risiko ini penting, sebab daripada menyerah pada rasa takut alangkah lebih baik belajar mengambil risiko yang masuk akal. Cobalah menerima tantangan, kendati terasa menakutkan atau menciutkan hati. Cari dukungan sebanyak mungkin.

Dengan melakukan hal ini, kita akan mendapat banyak peluang yang tak ternilai harganya. Namun jangan lupa, ketika mencoba sesuatu kita harus siap dengan hasil yang sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan.

Kalau hasilnya tak sesuai dengan keinginan, bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah. Kalau kita sudah mencoba, maka niatnya saja sudah menjadi amal. Orang yang gagal adalah orang yang tak pernah berani mencoba. Bukankah menaiki anak tangga kelima puluh harus diawali dengan tangga pertama?

Kelima, tolaklah saran negatif. Bisa jadi, tidak semua orang di sekitar kita memberikan dorongan, dukungan, dan bersikap positif pada kita. Sebagian dari orang yang ada di sekitar kita mungkin berpikiran negatif. Hal inilah yang tak jarang malah melunturkan rasa percaya diri kita dengan mempertanyakan kemampuan, pengalaman, dan aspirasi-aspirasi kita.

Dengan demikian, mungkin ada baiknya jika kita sedikit mengambil jarak dengan sebijak mungkin bila ada pihak-pihak yang mencoba melunturkan kepercayaan diri kita. Keenam, ikuti saran positif. Rasa percaya diri merupakan sifat "menular". Artinya, jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki cara pandang positif, bersemangat, optimis, dsb, maka kita memiliki kecenderungan untuk meniru sifat tersebut.

Karena itu, carilah lingkungan yang bisa memotivasi kita untuk sukses. Kita harus mulai senang bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk bangkit. Bergaul dengan orang-orang yang percaya diri akan berbeda dibandingkan bergaul dengan orang-orang yang gagal. Sebab bergaul dengan orang-orang yang percaya diri, Insya Allah semangatnya akan menular kepada diri kita.

Ketujuh, jadikan keresahan sebagai kawan. Banyak peristiwa atau saat-saat dalam kehidupan yang dapat membuat kita mengalami rasa cemas atau gelisah. Akibatnya, kita mengalami krisis percaya diri. Saat itulah kita harus mulai mengingatkan diri sendiri bahwa rasa cemas dan gelisah merupakan kawan. Tingkatkan energi, tajamkan kecerdasan, tinggikan kewaspadaan, dan kembangkan pancaindera. Daripada menyia-nyiakan energi untuk kecemasan yang sia-sia, lebih baik menghadapi tantangan itu secara tegas dan efektif.

Sesudah perhitungan kita matang, selanjutnya kepercayaan diri akan bertambah dengan memperkokoh ibadah dan doa, karena doa dan ibadah dapat mengundang pertolongan Allah. Semakin kokoh ibadah kita, makin kuat doa-doa kita, dan keyakinan kita dengan pertolongan Allah, maka itu bisa meningkatkan percaya diri.

Sumber : http://www.republika.co.id/

Minggu, 13 November 2011

Burung Dara Goreng Lesehan Dan Chinese Food

Berkunjung ke Yogya, serasa tak lengkap tanpa menjenguk suasana malam di Malioboro. Menyusuri trotoar Malioboro, belum sempurna tanpa singgah di warung "lesehan". Dan sambil duduk lesehan, tentu tak sedap kalau tak mencicipi "menu wajib" burung dara goreng. Demikian pula warung-warung di kakilima Pecenongan, Jakarta; jl. Margonda, Depok dan lain-lain yang menjadikan burung dara goreng sebagai menu khas yang diandalkan. Namun ada perbedaan antara burung dara goreng yang disajikan di kakilima dengan burung dara goreng di restoran Chinese Food papan atas. Di warung lesehan kakilima, burung dara gorengnya adalah anak merpati balap (burung merpati biasa). Sementara di restoran Chinese Food papan atas, burung dara gorengnya adalah anak Homer King Pigeon, merpati potong yang khusus dipelihara untuk memproduksi daging.

Anak merpati balap yang disajikan sebagai "burung dara goreng" rata-rata hanya sekitar 0,25 kg per ekor. Sementara Homer King Pigeon rata-rata 0,5 kg. per ekor. Daging Homer King juga lebih tebal dan lebih lunak. Daging merpati balap kadang kala agak alot dan tipis. Namun karena pasokan Homer King sangat terbatas, maka merpati balap tetap mendapatkan tempat sebagai burung dara goreng di warung lesehan dan Chinese Food papan bawah. Faktor strata kemampuan ekonomi ini pulalah yang menjadi penyebab terciptanya strata menu burung dara goreng. Sebab harga anak merpati balap, paling tinggi hanya Rp 5.000,- per ekor hidup. Sementara anak Homer King bisa dihargai Rp 17.500,- per ekor. Tingginya harga merpati potong Homer King, disebabkan oleh masih sedikitnya peternak yang mengetahui celah bisnis ini.

Beda dengan anak merpati balap yang bisnisnya hanya merupakan "sambilan" dari hobi memelihara merpati, maka berternak Homer King harus diurus dengan serius. Kalau merpati balap boleh bebas beterbangan, Homer King harus tetap berada dalam kandang, makan, tidur, kawin, bertelur dan mengerami telur sampai menetas. Anak merpati itu harus disuapi sampai umur 10 sd. 14 hari dan siap diambil untuk dikirim ke Chinese Food Restaurant sebagai bahan menu "burung dara goreng". Pada umur itulah, bobot anak homer king rata-rata 0,5 kg. hidup.

Sebenarnya "teknologi" budidaya Homer King sudah benar-benar final dengan rumus yang sangat baku. Namun usaha ini sangat padat modal dan bukannya padat karya. Pasar hotel bintang dan Chinese Food di DKI Jakarta, pasti masih ringan kalau hanya menyerap 100 ekor anak Homer King per hari. Tetapi untuk bisa memasok 100 ekor anak burung dara per hari, diperlukan modal investasi Rp 600.000.000,- dan modal kerja Rp 300.000,- per hari. Investasi Rp 600.000.000,- itu, yang Rp 250.000.000,- untuk 1000 ekor pasang induk @ Rp 250.000,- kandang Rp 300.000.000,- dan pakan, obat-obatan serta tenaga kerja (sampai dengan menghasilkan) Rp 50.000.000,-

Modal investasi itu bisa disusutkan selama 5 tahun atau @ hari Rp 330.000,- Biaya pakan, obat-obatan dan tenaga kerja sebagai modal kerja, menjapai Rp 320.000,- per hari. Hingga harga pokok 100 ekor anak Homer King adalah Rp 650.000,- : 100 = Rp 6.500,- per ekor. Kalau di tingkat hotel dan restoran harga anak merpati Rp 17.500,- per ekor, maka di tingkat peternak Rp 15.000,- per ekor. Dengan harga pokok Rp 6.500,- per ekor, maka marjin kotor usaha agroindustri daging Homer King Pigeon adalah Rp 8.500,- per ekor. Dengan hasil 100 ekor per hari, maka total marjin kotor yang didapat menjadi Rp 850.000,- per hari.

Dibanding dengan ayam pedaging, sebenarnya budidaya merpati Homer King lebih menguntungkan. Karena dari 0,8 kg. pakan yang masuk ke kandang tiap hari, dapat dihasilkan 0,5 kg anak merpati, apabila produksi sudah optimum. Namun untuk memperoleh 1000 pasang bibit Homer King sekaligus, sekarang ini tidak mudah. Hingga alternatifnya adalah dengan pemeliharaan secara bertahap. Mula-mula hanya dibeli 50 pasang induk dengan investasi Rp 12.500.000,- kandang Rp 15.000.000,- pakan, obat-obatan dan tenaga kerja Rp 2.500.000,- (sampai menghasilkan) atau total Rp 20.000.000,- Dari modal tersebut, akan dapat dihasilkan anak burung 40 ekor (20 pasang) per hari.

Untuk menjadi calon induk, anak merpati itu harus dibesarkan sampai umur 4 bulan, dengan biaya pembesaran Rp 50.000,- per ekor. Hingga harga pokok bibit merpati "hasil produksi sendiri" hanya Rp 100.000,- per pasang. Berarti ada penghematan biaya bibit Rp 150.000,- per pasang atau untuk 1000 ekor bibit, penghematannya Rp 150.000.000,- Namun untuk bisa memperoleh 1000 pasang bibit calon induk, diperlukan jangka waktu 50 hari. ditambah 4 bulan atau 5 bulan 20 hari atau 0,5 tahun. Untuk bisa berproduksi optimal, masih diperlukan jangka waktu sekitar 5 bulan lagi. Namun dari penghematan biaya investasi bibit tersebut, benab penyusutan per hari akan menurun, hingga marjin kotor yang diperoleh bukan hanya Rp 850.000,- per hari, melainkan naik menjadi Rp 920.000,- Agar kontinuitas produksi tidak terhambat, maka pada akhir tahun IV, kita sudah harus investasi induk baru. Hingga ketika akhir tahun V induk lama diafkir, maka induk baru sudah mulai berproduksi optimal.

Lokasi peternakan merpati potong, idealnya berketinggian minimal 700 m. dpl. Misalnya kawasan Cisarua di Kab, Bogor. Sebab sama halnya dengan ayam broiller, merpati potong berasal dari negeri sub tropis, yang rentan terhadap udara panas. Saat ini, peternakan Homer King yang berkembang hanyalah di Kab Bandung, setelah sebelumnya berkembang di Kab. Sukabumi. Tersendatnya pengembangan budidaya merpati potong, sebenarnya bukan karena faktor pasar, melainkan modal. Sebab, meskipun pasar merpati potong bersifat tertutup (khusus), namun peluangnya masih cukup longgar. Hingga permintaan dari Singapura dan Hongkong pun, sampai saat ini tidak pernah bisa kita penuhi. Sebab pasar DKI dan kota-kota besar lain di Indonesia pun, saat ini juga masih mengandalkan anak merpati balap sebagai menu burung dara goreng mereka, karena pasokan Homer King yang tak kunjung datang.

Kendala yang juga akan dihadapi oleh para calon investor budidaya Homer King adalah, sedikitnya tenaga terampil pengelola peternakan. Selama 30 tahun terakhir ini, perkembangan budidaya merpati potong hanyalah berupa estafet investor. Investornya ganti-ganti terus, sementara tenaga terampilnya hanya itu-itu saja. Sebab para peternak yang sudah sukses, rata-rata bersikap tertutup soal teknis budidaya. Padahal sebenarnya secara teknis, budidaya merpati potong tidak ada yang perlu dirahasiakan. Akibatnya, calon investor tidak mungkin "memagangkan" tenaga mereka untuk belajar pada peternak yang telah sukses. Karena tertutup peluang untuk memagangkan tenaganya, maka investor baru itu memberi "iming-iming" gaji dan fasilitas lebih tinggi pada tenaga terampil di peternakan lama tersebut.

Kalau upaya itu berhasil, maka akan pindahlah tenaga terempil tersebut ke peternak baru. Begitu ditinggal oleh tenaga yang diandalkan, peternak lama tersebut pelan-pelan surut hingga akhirnya tutup. Demikian seterusnya, hingga secara nasional, agroindustri merpati potong di Indonesia hanya berjalan di tempat. Sementara peluang pasar terus berkembang, sejalan dengan meningkatnya populasi masyarakat kelas menengah dan atas di Indonesia. Komoditas merpati potong memang "terlewatkan" dari perhatian pemerintah. Beda dengan ternak itik, ayam pedaging, sapi perah dan sapi pedaging. Peternakan lebah madu, masih bernasib lebih baik karena diurus oleh Pusat Apiari Pramuka dan Perum Perhutani.

Teknologi perkandangan dengan sistem baterai, ketersediaan pakan bernutrisi tinggi, sebenarnya merupakan kemudahan yang akan memberikan jamminan hasil budidaya secara optimal. Tingkat keuntungan yang relatif tinggi dalam jangka pendek dengan resiko kecil, sebenarnya cukup menantang untuk melakukan investasi merpati potong. Sementara lahan yang diperlukan juga tidak terlalu luas untuk ukuran investasi dengan nilai sampai ratusan juta rupiah. Sifat pasar yang tertutup sebenarnya justru lebih memudahkan penggarapan jika dibanding dengan pasar terbuka. Sifat pasar demikian juga akan memberikan jaminan bahwa produk yang dihasilkan tidak akan dicuri atau dijarah. Sebab mamasarkan merpati potong tentu tidak semudah menjual ayam kampung maupun broiller.

Kalau warung-warung lesehan di Malioboro menyajikan burung dara goreng yang berasal dari merpati balap, konsumen masih sangat memakluminya. Namun kalau restoran Chinese Food juga "terpaksa" ikut menyajikan merpati kampung, maka sebenarnya kita telah menyia-nyiakan peluang investasi yang cukup menarik. Lebih-lebih kalau kita juga berhasrat untuk membidik pasar ekspor. Dengan harga FOB dan melepas barang di Bandara, sebenarnya para peternak Homer King tidakperlu terlalu mencemaskan segala kerepotan prosedur ekspor. Sebab para pembeli luar negeri itulah yang akan mengurus karantina dan lain-lain. Sementara peternak cukup membawa barangnya ke bandara dan menerima uang cash.

Sumber : http://foragri.blogsome.com/burung-dara-goreng-lesehan-dan-chinese-food/

Jumat, 11 November 2011

Menikmati Gurihnya Laba Icip-icip Jangkrik

Hewan bernama jangkrik (gryllus sp) lebih banyak beken sebagai salah satu bahan pakan ayam atau burung. Lebih dari itu, jangkrik sering dipelihara anak-anak ataupun di rumah-rumah sebagai hewan aduan ataupun sebagai pengusir tikus.

Namun, banyak penelitian menyebutkan bahwa kandungan gizi dalam daging jangkrik ternyata bermanfaat bagi manusia. Kandungan proteinnya tiga kali lipat kandungan daging ayam, sapi dan udang.

Jangkrik juga mengandung protein omega 3, omega 6 dan omega 9 yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Selain itu, konsumsi jangkrik dipercaya dapat menambah stamina tubuh, menambah gairah seksual, serta mampu menunda menopause bagi wanita.

Tak heran jika jangkrik kemudian marak dibudidayakan. Apalagi pada tahun 1998 ketika budidaya jangkrik dan cacing sedang booming. Saat ini, sebagian besar hasil budidaya jangkrik untuk pasokan pakan ternak.

Namun, di tangan Sri Rahayu, pemilik Sri Gryllus/Latansa, jangkrik diolah menjadi peluang usaha baru yang patut dilirik. Yaitu sebagai makanan siap saji. Seperti peyek, rendang, balado, biskuit dan srundeng.

Semua makanan ini sudah mendapat sertifikat dari dinas kesehatan dan dari MUI setempat. sehingga halal dan aman dimakan. “Tapi hati- hati, yang alergi udang tidak bisa makan ini,” tutur Sri.

Dari hasil jualan jangriknya ini, nenek berusia 66 tahun ini bisa mendapat penghasilan antara Rp 7 juta sampai Rp 8 juta per bulannya. Padahal wilayah pasar utamanya masih sekitar Riau saja.

Menurut Sri, tahun 1998 silam dirinya tertarik membudidayakan jangkrik. “Gara-garanya, di Jogja waktu itu sedang marak budidaya jangkrik. Lalu saya tertarik mempelajari dari buku,” ujarnya.

Tanpa pikir panjang, Sri lantas membeli 300 ekor jangkrik betina dan 100 ekor jangkrik jantan. Harganya waktu itu Rp 25 per ekor. “Budidaya jangkrik sangat mudah dan tidak makan tempat. Cukup sediakan kotak-kotak khusus saja,” ujar Sri enteng. Sri sendiri saat ini tinggal memiliki 30 kotak jangkrik berisi masing-masing 4000 ekor jangkrik.

Kemudian, tahun 2000 Sri mulai panen jutaan ekor jangkrik. Sayang, waktu itu harga jangkrik sedang turun. Bingung harus berbuat apa, Sri lantas menggoreng jangkrik-jangkrik tersebut dan dibagikannya ke teman-temannya. “Rata-rata suka dan bilang enak. Dari situ saya berfikir bahwa ada peluang usaha di jangkrik ini,” ujarnya.

Sejak itu, Sri terkenal sebagai pengusaha kapsul jangkrik. Kapsul tersebut dijual seharga Rp 100.000 per botol dengan isi 50 butir kapsul. Beratnya 500 miligram. “Dalam sebulan, saya bisa memenuhi pesanan kapsul sebanyak 20 kilo kapsul,” ujarnya senang.

Nah, tahun 2008 silam, Sri kembali melakukan kreasi dengan membuat peyek jangkrik. Tak disangka, peminatnya membeludak. Dalam sebulan, Sri bisa menghasilkan 15 kilo peyek yang dijual seharga Rp 60.000 per kilo. Peyek jangkrik ini bisa tahan sampai 20 hari.

Sementara bahan jangkriknya hanya butuh 5 kilo saja. “Kalau sedang kekurangan jangkrik, saya ambil dari jangkrik pembudidaya lain seharga Rp 45.000 per kilo. Tapi jarang,” ujarnya.

Setelah sukses dengan peyek jangkrik, Sri lantas berinovasi membuat rendang jangkrik. “Kebetulan di Riau banyak orang Minang. Mereka kan suka rendang,” kilahnya.

Dalam sebulan, Sri bisa membuat 12 kilo rendang dari bahan 10 kilo jangkrik. Harga jualnya Rp 80.000 per kilo. Makanan ini bisa tahan sampai tiga bulan.

Lantas, muncul pula balado jangkrik. Untuk makanan jenis ini, jangkrik dan sambal (balado) digoreng terpisah. Lalu setelah itu, dicampurkan. “Untuk balado ini belum banyak peminatnya. Saya hanya buat 8 kilo sebulan. Harganya Rp 80.000 per kilo,” lanjut Sri. Balado ini tahan selama sebulan.

Ada juga biskuit jangkrik. Bahan-bahannya dari kelapa, jahe dan jangkrik yang digiling halus dan ditambahkan telor serta mentega. Setelah jadi adonan, dicetak. “Warna biskuitnya hitam seperti Oreo. Jadi banyak yang suka,” kekeh Sri.

Dalam sebulan, Sri bisa memproduksi 20 kilo biskuit dengan bahan jangkrik sebanyak 10 kilo. Harganya Rp 60.000 per kilo. Tak hanya itu, Sri juga membuat serundeng jangkrik. Dalam sebulan, Sri bisa membuat lima kilo serundeng jangkrik seharga Rp 30.000 per kilo. “Bahan jangkriknya sedikit karena hanya untuk suwiran saja,” ujarnya.

Lantaran unik, produk Sri sering mendapat kesempatan pameran ke luar negeri sebagai produk unggulan Provinsi Riau. Misalkan saja ke Korea Selatan, Taiwan dan Singapura. “Sampai saat ini, mungkin baru saya pemain olahan makanan jangkrik ini,” pungkasnya

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2009/07/26/11285625/Menikmati.Gurihnya.Laba.Icip.icip.Jangkrik

Kamis, 10 November 2011

Sukses Bisnis Barang Koleksi

Hobi koleksi Mas Abi teman seangkatan saya, bermula sejak kelas satu SMP, gara-gara hadiah sebuah album perangko yang sudah ada isinya sebagian dari sang kakek yang philatelist (pengumpul perangko). Sejak itulah kegemaran mengumpulkan perangko Abi berkembang apalagi dapat dorongan dari ayahnya yang juga seorang philatelis. Koleksi Abi menjadi tambah lengkap sejak dapat warisan album koleksi sang kakek sewaktu beliau meninggal.

Hobinya berlanjut sampai dia kuliah, bahkan sewaktu kuliah dia gabungkan hobinya tersebut dengan bisnis, jual beli perangko antar philatelist, hasilnya biaya kuliah dapat dia cari sendiri dari keuntungan bisnis perangkonya. Hal ini terus berlanjut sampai sewaktu Abi sudah bekerja. Pernah suatu ketika secara iseng waktu dia bepergian ke Singapura, membawa beberapa lembar perangko yang kebetulan berlebih.

Di Singapura barang tersebut ditawarkan ke toko perangko setempat ternyata harganya sangat bagus, walhasil dengan menjual perangko yang di bawanya ongkos pulang pergi ke Singpura plus beli oleh-oleh dapat ditutup, bahkan berlebih. Dia secara lebih aktif berbisnis perangko dan hasilnya dengan kegiatan tersebut dia berhasil membeli rumah dan berpenghasilan sampingan yang lebih tinggi dari gajinya. Karenanya dia putuskan berhenti dari bekerja dan menekuninya bisnis tersebut sampai sekarang.

Yanto, senang akan mata uang sejak dia menyaksikan sepulang kerja dari kantornya seorang pedagang mata uang di trotoar jalan yang banyak dikerumuni orang. Secara iseng dia dekati dan bertanya tentang bisnisnya, ternyata sangat menarik dan memberi keuntungan. Karena tertarik dia mulai belajar dan mencoba bisnis tersebut, ternyata sangat besar potensinya.

Setelah dirasa mantap, dia memutuskan konsentrasi dalam bisnis tersebut dan keluar dari kantornya sebuah bank swasta. Dia tekuni bisnis mata uang baik Indonesia dan asing serta mempelajari seluk beluk mata uang Indonesia khususnya. Kegiatan tersebut dia jalankan sampai sekarang dengan hasil nyata, sebuah rumah di real estate, kendaraan roda empat dan penghasilan yang tidak kalah besar dibanding dengan gajinya sewaktu dia kerja di bank swasta, bahkan sekarang mempunyai sebuah toko khusus di mall ternama dengan omzet jutaan setiap bulannya. Keduanya tertarik dan menekuni dan menjadikan hobi koleksinya sebagai profesi utamanya. Sebenarnya semua orang sejak kecil,mempunyai naluri kegemaran mengumpulkan dan menyimpan barang sudah ada. Anak-anak senang sekali mengumpulkan mainan, remaja senang menyimpan barang kesukaannya. Kegemaran ini dikenal sebagai hobi koleksi.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, hobi diartikan sebagai kegemaran atau kesenangan istimewa pada waktu senggang, dilakukan secara terus menerus tetapi bukan pekerjaan utama. Hobi koleksi kegemaran mengumpulkan dan menyimpan barang.. Sebagaimana hobi lainnya dewasa ini hobi koleksi merupakan salah satu hobi yang cukup populer dan banyak penggemarnya, tidak saja koleksi barang yang sudah jamak atau umum, tetapi juga barang langka dan belum dikenal. Dari hobi koleksi muncul beberapa jenis profesi, antara lain bisnis barang koleksi, sehingga kegiatan tersebut tidak saja sekedar kegiatan sambilan tetapi menjadi utama. Dewasa ini tidak jarang profesi utama seseorang bermula dari hobi koleksi. Tidak sedikit yang menjadikannya sebagai usaha utama dan sumber mata pencaharian yang sukses.

Semua barang dapat dijadikan obyek koleksi. Istilah kerennya kumpulan barang yang dirawat dan diatur secara rapi dikenal sebagai koleksi, penekun hobi koleksi dikenal dengan sebutan kolektor. Koleksi apapun dapat dijadikan bisnis atau diperjual belikan yang menghasilkan uang. Koleksi berharga dan bernilai tinggi, bergantung pada jenis, kondisi serta kualitas barang.

Koleksi bisa berupa barang lama yang sudah tidak diproduksi lagi, seperti barang antik bersejarah, relief candi, arca-arca, keris pusaka dan lain-lain. Barang lawas produksi lama tetapi masih diproduksi, seperti barang seni lukisan, patung, keramik, cindera mata, manik-manik, jam, boneka, mainan anak, gantungan kunci, asesori dan lain-lain. merupakan salah satu pilihan sebagai obyek koleksi. Umumnya yang dicari adalah barang lawas karena jumlahnya sudah terbatas sehingga bernilai tinggi.

Profesi apa yang dapat tercipta berkaitan dengan hobi koleksi?. Banyak macam diantaranya profesi sebagai perantara, pengepul, pedagang serta membuka galeri dan pelelangan barang koleksi. Perantara merupakan jembatan penghubung pemilik atau penjual dan peminat atau pembeli barang koleksi. Pengepul adalah penerima dan pembeli barang koleksi dari para perantara dan pemilik, sedang pedagang adalah penjual barang koleksi. Tidak jauh bedanya dengan pedagang adalah pemilik galeri dan pelelangan barang koleksi. Mengingat manfaat hobi koleksi, tidak ada salahnya kalau kegiatan tersebut dapat digalakkan kepada masyarakat umum, khususnya anak-anak, para pelajar, remaja, dan mahasiswa.

Hal ini dapat dimulai dari lingkup keluarga dengan membimbing dan mengarahkan kegemaran anak-anak mengoleksi barang-barang yang disukainya. Memberi petunjuk memilih barang yang berkualitas baik serta merawat dan menyimpan dengan tekun merupakan salah satu upaya pemupukan hobi koleksi anak-anak. Di sekolah mungkin hobi koleksi dapat dijadikan salah satu kegiatan ekstra kulikuler (ekskul).

Demikian juga di perkumpulan remaja seperti pramuka, karang taruna sampai ke universitas-universitas. Tidak hanya itu, kiranya hobi koleksi sudah waktunya untuk dimasyarakatkan, digalakkan dan dipopulerkan karena hal tersebut dapat dipakai sebagai salah satu solusi bagi penciptakan lapangan kerja misalnya memanfaatkan hobi koleksi sebagai profesi utama yaitu bisnis barang koleksi. Bagi yang ingin lebih mengetahui kiat-kiat agar bisnis barang koleksi sukses, insyaalah dalam waktu dekat akan terbit buku: “Sukses bisnis barang koleksi”.

Sumber : http://www.penulismuda.com/

Selasa, 08 November 2011

Mengoptimalkan Peran Social Media Bagi Bisnis

Tentunya sebagian besar kita sudah akrab dengan media sosial (social media) seperti halnya Facebook, twitter dan lain-lain. Sosial media memiliki banyak potensi besar bagi bisnis termasuk usaha kecil. Sayangnya, ada sedikit ketakutan bagi para pemilik usaha kecil berkaitan dengan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk sewa bandwidth pada media sosial. Namun jika kita bisa mengoptimalkan peran social media bagi bisnis kita, dengan menyeimbangkan ROI (Return Of Investment) maka ketakutan itu tidak perlu muncul. Social media bisa dimanfaatkan sebagai strategi marketing bagi bisnis kita.

Sesungguhnya, jika dibagi dari aspek fungsionak, social media memiliki dua hal yaitu:

* Marketing, social media dipergunakan sebagai media untuk marketing/pemasaran produk-produk anda. Sebagai tempat berkumpul baru bagi calon pelanggan social media memiliki potensi besar untuk memperkenalkan produk anda.

* Communication, Selain sebagai media pemasaran, social media berdifat interaktif sehingga calon pelanggan tidak hanya melihat iklan produk anda saja tetapi juga bertanya sampai terlibat dalam deal mempergunakan produk anda.

Melihat fungsi yang cukup potensial tersebut banyak hal bisa dilakukan pada social media. Jika deal sudah dilaksanakan, Social Media bisa dimanfaatkan untuk bercakap-cakap dengan pelanggan. Mengucapkan terimakasih telah menggunakan produk kita, sangat membantu pemasaran usaha.(Galeriukm).

Sumber : http://galeriukm.web.id/artikel-usaha/mengoptimalkan-peran-social-media-bagi-bisnis

Mengukur Efektivitas Pemasaran Interaktif

Sebelumnya, kita sendiri perlu mengetahui dasar-dasar mengelola, memelihara dan menjaga suatu website agar tetap menjadi sarana pemasaran yang akan selalu dilihat oleh para pengunjungnya. Hal yang paling penting dan paling utama ialah pemeliharaan, atau biasa disebut maintenance.

Proses maintenance ini termasuk di dalamnya ialah dari segi copy website, yakni konten, lay-out, dan segala yang tercantum di dalam website tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan review, dan proses koreksi dari review tersebut, lalu barulah di-publish sementara dalam kondisi masih bisa diubah-ubah, hingga sampai pada tahap akhir di mana publish-an sudah selesai di-test pasca publish sementara.

Hal-hal di atas ialah membicarakan soal maintenance website. Bagaimana dengan update dari konten itu sendiri? Tentu saja harus selalu di-update. Karena pengunjung tentunya tidak ingin datang ke suatu website mendapati dirinya hanya membaca informasi yang tidak berubah selama lima bulan terakhir.

Proses update hendaknya mencakup beberapa time series atau manajemen waktu update seperti di bawah ini:
* Jika ada kesalahan (error) harus diperbaiki tidak lebih dari 2 hari
* Setidaknya ada ’berita’ atau informasi yang baru tiap satu bulan sekali
* Informasi mengenai suatu produk jangan sampai statis (tidak berubah atau tidak dinamis) selama lebih dari dua bulan

Selanjutnya, masih lanjutan mengenai maintenance, diperlukan juga pembagian tanggung jawab mengenai siapa-siapa saja yang akan terlibat dalam pemeliharaan (maintenance) tersebut.

Siapakah yang memiliki website tersebut, bisa jadi merupakan gabungan dari tim marketing suatu perusahaan bersama dengan tim web developer yang bisa berasal dari agency periklanan maupun tenaga profesional IT. Merekalah yang memegang arahan ke mana website akan di bawa, sumber dan awal dari metode pemasaran interaktif melalui internet.

Kemudian, siapakah yang memiliki atau memegang bagian konten? Tentunya peranan seseorang yang dibebani tugas untuk meng-update konten website harus dibantu oleh berbagai divisi dari perusahaan tersebut. Konten mengenai informasi produk tentu saja harus selalu di-update oleh bagian produksi, kemudian konten mengenai informasi harga produk dari bagian bisnis, informasi mengenai hal-hal lain dari beberapa divisi dalam suatu perusahaan haruslah dikontribusikan. Sehingga si peng-update website-nya sendiri tinggal menyusun kalimat yang seragam untuk berbagai informasi yang ia terima dari rekan-rekan kerjanya di divisi lain.

Lalu, siapakah yang memegang bagian format website? Yaitu orang yang mengurusi desain dan tata letak dari website, dengan kata lain ialah sang web designer. Dan yang terakhir ialah masalah teknologi, siapa yang memegangnya alias mengurusi segala urusan teknis seperti HTML, kecepatan akses, dan segalanya, yang biasanya dibebankan kepada seorang webmaster. Dialah yang memantau segala kinerja website dari segi teknis.

Setelah proses maintenance atau pemeliharaan suatu website, dibutuhkan juga teknik pengukuran efektivitas pemasaran melalui media internet tersebut, seperti yang telah disebutkan sebelumnya pada bagian pembuka. Pengukuran ini dikenal dengan istilah ”metric”.

Ada beberapa pendekatan pengukuran atau metric yang perlu dicari dalam mengukur efektivitas suatu website. Pertama ialah metric dari efektivitas di segi bisnis, kemudian metric dari efektivitas di segi marketing atau pemasaran, dan yang terakhir ialah metric dari internet marketing itu sendiri.

Yang pertama, metric dari segi efektivitas bisnis, diukur dengan beberapa hal sebagai berikut:
- Kontribusi langsung secara online terhadap pendapatan
- Kontribusi tidak langsung secara online terhadap pendapatan
- Untung dari si website itu sendiri (bukan dari produknya, tapi penghasilan yang diperoleh dari website yang dibuat, harus bisa menutup biaya yang keluar untuk pembuatan website tersebut)
- Return on Investment atau ROI
- Dan berkurangnya biaya operasional

Selanjutnya, efektivitas dari segi marketing, yang bisa dinilai dari beberapa aspek seperti di bawah ini:
- Penjualan yang melebar yang disebabkan oleh si website
- Impact atau pengaruh terhadap tingkat permintaan pasar
- Kepuasan dari pelanggan baik dari yang menggunakan internet maupun yang tidak menggunakan internet
- Impact atau pengaruh terhadap kepuasan pelanggan yang membawa mereka ke arah loyalitas brand

Lalu, yang ketiga ialah mengukur efektivitas dari internet marketing itu sendiri, yaitu dari penggunaan si internet sebagai sarana pemasaran perusahaan.

Ada beberapa poin penting untuk diperhatikan, yaitu:
- Capture, seefektif apakah kita meng-attract pelanggan baik menggunakan metode promosi online maupun offline? Apakah website kita menggunakan banner, atau offline message dengan alamat URL yang jelas? Dan sebagainya.
- Content, seberapa baik si pelanggan memperoleh informasi dan seberapa mudah mereka mengikuti desain tata letak dari website tersebut? Di bagian ini juga termasuk adalah performa kecepatan akses dan availability
- Customer orientation, apakah konten sesuai dengan target audiens? Misalkan, spesifik pekerjaannya, spesifik industrinya, spesifik negaranya, dan lain-lain? Mudahkah mereka menemukan informasi di sana? Apakah selalu di-update?
- Community and interactivity, seberapa baikkah interaksi yang dibangun sehingga mempertemukan customer needs dengan segala hal yang ditawarkan?

Semua hal yang dibahas kali ini ialah menyangkut pemeliharaan dan pengukuran itu semua. Walaupun kemudian pada akhirnya, dikenallah sebuah layanan pengukuran web (webmetric dan webtrends) yang sangat membantu para pemasar interaktif untuk mengevaluasi dan mengukur efektivitas website mereka.

Sumber:
Modul Perkuliahan Media dan Pemasaran Interaktif, SAP 10
http://ibreakmoment.wordpress.com/2010/04/08/mengukur-efektivitas-pemasaran-interaktif/

Minggu, 06 November 2011

Kiat Sukses Pemasaran di Indonesia Tahun 2011: 9 Strategi Generik

Tahun 2011 adalah tahun cantik dalam sejarah. Jika diperhatikan dengan seksama, 2011 adalah tahun pertama di dekade kedua dalam milenium ketiga menurut kalender Masehi. Di Indonesia sendiri, 2011 akan tercatat dalam tonggak sejarah pemasaran. Pasalnya, perilaku konsumen akan berubah drastis menjadi lebih konsumtif baik karena didorong oleh semakin meningkatnya kesejahteraan (GDP per kapita mencapai USD 3000) maupun semakin banyaknya pendekatan pemasaran yang memicu konsumsi.Apa saja yang akan terjadi di tahun 2011 yang menarik bagi pemasar? Di MarkPlus, kami melihat Indonesia akan semakin merasakan tren 3C: semakin connected-nya masyarakat Indonesia karena dorongan teknologi, semakin credible-nya posisi Indonesia di dunia, dan semakin creative-nya pasar Indonesia. Di artikel ini, kami akan berfokus pada pergeseran pasar Indonesia menjadi semakin kreatif karena dominasi pasar urban, middle class, dan youth-women-netizen dan strategi generik yang dibutuhkan perusahan di tahun 2011. Pertama, simak tren perubahan pasar hasil pantauan MarkPlus Consulting berikut.


TREN PERUBAHAN PASAR

Urban Movement
Diestimasi di akhir tahun 2010, sudah separuh lebih penduduk Indonesia menghuni daerah urban. Ini menjadi titik balik dari kondisi dalam lima tahun terakhir di mana penduduk pedesaan masih sedikit lebih banyak dari penduduk perkotaan. Bahkan Badan Pusat Statistik (BPS) pernah memprediksi bahwa dengan tren sekarang, di tahun 2025 sekitar 68% penduduk akan bermukim di daerah perkotaan. Karena itu tidak berlebihan jika MarkPlus Consulting menyoroti tren urban movement di 2011.

Perpindahan menuju daerah perkotaan mempunyai banyak implikasi bagi psikografi dan perilaku konsumen. Pertama, pengeluaran konsumen cenderung akan meningkat karena biaya hidup dan pola konsumsi yang meningkat. Karena Social Economic Status (SES) dan posisi konsumen dalam piramida perekonomian di Indonesia ditentukan berdasarkan tingkat pengeluarannya, kita akan melihat perpindahan konsumen dari bawah piramida ke tingkat yang lebih tinggi.

Seperti apa gaya hidup masyarakat baru penghuni perkotaan?
Yang pasti, mereka mempunyai gaya hidup yang serba cepat. Karena itu mobilitas menjadi penting. Telepon genggam, kerap dengan mobile internet, wajib dibawa. Bahkan, urban consumer di tingkat teratas juga sering membawa gadget pelengkap seperti netbook atau tablet. Mereka biasanya mempunyai kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat tergantung daya belinya. Seringkali, mereka mengandalkan pembayaran dengan kartu kredit atau debit dan jarang sekali membawa uang tunai yang terlalu banyak. Karena mereka tinggal di perkotaan dengan begitu banyak penawaran pemasaran, mereka menjadi terbiasa memproses informasi dengan cepat, baik yang dibaca melalui televisi atau media lainnya. Karena itu, semakin sulit dicerna, semakin diabaikanlah konten dari suatu informasi.

Selain itu, gaya hidup dan fashion mereka sangat terpengaruh dunia luar. Area mal dan kafe luar ruang menjadi menarik karena ini menjadi sumber referensi mereka terhadap tren yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Terutama di Indonesia dan Asia pada umumnya, konsumen masih sangat tergantung pada opini publik. Semua yang terlihat menjadi tren akan menjadi tren yang sesungguhnya karena banyaknya konsumen yang mendukung.

Middle Class Emergence
Middle class boleh didefinisikan secara sederhana sebagai orang yang sudah berada di atas garis kemiskinan sehingga sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mereka tidak lagi berjuang untuk hidup dan sekitar sepertiga penghasilan mereka, menurut The Economist, adalah untuk discretionary spending atau pengeluaran non-wajib. Karena itu, mereka mampu membeli barang-barang kebutuhan non-pokok.

Menurut riset Asian Development Bank (ADB) di 80 negara, middle class secara umum lebih progresif pemikirannya dibandingkan lower class karena mereka mempunyai kesempatan untuk berpikir di luar pemenuhan kebutuhan pokok. Mereka cenderung lebih terbuka terhadap kompetisi di pasar, kesetaraan gender, peluang peningkatan pendapatan, aktivitas politik, dan teknologi. Karena mereka menyadari bahwa mungkin untuk naik ke SES yang lebih tinggi, secara umum mereka merupakan pekerja keras dan bahkan mempunyai jiwa kewirausahaan yang tinggi.

Data resmi BPS terakhir menunjukkan bahwa tahun 2009, ada sekitar 93 juta middle class di Indonesia atau 43% dari total penduduk Indonesia. Di tahun 2011, jumlahnya diprediksi meningkat 1-2 juta jiwa seiring tren semakin kecilnya penduduk di bawah garis kemiskinan. Mereka cenderung bekerja di sektor keuangan, jasa, perdagangan, dan manufaktur. Mereka jarang sekali bekerja di sektor pertanian dan konstruksi. Bahkan sepertiga dari mereka lulusan S1. Karena pemikirannya yang lebih terbuka dan daya belinya yang cukup besar, middle class Indonesia ini menjadi potensi pasar yang menarik di tahun 2011.

Jika ditelaah dari contoh-contoh kasus negara lain yang lebih dulu mengalami peningkatan jumlah middle class, implikasi dari tumbuhnya segmen pasar ini biasanya langsung terlihat dari penjualan consumer durables yang melonjak naik. Di Indonesia, consumer durables yang paling populer tentu saja adalah telepon genggam yang penetrasinya sudah mencapai sekitar 60%. Penjualan kendaraan bermotor juga akan meningkat. Seperti diprediksi sebelumnya, 825 ribu mobil and 8 juta motor akan terjual di tahun 2011. Selain itu, akan semakin banyak bermunculan wirausahawan-wirausahawan baru di berbagai sektor. Di sektor korporasi, akan semakin bermunculan inovasi-inovasi produk baru yang berusaha menjangkau segmen ini dengan harga yang sesuai dengan daya beli mereka. Karena segmen ini kebanyakan berpendidikan, tuntutan mereka terhadap pelayanan semakin besar. Secara keseluruhan, karena konsumsi segmen ini akan meningkat tajam, perekonomian Indonesia yang dimotori konsumsi akan semakin besar.

Akan tetapi, ada konsekuensi negatif dari berkembangnya segmen ini. Pertama, daya dukung lingkungan akan semakin terbatas mengingat penggunaan energi oleh segmen ini cukup besar. Umumnya, sebagai tren penyeimbang, akan bermunculanlah green technology seperti yang sebelumnya dibahas. Kedua, pada umumnya di negara yang tumbuh middle class-nya, masalah kesehatan seperti kegemukan mulai muncul. Ini karena gaya hidup segmen ini yang mulai menjurus tidak sehat layaknya seperti di negara-negara maju.

Youth-Women-Netizen Supremacy
Di awal tahun 2010, MarkPlus Consulting memprediksi munculnya tiga sub-culture baru: Youth, Women, Netizen. Sepanjang tahun, kami terus mengamati perilaku ketiganya melalui berbagai riset lapangan bekerja sama dengan MarkPlus Insight. Temuan kami semakin mengkonfirmasi pentingnya 3 sub-culture ini akan terus berlanjut di tahun 2011.

Sekitar 40% Youth—konsumen usia 14 sampai 35—lebih berani mencoba produk baru dan sekitar 60% menggunakan new media. Pemasar yang berniat menelurkan produk atau kampanye pemasaran baru di tahun 2011 wajib memperhatikan secara seksama Youth sub-culture. Segmen ini juga mempunyai kecenderungan untuk berkumpul dalam komunitasnya di antaranya dalam hal olahraga dan musik. Tidak seperti segmen lainnya, media yang paling sering diakses adalah internet. Penggunaan media internet oleh Youth bahkan mengalahkan penggunaan media televisi oleh konsumen pada umumnya. Selain idealis, segmen ini di Indonesia sangat berorientasi pada prestasi. Ini terlihat dari pola pikir mereka yang sangat takut gagal dalam sekolah dan karir.

Untuk segmen Women, kami menemukan bahwa lebih dari 80% segmen ini di Indonesia memegang kontrol keuangan rumah tangga. Women menentukan apakah harga sebuah produk terjangkau atau sesuai dengan kualitas atau malah terlalu mahal. Pemasar yang merencanakan penetapan harga baru di tahun 2011 mesti memeriksa persepsi Women terhadap harga tersebut. Seperti lazim diketahui, Women juga kerap menjadi pembuat keputusan untuk pembelian dalam rumah tangga karena kecenderungan mereka yang peduli tidak hanya terhadap dirinya sendiri tetapi juga terhadap keluarga. Sekitar 48% dari mereka membeli produk untuk suami dan 48% dari mereka juga membeli produk untuk orangtua mereka. Ada 35% yang membeli untuk anak-anak dan 20% untuk saudara laki-laki atau perempuannya.

Netizen yang didefinisikan sebagai konsumen yang aktif di dunia maya juga sangat penting peranannya dalam dunia pemasaran. Di Indonesia, saat ini 1 dari 3 keluarga di perkotaan mempunyai akses internet. Delapan dari 10 pengguna telepon genggam menggunakannya untuk internet. Sembilan dari 10 pengguna internet mempunyai Facebook account. Sekitar 40% Netizen membicarakan (mempromosikan atau mengkritik) produk-produk yang mereka ingin beli atau sedang gunakan di internet. Untuk bisa dibicarakan secara positif di dunia maya yang semakin menjadi sumber informasi konsumen, pemasar perlu mengawasi pembicaraan yang terjadi di antara Netizen.

Melihat dari karakteristik masing-masing sub-culture, jika komunitas konsumen diibaratkan sebagai sebuah perusahaan, Youth akan menjadi Chief Innovation Officer, Women akan menjadi Chief Financial Officer, dan Netizen akan menjadi Chief Marketing Officer. Sebagai tiga sub-culture yang paling berpengaruh setahun terakhir, mereka akan semakin penting bagi setiap pemasar di tahun 2011. Jika tahun 2010 adalah tahun youth-women-netizen emergence, tahun 2011 adalah tahun youth-women-netizen supremacy.

STRATEGI PEMASARAN GENERIK DI TAHUN 2011

Untuk bisa sukses memanfaatkan tren di 2011, pemasar sebaiknya menjalankan sembilan strategi generik.

Strategi #1: Fokus pada Youth, Women, dan Netizen Sub-Cultures
Untuk memenangkan persaingan memperebutkan ketiga sub-culture penting ini, pemasar perlu jeli memahami perilaku mereka. Karena Youth sangat terbuka terhadap new media, pemasar perlu “nyambung” dengan mereka melalui social media. Masuklah ke dalam komunitas mereka dan aktiflah memulai percakapan yang relevan dengan dunia mereka. Ciptakanlah kedekatan antara merek yang Anda miliki dengan hasrat dan kegelisahan mereka. Menurut hasil riset, kegelisahan mereka berpusat pada pencapaian prestasi dan ketakutan gagal baik di dunia sekolah maupun karir. Terakhir, beri mereka empowerment dan libatkanlah mereka dalam kegiatan pembuatan produk atau pemasaran produk Anda. Tumbuhkan kepercayaan diri mereka dan merek Anda akan menjadi merek pilihan.

Untuk menarik hati Women, kepercayaan adalah segalanya. Ingat bahwa mereka adalah pintu gerbang pemasaran kepada keluarga mereka. Karena mereka sangat peduli terhadap well-being keluarga, sangatlah penting menjaga kepercayaan mereka terhadap merek Anda. Tawarkan sesuatu yang bisa membuat mereka merasa aman dan nyaman meneruskan suatu merek Anda ke keluarga mereka. Eksklusivitas juga sangat penting bagi wanita. Tidak heran, mereka paling anti memakai baju yang sama dengan wanita lainnya. Tawarkan sesuatu yang eksklusif, mereka akan memilih merek Anda dibandingkan kompetitor. Selain itu, mereka adalah orang pertama yang mengikuti tren gaya hidup. Bantu mereka mengikuti tren dengan update rutin yang ada hubungannya dengan industri Anda, maka mereka akan merasa lebih dekat dengan Anda.

Netizen terkenal suka melakukan conversation di dunia maya. Pendekatan pemasaran yang akan membantu Anda memikat mereka di tahun 2011 adalah penciptaan jalur bagi mereka berinteraksi dengan merek Anda. Selain itu, buatlah satu forum atau jaringan sehingga mereka bisa berkomunikasi satu sama lain. Selain itu, Netizen terkenal sangat suka dengan gadget. Buatlah diri Anda mudah untuk diakses melalui gadget mereka baik telepon genggam, tablet, netbook, ataupun laptop. Membuat aplikasi yang menghubungkan Anda dengan mereka adalah kunci memenangkan pasar Netizen.

Strategi #2: Bersiaplah untuk digital interactivity
Teknologi hanya akan menjadi semakin murah di tahun-tahun mendatang. Pasar telepon genggam Indonesia yang dulu sangat senang dengan model candy-bar sekarang mulai beralih ke model QWERTY yang identik dengan smartphone. Telepon genggam murah yang “semi-smart” malah juga makin mengarah ke QWERTY. Walaupun banyak pengguna telepon genggam yang belum menyadari bahwa mereka menggunakan internet, mereka faktanya sudah mengakses facebook dan twitter yang notabene perlu akses internet. Ini menjadi indikasi semakin smart-nya pengguna telepon genggam di Indonesia dan semakin siapnya konsumen menerima interaksi berbasis teknologi.

Seiring dengan semakin terhubungnya konsumen melalui internet baik melalui telepon genggam dan komputer, kemampuan untuk bisa berinteraksi dengan merek atau perusahaan berpotensi menjadi diferensiasi yang kokoh. Di tahun 2011, interaksi screen-to-face akan semakin menggantikan interaksi face-to-face. Interaksi digital seperti ini sejatinya dibutuhkan untuk komunikasi pemasaran dan pelayanan konsumen yang “always on”.

Faktanya, Indonesia memiliki jumlah kedua terbanyak pengguna facebook dengan lebih dari 31 juta pengguna. Indonesia juga memiliki share of tweets ketiga terbesar di dunia dengan 12% share. Pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia tertinggi di Asia. Di Indonesia, gadget teranyar seperti tablet seringkali laku keras. Dikabarkan di 2011, tablet murah akan semakin banyak beredar seiring dengan munculnya sistem operasi Android 3.0 yang lebih “layak” untuk tablet.

Telkom kabarnya siap meluncurkan IPTV atau layanan televisi on-demand melalui jaringan internet broadband di awal tahun 2011 setelah uji coba di akhir tahun ini. Tidak seperti TV biasa, interaksi antara pihak yang menyiarkan konten dengan penonton bisa dilakukan 2 arah. Meski masih jauh untuk menjadi mainstream, tren mengarah ke sana seharusnya membangunkan dan menyadarkan para pemasar untuk mulai memikirkan interaksi digital dengan konsumen sambil menunggu infrastruktur siap.

Strategi #3: Promosikan urban lifestyle
Penduduk perkotaan cenderung dinamis sehingga segala macam gadget dan produk lain yang bisa memfasilitasi mereka hidup on-the-go akan menjadi incaran di tahun 2011. Tren menuju cashless society di mana orang tidak lagi terlalu banyak membawa uang tunai dan melakukan transaksi secara elektronik mungkin tidak terlalu lama lagi akan terealisasi. Bukan hanya kartu kredit dan debit atau contactless card yang menjadi mainstream, tetapi juga e-payment gateway yang sebentar lagi siap memfasilitasi transaksi online. Orang akan lebih banyak menggunakan telpon genggamnya untuk akses internet atau telpon demi pesan-antar produk yang diinginkan.

Konsumen perkotaan membelanjakan uangnya sebagian besar untuk tiga hal: fashion, entertainment, dan socialization. Karena itu, pemasar yang “membungkus” mereknya dengan kemasan ketiga elemen ini akan meraih sukses di 2011. Konsumen perkotaan sebagian besar juga ingin “terlihat” dengan sesuatu yang keren. Terkait dengan itu, konsumen perkotaan mempunyai kebiasaan mengikuti tren yang sedang hangat. Umumnya, mereka membaca tren tersebut dari observasi, media, atau mendengar dari teman-teman mereka. Dekatkan merek Anda dengan tren gaya hidup yang sedang berkembang atau bahkan ciptakan tren baru.

Meski orang kota sering dianggap individualis, mereka pada kenyataannya sangat peduli terhadap pendapat orang lain and suka berkumpul dengan kelompoknya. Kunci dari memenangkan konsumen perkotaan adalah dengan menciptakan persepsi populer. Jika merek Anda dipersepsi digunakan banyak orang, maka besar kemungkinan merek Anda akan benar-benar digunakan banyak orang.

Strategi #4: Gunakan konten dan konteks lokal
Tahun 2011, Indonesia akan diserbu banyak pemain luar. Pemain-pemain luar ini bahkan dengan cerdik berhasil menggandeng partner lokal agar sesuai dengan selera konsumen dan mempermudah akses. Jika pemain luar saja berusaha memperhatikan kelokalannya, mengapa pemain dalam negeri tidak memperkuat diri dengan konten dan kemasan pemasaran lokal? Selain lebih murah biayanya, elemen lokal juga mampu menjadi daya tarik.

Di tahun 2010, kita melihat bahwa batik menjadi mainstream setelah didorong perkembangannya dalam beberapa tahun terakhir. Nasionalitas menjadi bagian besar dari masuknya elemen lokal dalam produk dalam negeri. Ini bisa dianggap kesuksesan konten dan konteks lokal. Di tahun 2011, konten dan konteks lokal tidak lagi semata-mata kemasan melainkan bisa menjadi diferensiasi yang kuat. Gerakan menuju ke arah sana sudah mulai akhir-akhir ini. Merek telepon genggam produksi China, misalnya, diisi dengan konten lokal supaya membedakan dengan merek lain yang mungkin dari pabrikan yang sama. Ada yang diisi dengan lagu, permainan interaktif, dan lain-lain.

Indonesia sebagai negara yang kaya budaya menyimpan banyak konten dan konteks lokal yang belum terbayangkan oleh para pemasar. Cita rasa, aroma, musik, kartun, sapaan khas, budaya daerah, dan lain sebagainya, patut dieksplorasi untuk menciptakan diferensiasi yang kuat.

Strategi #5: Pertimbangkan channel mobility
Dinamisnya konsumen Indonesia memaksa munculnya channel gaya baru. Akhir-akhir, kita bahkan mulai melihat bagaimana konsumen berwirausaha dengan berjualan melalui facebook atau Blackberry Messenger Group. Tren ini bukan hanya tren kewirausahaan melalui internet melainkan gejala bahwa konsumen menginginkan channel yang lebih mobile terkait penyediaan produk dan layanan. Di negara berkembang yang pasarnya bergerak menjadi semakin kreatif, fenomena ini sudah biasa ditemui. India yang sudah duluan mengalaminya bisa dijadikan acuan. Awalnya, teknologi hanya menjadi konsumsi. Selanjutnya, konsumen mulai melihat peluang usaha dengan teknologi. Akhirnya, mereka menjadi terbiasa melakukan transaksi melalui channel yang berbasis teknologi.

Di tahun 2011 dengan rencana dibangunnya e-payment gateway, transaksi jual beli bisa menjadi semakin lancar. Saat ini, hanya sekitar 6% pengguna internet yang pernah melakukan transaksi online. Akan tetapi, angka ini diprediksi akan semakin besar di tahun 2011. Buktinya, pemain asing di dunia penjualan online pun tidak sungkan lagi menyerbu Indonesia. Rakuten.com, pemain e-commerce terbesar asal Jepang yang menjalin kerjasama dengan partner lokal siap diluncurkan di Indonesia tahun 2011. Gosipnya, ada juga produsen fast moving consumer goods yang juga siap membangun online store dengan didukung sebuah bank untuk e-payment gateway.

Strategi #6: Tawarkan affordable luxury
Pengalaman membuktikan trading up selalu muncul secara dominan di negara-negara dengan perkembangan populasi middle class yang pesat. Fenomena ini tercatat sebagai pola konsumen middle class yang sering membeli produk dengan harga yang lebih mahal karena aspirasi mereka. Mereka sering memotong pengeluaran yang sekadar fungsional hanya untuk membeli produk affordable luxury yang bagi mereka lebih penting. Syaratnya cuma satu: harganya terjangkau baik dengan pembelian eceran atau dengan fasilitas pembiayaan. Indonesia bukan pengecualian. Ini sejalan dengan saran Faisal Basri yang menyebut percuma pemasar Indonesia menarget pasar bawah dengan barang-barang murah yang fungsional karena yang ada di middle class justru “naik kelas” dalam pembeliannya. Lebih baik menawarkan affordable luxury. Bahkan affordable luxury tidak hanya menarik middle class ke atas tetapi juga menarik upper class ke bawah.

Mobil murah di bawah Rp 75 juta, misalnya, tidak ketinggalan akan turut meramaikan ranah pemasaran di perkotaan di 2011. Penghuni perkotaan yang baru berdatangan akan membutuhkan transportasi yang terjangkau. Kabarnya, partisipasi Toyota, Daihatsu, dan Suzuki merealisasikan mimpi pengguna mobil pertama kali ini sudah hampir pasti. Di atasnya, ada mobil-mobil mungil yang dibanderol antara Rp 110-120 juta seperti Toyota Etios atau Honda Brio yang mampu membuat konsumen perkotaan tampil gaya. Meski belum pasti akan masuk Indonesia, mobil-mobil ini siap jual di tahun 2011.

Strategi #7: Bangun identity personification
Tren lain yang semakin jelas sejak setahun terakhir adalah pergerakan menuju pembangunan merek dengan personifikasi yang lebih realistis. Dalam beberapa tahun terakhir, kampanye pemasaran seringkali penuh hiperbola dan terkesan dibuat-buat. Konsumen mulai merasa gerah dengan terlalu banyaknya komunikasi hiperbola yang diterimanya. Jika segala sesuatu mulai berlebihan, sesuatu yang pas menjadi sesuatu yang unik. Karenanya, beberapa agensi periklanan di Indonesia mulai beralih ke gaya iklan yang lebih realistis yang dianggap lebih efektif menarik konsumen di tahun 2011. Di media televisi, kita semakin melihat program yang mengedepankan realitas mulai mengimbangi tayangan yang hiperbola. Ini juga sinyal akan semakin pentingnya otentisitas.

Langkah ini merupakan langkah awal membangun merek yang berkarakter. Ini juga sisi lain dari kiat pemasaran di tahun 2011. Meski pemasar harus menawarkan konsep yang penuh dengan aspirasi dan gaya hidup baru kepada middle class dan urbanite baru, konsep tersebut harus tetap menjunjung tinggi idealisme dan menghindari rekayasa agar bisa bertahan lama. Idealisme di sini berarti, misalnya, jika kita menawarkan affordable luxury, memang produk yang kita hasilkan berkualitas tinggi dan kita berusaha yang terbaik agar banyak orang mampu secara finansial membeli produk tersebut.

Strategi #8: Lakukan proactive engagement
Konsep customer service akan tergantikan oleh konsep customer care di 2011. Pelayanan yang hanya reaktif terhadap komplain tidak lagi dapat membendung diskusi negatif tentang merek Anda. Ingat bahwa konsumen urban dan middle class lebih punya ekspektasi tinggi terhadap pelayanan. Lebih lagi, konsumen yang bersinar di 2011, youth-women-netizen, saling terhubung satu sama lain melalui komunitas. Pembicaraan negatif akan sampai ke telinga mereka dengan cepat. Pendekatan yang lebih cocok adalah care yang lebih proaktif dengan mencari tahu kegelisahan dan hasrat konsumen sebelum mereka kecewa. Pendekatan ini juga lebih tidak buru-buru dalam menyelesaikan masalah karena pemasar diharapkan meluangkan waktu untuk mendengarkan dan merangkul konsumen.

Pendekatan yang seperti ini jika dilakukan dengan sumber daya manusia saja memang sangat sulit dan mahal. Makanya, strategi ini patut digabungkan dengan digital interactivity yang siap memfasilitasi hubungan dua arah dengan konsumen. Di perbankan sendiri, bank-bank di Indonesia sedang bergerak dari transactional banking ke arah relationship banking yang lebih proaktif. Pastinya, di tahun 2011, peta persaingan akan ditentukan oleh siapa yang lebih proaktif dalam menjaga hubungan dengan nasabahnya mengingat sebagian besar nasabah menggunakan lebih dari satu bank dalam hal transaksi.

Strategi #9: Manfaatkan shared resources
Mengapa tiba-tiba pemanfaatan sumber daya secara optimal menjadi penting di tahun 2011? Belajar dari pengalaman negara-negara yang mengalami pertumbuhan tinggi secara konstan seperti Indonesia, tren seperti urbanisasi dan peningkatan middle class selalu menyimpan tantangan tersendiri. Umumnya, tantangannya terkait masalah sumber daya yang belum siap mendukung tren tersebut. Konkretnya secara makro, penjualan mobil yang semakin besar, misalnya, akan perlu infrastruktur jalan yang lebih mendukung. Di perusahaan, langkah melayani pasar yang lebih besar akan memaksa perusahaan untuk terus tumbuh dalam hal sumber daya. Perusahaan yang tumbuh tidak efisien biasanya meninggalkan masalah jangka panjang.

Secara internal, perusahaan harus mampu membangun sinergi antara unit bisnis dan menghilangkan silo-silo antar divisi jika ingin mempersiapkan diri bersaing di 2011-2015 menjelang integrasi ASEAN. Secara eksternal, shared resources berarti co-opetition antar perusahaan, yang akan semakin penting di 2011. Jika perusahaan ingin mengoptimalkan manfaat yang didapat dari perekonomian Indonesia yang tumbuh, kolaborasi menjadi keharusan. Cara efektif adalah dengan membuat platform baik aset infrastruktur yang dapat digunakan bersama oleh berbagai perusahaan di satu industri atau dengan membangun standar industri. Ambil contoh bank-bank syariah yang berencana di 2011 untuk bekerja sama satu sama lain dan bahkan berkolaborasi dengan bank-bank konvensional dalam memasarkan produk-produk mereka dengan diinspirasi petunjuk dan anjuran dari Bank Indonesia.

Meski sembilan strategi generik ini disusun secara keseluruhan dan berhubungan satu sama lain, Anda harus membuat keputusan strategi mana yang cocok digunakan di industri Anda dan bagaimana menyesuaikannya ke dalam situasi yang Anda hadapi.

Sumber : http://adproindonesia.wordpress.com/2011/03/01/kiat-sukses-pemasaran-di-indonesia-tahun-2011-9-strategi-generik/

Social Media Meningkatkan Pemasaran Usaha Kecil

Social Media seperti Facebook, Twitter dan lain-lain menjadi media paling fenomenal saat ini. Jangkauan pengguna media ini meliputi banyak segmen kehidupan masyarakat. Keuntungan bisnis social media tidak hanya dinikmati oleh pengelolanya namun dirasakan oleh banyak pengguna. Dari mulai keuntungan yang sifatnya sekedar bertemu dengan kawan-kawan lama hingga melejitnya bisnis gara-gara memanfatkan media yang satu ini. Dalam dunia bisnis tidak hanya perusahaan besar saja yang menikmati manisnya social media, bisnis usaha kecil (UKM) banyak diuntungkan karena bisa memanfaatkan social media.

Salah satu pelaku bisnis online yang berjualan produk dari kain perca menuturkan, pemesanan melalui facebook jauh lebih banyak dibandingkan melalui meski toko online yang telah lebih dulu dirintisnya. Sumbangan social media bagi pemasaran produk usaha kecil cukup besar.

Media social menawarkan suasana emosional antara pembeli dan penjual. Tidak hanya informasi yang diperoleh secara lengkap namun juga terjalin kepercayaan yang cukup kuat.

Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa social media telah meningkatkan kinerja dari bisnis dan 90 persen responden menganggap social media penting untuk bisnis mereka. Manfaat utama yang diperoleh dari social media adalah brand awareness.

Dari penelitian tersebut, manfaat lain yang diperoleh responden dari social media bagi UKM adalah:
* Meningkatkan Traffic – 72 persen
* Peningkatan Pencarian Peringkat – 62 persen
* Kemitraan Baru – 59 persen
* Peningkatan Penjualan – 48 persen
* Pengurangan Biaya Pemasaran – 59 persen untuk wiraswasta persen, 58 untuk UKM
* Dua kali lebih mungkin untuk menemukan prospek yang berkualitas

Melalui media sosial dan alat seperti Twitter, Facebook dan blogging dia mampu menjangkau dan membangun kesadaran tidak seperti sebelumnya.

Meski social media menjadi wahana untuk meningkatkan pemasaran usaha kecil, ada prasarat yang harus dipenuhi bagi marketing. Setiap marketing harus selalu intensif melakukan monitoring aktivitas di social media. Tidak mengenal waktu dan jam kerja. Kehidupan social media selalu up to date. Maka anda harus stand by di social media jika ingin sukses.(Galeriukm).

Sumber : http://galeriukm.web.id/teknologi/social-media-meningkatkan-pemasaran-usaha-kecil